TOBOALI, BABEL NEWS - Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan mencatat adanya lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sebesar 63,65 persen dalam dua bulan terakhir. Peningkatan kasus ISPA terjadi seiring kondisi cuaca yang cenderung ekstrem pada musim kemarau.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Bangka Selatan, Slamet Wahidin mengatakan, berdasarkan pencatatan pada 10 puskesmas, kasus ISPA pada Juni tercatat sebanyak 619 kasus dan meningkat menjadi 1.013 kasus pada Juli 2026. Artinya, terjadi penambahan 394 kasus hanya dalam kurun waktu satu bulan.
"Kalau melihat dari dua bulan ini, bulan Juni dan bulan Juli, itu ada peningkatan 63,65 persen kasus ISPA di Bangka Selatan," kata Slamet Wahidin, Senin (31/8).
Adapun lonjakan kasus paling banyak tercatat di wilayah kerja Puskesmas Toboali yang sekaligus menjadi penyumbang kasus ISPA tertinggi selama dua bulan tersebut. Kasus di Puskesmas Toboali meningkat dari 190 kasus pada Juni menjadi 331 kasus pada Juli atau naik 74,21 persen, sedangkan Puskesmas Rias naik dari 126 menjadi 188 kasus atau 49,21 persen. Puskesmas Airgegas juga meningkat dari 74 menjadi 127 kasus atau 71,62 persen, sementara Puskesmas Simpang Rimba justru turun dari 91 menjadi 68 kasus atau 25,27 persen.
Peningkatan kasus juga terjadi di enam Puskesmas lainnya. Puskesmas Batu Betumpang naik dari 48 menjadi 71 kasus atau 47,92 persen, Puskesmas Payung dari 42 menjadi 89 kasus atau 111,90 persen, sedangkan Puskesmas Airbara meningkat dari 28 menjadi 52 kasus atau 85,71 persen. Puskesmas Tiram mencatat lonjakan paling tinggi secara persentase, yakni dari dua menjadi 61 kasus atau 2.950 persen, disusul Puskesmas Tanjung Labu dari enam menjadi 11 kasus atau 83,33 persen dan Pongok dari 12 menjadi 15 kasus atau 25 persen.
"Karena di musim kemarau itu biasanya suhunya tinggi, jadi udaranya tidak lembap sehingga debu-debu itu mudah berterbangan. ISPA bisa diperburuk dengan keadaan situasi udara kita, apakah bentuknya polusi, misalnya seperti kebakaran hutan," jelas Slamet Wahidin.
Mengingat musim kemarau masih berlangsung, Slamet Wahidin mengimbau masyarakat lebih waspada terhadap paparan debu dan asap selama musim kemarau. Masyarakat terutama diminta menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan saat angin kencang membawa debu atau ketika udara terpapar asap akibat karhutla maupun sumber lainnya.
Langkah tersebut penting untuk mengurangi paparan langsung terhadap saluran pernapasan di tengah kondisi cuaca yang kering. "Kami mengimbau kepada masyarakat, ketika musim kemarau seperti ini untuk menggunakan masker bila berada di luar ruangan," pungkas Slamet Wahidin. (u1)
Didominasi Usia Balita
KASUS infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Bangka Selatan, meningkat pada seluruh kelompok usia sepanjang Juni hingga Juli 2026. Kenaikan paling mencolok terjadi pada kelompok remaja yang jumlah kasusnya melonjak lebih dari dua kali lipat dalam sebulan. Di tengah peningkatan tersebut, balita masih menjadi kelompok dengan jumlah penderita ISPA terbanyak.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Bangka Selatan, Slamet Wahidin, mengatakan peningkatan kasus terjadi merata pada kelompok usia remaja, anak, balita, lansia hingga dewasa. Kelompok remaja mencatat kenaikan persentase tertinggi, yakni 126,76 persen dari 71 kasus pada Juni menjadi 161 kasus pada Juli atau bertambah 90 kasus. Kelompok anak berada di posisi berikutnya dengan kenaikan 103,85 persen dari 104 menjadi 212 kasus atau bertambah 108 kasus.
"Berdasarkan kelompok usia, peningkatan penderita ISPA dari bulan Juni ke Juli 2026 terjadi di seluruh rentang usia," kata Slamet Wahidin, Senin (31/8).
Meski persentase kenaikan tertinggi terjadi pada remaja, kelompok anak mencatat penambahan kasus terbesar secara nominal di antara kelompok usia muda. Jumlah kasus pada anak bertambah 108 kasus, sedangkan balita bertambah 105 kasus dalam periode yang sama. Balita tetap menjadi kelompok dengan jumlah penderita terbanyak, meski persentase kenaikannya berada di bawah remaja dan anak.
Pada kelompok balita, kasus ISPA meningkat 47,73 persen dari 220 kasus pada Juni menjadi 325 kasus pada Juli atau bertambah 105 kasus. Sementara itu, kasus pada lansia naik 55,32 persen dari 47 menjadi 73 kasus atau bertambah 26 kasus. Kelompok dewasa mencatat kenaikan persentase terendah, yakni 36,72 persen dari 177 kasus menjadi 242 kasus atau bertambah 65 kasus.
"Adapun kenaikan persentase terendah tercatat pada kelompok usia dewasa sebesar 36,72 persen," beber Slamet Wahidin. (u1)