TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Menteri Perekonomian Kabinet Bayangan, Media Wahyudi Askar, menegaskan bahwa bangsa ini memerlukan figur pemimpin cerdas berbasis data saat menjadi pemateri dalam Konferensi Republik.
Konferensi Republik bertajuk "Menata Republik Konstitusional Sebenarnya" diselenggarakan di Aula Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Andalas (Unand), Padang, Senin (31/8/2026).
Acara ini dihadiri oleh jajaran akademisi, pakar hukum tata negara, aktivis masyarakat sipil, jurnalis hingga deretan tokoh yang tergabung dalam gerakan 'Kabinet Bayangan'.
Salah satu pemateri yang mencuri perhatian dalam forum ilmiah tersebut adalah Media Wahyudi Askar, yang didapuk sebagai Menteri Perekonomian dalam Kabinet Bayangan.
Dalam penyampaiannya, Media Wahyudi Askar mengaku sangat menyambut baik ruang diskusi yang mempertemukan berbagai elemen bangsa tersebut.
Baca juga: Detik-detik Aksi Pencuri Kabel Tower di Payakumbuh Terungkap, Kabur Saat Didatangi Warga
Media mengungkapkan rasa senangnya dapat hadir dan bertukar pikiran dengan para akademisi, profesor, serta kelompok muda yang visioner. Menurutnya, perbincangan dalam Konferensi Republik tersebut sangat berbobot dan bernilai tinggi.
"Senang sekali bertemu dengan orang baik, komprehensif, dan visioner untuk meimajinasikan Indonesia ke depan. Ada anak muda, profesor, dan obrolan hari ini 'daging' semua," kata Media Wahyudi Askar di Padang, Senin (31/8/2026).
Ia menjelaskan bahwa pembahasan utama dalam sesi tersebut berfokus pada arah bangsa ke depan, khususnya mengenai pengelolaan tata kelola institusi dan ekonomi nasional.
Selain itu, gaya kepemimpinan Indonesia di masa mendatang juga menjadi poin krusial yang dibedah bersama para pemateri lainnya.
Di hadapan para peserta, Media menyampaikan materi mendasar terkait krisis kriteria kepemimpinan yang sedang dihadapi oleh bangsa saat ini.
Baca juga: Update Kasus Dugaan Asusila Dua PNS Pemprov Sumbar, Sekda: Diberhentikan Sementara dari Jabatannya
Ia menilai, Indonesia saat ini tidak hanya membutuhkan sosok pemimpin yang kuat secara politik, tetapi juga pemimpin yang memiliki kecerdasan intelektual dan berbasis data.
"Tadi saya sebagai pemateri menyampaikan hal yang sederhana, bahwa yang hilang hari ini itu bukan hanya soal pemimpin yang kuat, tapi pemimpin yang cerdas," tegasnya.
Menurutnya, pemimpin ideal harus memiliki kemampuan dalam membaca keadaan secara akurat serta berani mendasarkan keputusannya pada data yang sahih.
Lebih lanjut, Media menekankan pentingnya keterlibatan kalangan akademisi dan teknokrat dalam setiap perumusan kebijakan publik.
Ia mengingatkan agar para pemegang kekuasaan tidak membuat kebijakan secara asal-asalan tanpa mempertimbangkan kajian ilmiah.
Baca juga: Buntut Video Dugaan Amoral, Pemprov Sumbar Periksa Dua ASN pada 4 September 2026
"Pemimpin yang percaya pada akademisi, teknokrat, hingga kebijakan yang dilahirkan betul-betul kebijakan yang kuat, tidak asal bicara saja dan berdampak bagi masyarakat," jelas Media.
Kemitraan antara pengambil kebijakan dan peneliti dinilai menjadi kunci utama dalam melahirkan regulasi yang tepat sasaran.
Di tengah antusiasme diskusi, Media Wahyudi Askar tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya atas ketidakhadiran Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi, dalam forum ilmiah tersebut.
Media mengaku telah menempuh perjalanan jauh hingga ribuan kilometer menuju kampung halamannya dengan harapan bisa berdialog langsung dengan sang gubernur.
"Sayang sekali Pak Gubernur tidak hadir, saya datang ribuan kilometer ke kampung halaman berharap bertemu Pak Gubernur," ungkapnya penuh penyesalan.
Ketidakhadiran Gubernur Sumbar membuat sesi tanggapan terkait potensi pemikir daerah di panggung nasional berlangsung tanpa pemaparan resmi dari Pemerintah Provinsi.
Baca juga: Massa Tebar Kol Busuk di Kantor Gubernur Sumbar, Desak Pejabat Terlibat Video Amoral Dipecat
Melihat ruang dialog yang kosong antara Pemprov dan akademisi, Media lantas memberikan sentilan terbuka kepada Gubernur Sumbar.
Ia menilai seorang kepala daerah seharusnya rajin merangkul dan berdiskusi dengan para peneliti serta akademisi yang membawa suara masa depan.
"Harusnya Pak Gubernur sering bertemu akademisi dan peneliti yang punya banyak suara ke depan terkait Indonesia, khususnya Sumbar ya," tuturnya.
Ia mengkhawatirkan jika komunikasi tidak terbangun, pembangunan di daerah akan mengalami jalan buntu.
"Karna diskusi tidak terjadi antara gubernur, pemuda, atau akademisi, maka akan kebuntuan. Ayolah Pak, jangan berjalan-jalan sendiri," imbaunya.
Baca juga: Buntut Video Amoral, Massa Demo Kantor Gubernur Sumbar Minta Pejabat Terlibat Dipecat Tidak Hormat
Tak lupa, Media memberikan pesan khusus kepada generasi muda yang hadir memadati Aula Pascasarjana FH Unand.
Ia menegaskan bahwa pemuda adalah tumpuan dan harapan utama bagi kemajuan bangsa di masa mendatang.
Untuk itu, sinergi dan kolaborasi antar elemen pemuda sangat dibutuhkan agar mampu membawa perubahan nyata.
"Pesan bagi pemuda, pemuda harapan bangsa, kita harus berkoalisi karna harapan ke depan," tutup Media Wahyudi Askar.
Meski tanpa kehadiran Gubernur Mahyeldi, forum diskusi yang digagas oleh mahasiswa FH Unand ini tetap berlangsung dinamis.
Panggung presidium dipimpin oleh pakar hukum tata negara Feri Amsari, yang didampingi oleh Peneliti Perludem Fadli Ramadhanil serta Direktur Eksekutif Perludem Khoirunnisa Nur Agustyati.
Baca juga: Konferensi Republik Digelar di Padang, Feri Amsari Pastikan Lanjut ke Daerah Lain
Sejumlah tokoh nasional turut menyampaikan pokok pikiran mereka, seperti mantan Menteri ESDM Sudirman Said dan akademisi Bivitri Susanti.
Sudirman Said menyoroti penataan alternatif pemimpin politik baru bertaraf etika tinggi, sedangkan Bivitri Susanti memaparkan peranan perempuan dalam menyelesaikan sengkarut kepemimpinan nasional.
Materi Bivitri juga mendapat tanggapan hangat dari pengamat sosial dan aktivis perempuan Yefri Heriani, yang menyoroti stigma perempuan yang kerap diabaikan.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Kabinet Bayangan, Feri Amsari, menjelaskan bahwa Konferensi Republik ini merupakan rangkaian konsolidasi nasional yang akan terus berlanjut ke berbagai daerah di Indonesia.
Sebelum digelar di Padang, kegiatan serupa telah dilaksanakan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada 30 Mei 2026.
Baca juga: Polres Payakumbuh Bongkar Jaringan Narkoba hingga Pemasok Utama, 6 Orang Diamankan
Setelah itu, konsolidasi dilanjutkan secara daring setelah rencana agenda luring di Kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba pada 28 Juni 2026 mendapat pembatalan mendadak dari pihak kampus.
Feri berseloroh bahwa Padang dipilih karena menjadi salah satu daerah yang sangat terbuka untuk diajak bernegosiasi dalam menggelar ruang diskusi publik.
Tujuan utama dari rangkaian konferensi ini adalah untuk menata kembali amanat konstitusi dan menjunjung tinggi keberadaan ruang sipil yang berdaulat. (*)