Roxaline Sih Tanwinilang bisa bernapas lega setelah meraih gelar sarjana dari Program Studi Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Tak hanya itu, dia juga dinobatkan sebagai wisudawan termuda.
Wilang, panggilan akrabnya, berhasil menyelesaikan studi di usia 19 tahun 9 bulan 20 hari. Sementara itu, rata-rata usia 3.193 lulusan program sarjana adalah 22 tahun 6 bulan 15 hari.
Menjadi lulusan atau peserta didik termuda bukanlah hal baru bagi Wilang. Ia mengaku memulai sekolah di usia yang relatif muda di banding rekan-rekannya dan mengikuti kelas percepatan.
"Saya masuk SD usianya belum genap lima tahun. Saya juga menyelesaikan kelas 4 dan 5 dalam satu tahun berdasarkan rekomendasi guru," katanya dalam laman UGM, Senin (31/8/2026).
Usia yang lebih muda tidak menjadi hambatan berarti selama menempuh pendidikan di UGM. Meski sesekali mendapat candaan dari teman-temannya, tetapi Wilang tidak pernah merasa diremehkan dalam lingkungan akademik.
"Teman-teman saya selalu panggil saya orang termuda di dunia, tapi itu cuma percandaan," kenangnya.
Tantangan Selama Sekolah
Wilang mengaku tantangan yang ia temui bukan di bangku kuliah, tapi di bangku sekolah. Saat menjadi seorang siswa, Wilang sering terhambat mengikuti aktivitas di luar sekolah karena tidak memenuhi persyaratan umur.
Salah satunya ketikaWilang ingin mendaftar beasiswa sekolah menengah atas di luar negeri saat masih berusia 12 tahun, sedangkan usia minimal pendaftar adalah 15 tahun. Kendati demikian, cita-citaWilang untuk belajar di luar negeri tercapai di UGM.
Kesempatan Studi di Jepang
Pada semester lima hingga enam, Wilang mengikuti program pertukaran pelajar selama satu tahun di Faculty of Agriculture, Yamagata University, Jepang. Di sana, Wilang melakukan penelitian di sebuah laboratorium bernama Laboratory of Forest Products dengan mengkaji tanaman Phellodendron amurense Rupr., atau yang dikenal sebagai Amur cork tree. Tanaman tersebut telah digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok dan Jepang.
Penelitian Wilang dituangkan dalam skripsi berjudul "Profil Metabolit Sekunder dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kulit Batang dan Daun Phellodendron amurense Rupr." yang berfokus pada identifikasi metabolit sekunder pada ekstrak kulit batang dan daun. Proses penelitian tersebut diselesaikan Wilang ketika berada di Jepang.
Tamatkan Studi di Indonesia
Setelah kembali ke Indonesia,Wilang baru melanjutkan proses penulisan skripsi. Ia mengaku banyak mendapatkan dukungan dalam mengerjakan tugas akademik, berdiskusi, hingga mempersiapkan ujian dari teman-teman angkatannya.
Wilang juga mengapresiasi dukungan dari dosen, pimpinan, serta tenaga kependidikan Fakultas Biologi UGM. Dukungan tersebut sangat ia rasakan dalam berbagai urusan akademik selama mengikuti pertukaran pelajar.
"Saya sangat menghargai dukungan dari dosen dan tenaga kependidikan Fakultas Biologi. Dari berangkat, selama di Jepang, sampai pulang, semuanya didukung," tuturnya.
Wilang menilai mahasiswa perlu aktif mencari berbagai kesempatan yang tersedia selama kuliah. UGM memiliki banyak program, beasiswa, pertukaran pelajar, maupun kegiatan lainnya yang bisa diikuti setiap mahasiswa.
"Emang kita harus lebih aktif. UGM sangat mendukung kalau kita mau menjadikan UGM sebagai salah satu langkah menuju keberhasilan," ujarnya.





