Shopee Jadi Jembatan UMKM di Desa-desa, Bawa Pangan Lokal Berdaulat di Negeri Sendiri
Rifatun Nadhiroh August 31, 2026 05:15 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Hanang Yuwono

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Di sebuah rumah di Maguwoharjo, Sleman, DI Yogyakarta, aroma khas kedelai memenuhi ruang produksi.

Di sana, biji-biji kedelai tidak sekadar diolah menjadi tempe. Kedelai lokal disulap menjadi tempe sehat kemasan, rendang tempe, keripik tempe, tempe bacem kalengan, tahu susu, hingga kit tempe instan yang memungkinkan konsumen membuat tempe sendiri di rumah.

Di tempat lain, di sebuah rumah di Dukuh Banjarsari, Lorog, Tawangsari, Sukoharjo, aroma jahe, kayu manis, serai, dan berbagai rempah Nusantara menyeruak dari dapur.

Dua tempat itu berjarak cukup jauh. Namun, keduanya memiliki satu kesamaan: sama-sama berusaha membuat pangan lokal memiliki nilai ekonomi dan pasar yang lebih luas di negeri sendiri.

Di baliknya ada sosok perempuan yang memilih jalan berbeda dari kebanyakan pelaku usaha.

Di Sleman, ada Nurhayati Nirmalasari (54), founder Attempe.

Perempuan yang akrab disapa Nungki itu sudah sejak 2015 mengembangkan bisnis tempe dan olahan kedelai dengan satu prinsip: bahan bakunya harus berasal dari petani lokal.

Sementara di Sukoharjo, ada Dewi Wahyuningsih, perintis Wedang Rempah 3 Putri.

Dari warisan keluarga sebagai peracik jamu, Dewi mengembangkan puluhan varian minuman rempah yang bahan bakunya banyak diserap dari petani lokal.

Keduanya memperlihatkan bahwa kedaulatan pangan tidak selalu dimulai dari industri besar.

Ia bisa dimulai dari dapur rumah. Dan di era digital, produk-produk tersebut memiliki kesempatan untuk menjangkau konsumen lebih jauh melalui marketplace seperti Shopee.

PRODUK ATTEMPE - Nungki membawa aneka macam produk Attempe di Jalan Kembang Raya No.181A, Maguwoharjo, Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Jumat (12/6/2026). Ini perjalanan inspiratif Attempe hingga bisa tembus pasar dunia.
PRODUK ATTEMPE - Nungki membawa aneka macam produk Attempe di Jalan Kembang Raya No.181A, Maguwoharjo, Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Jumat (12/6/2026). Ini perjalanan inspiratif Attempe hingga bisa tembus pasar dunia. (TribunSolo.com/Hanang Yuwono)

Nungki dan Perjuangan Membela Kedelai Lokal

Kisah Attempe bermula dari kegelisahan Nungki dan suaminya, Dr. Atris Suyantohadi, S.T.P., M.T., yang merupakan dosen senior di Departemen Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian UGM.

Atris merupakan peneliti kedelai yang banyak melakukan penelitian di Grobogan, daerah kelahirannya. Namun, berbagai ide tentang kedelai yang dimiliki sang suami tidak banyak teraktualisasi di sana.

Nungki dan suaminya kemudian mencoba mengimplementasikan ide tersebut di Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Jadi, kita memulai itu tahun 2015. Awalnya itu ya, Pak Atris suami saya itu kan dosen peneliti kedelai. Dia itu banyak melakukan penelitian kedelai itu di Grobogan, kota kelahirannya. Namun, banyak ide-idenya tentang kedelai yang tidak bisa teraktualisasi di sana," kata Nungki kepada TribunSolo.com, Jumat (12/6/2026).

Dari situlah Attempe lahir. Nama Attempe sendiri terinspirasi dari nama sang suami, Atris.

Namun, lebih dari sekadar merek, Nungki ingin bisnis tersebut menjadi kendaraan untuk memperkenalkan kembali kedelai lokal kepada masyarakat.

Sejak awal, dia dan suaminya sepakat tidak menggunakan kedelai impor sebagai bahan baku utama.

Mereka memilih bekerja sama dengan petani lokal dan perlahan melakukan pembinaan.

Kini petani binaan Attempe tersebar di sejumlah daerah di Jawa Tengah dan DIY.

"Kita sekarang konsentrasi full (petani lokal) di Grobogan, Sukoharjo, Klaten, Kulonprogo, Sragen, Boyolali," ujar Nungki.

Bagi Nungki, keputusan menggunakan kedelai lokal memang tidak selalu mudah.

Harga dan pasokan menjadi tantangan tersendiri karena kedelai merupakan komoditas yang sangat bergantung pada musim.

"Jadi petani kedelai itu hanya menanam satu kali dalam setahun. Tapi, tiap daerah berbeda. Misal Grobogan itu panennya akhir tahun sampai awal tahun," jelasnya.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat pasokan harus dikelola dengan cermat.

"Nanti panennya Juli-Agustus-September itu panen raya. Desember juga ada daerah yang panen, jadi kita aman sampai Desember-Maret terus ada pasokan," imbuhnya.

Sementara Mei-Juni menjadi periode yang cukup berat.

"Mei-Juni seperti saat ini itu musim pacekliknya kedelai karena faktor cuaca. Itu yang membuat harga kedelai melambung tinggi," katanya.

Namun, tantangan tersebut tidak membuat Nungki berpaling.

Dia justru meyakini kedelai lokal memiliki keunggulan yang layak diperkenalkan kepada konsumen.

"Kalau kedelai lokal itu jelas hasil petani kita dari varietas asli Indonesia. Entah varietas lama ataupun baru, misal varietas Anjasmoro, Burangrang, dan macam-macam lainnya. Kalau varietas Grobogan itu terbaik sekarang," ujarnya.

"Jadi, kalau kita mengonsumsi kedelai lokal itu pasti fresh."

Menurut Nungki, persoalan terbesar bukan pada kualitas kedelai lokal, melainkan keberpihakan terhadap produk tersebut.

"Pastinya kedelai lokal itu lebih sehat. Kalau dari segi kimiawi, proteinnya itu lebih tinggi kedelai lokal. Rasanya lebih enak, lebih gurih," katanya.

Ironisnya, konsumsi kedelai Indonesia masih sangat bergantung pada impor.

Berdasarkan data BPS yang disampaikan Nungki, Indonesia mengimpor sekitar 2,56 juta ton kedelai untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

"90 persen lebih bahkan, kedelai yang kita konsumsi sekitar 2 sekian juta ton setahun itu kita impor," ungkapnya.

Kondisi itu yang membuat Nungki merasa bisnisnya tidak boleh sekadar mengejar keuntungan.

"Tujuan kami itu tidak semata-mata mencari untung. Tetapi, kita itu lebih condong ke social entrepreneur," tegasnya.

"Tentu saja harus untung dan menghasilkan. Tetapi yang terpenting, kita bisa berdampak ke petani kedelai lokal."

PRODUK ATTEMPE - Aneka macam produk Attempe di Jalan Kembang Raya No.181A, Maguwoharjo, Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Jumat (12/6/2026). Ini perjalanan Attempe hingga bisa tembus pasar dunia.
PRODUK ATTEMPE - Aneka macam produk Attempe di Jalan Kembang Raya No.181A, Maguwoharjo, Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Jumat (12/6/2026). Ini perjalanan Attempe hingga bisa tembus pasar dunia. (TribunSolo.com/Hanang Yuwono)

Ketika Tempe Lokal Berhadapan dengan Mindset Makanan Murah

Perjuangan Attempe ternyata tidak berhenti pada urusan bahan baku. Masalah berikutnya justru muncul ketika Nungki mencoba menjual produknya kepada konsumen.

Tempe merupakan makanan yang sangat dekat dengan masyarakat Indonesia. Namun, kedekatan itu sekaligus menjadi tantangan.

Sebab, tempe sejak lama dianggap sebagai makanan murah.

"Bayangin, tempe itu life time-nya hanya dua hari. Kalau hari ketiga dia akan semangit. Nah, untuk memperlambat kita memasukkan ke chiller. Nah, menjual itu yang sulit," kata Nungki.

Belum lagi Attempe harus bersaing dengan tempe berbahan kedelai impor yang harganya lebih murah.

Nungki sempat mencoba pasar tradisional. Namun, hasilnya tidak sesuai harapan.

"Ternyata, orang selisih Rp500 saja tidak mau beli. Harga itu nomor satu," ungkapnya.

"Kita kalau ke pasar mau beli tempe, sudah membayangkan tempe itu rasanya ya kayak gitu. Mindset-nya tempe itu makanan murah."

Nungki kemudian menyadari bahwa pasar yang harus dibidik bukan sekadar konsumen yang mencari harga termurah.

Attempe mulai masuk pasar modern dan menyasar konsumen yang lebih memperhatikan kualitas pangan serta gaya hidup sehat.

"Dulu awalnya di Mirota, Superindo, Indogrosir, Carrefour, Alfamidi, semua kita stok. Alhamdulillah masuk semua," ujarnya.

PRODUK ATTEMPE - Proses pengepakan produk Attempe di Jalan Kembang Raya No.181A, Maguwoharjo, Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Jumat (12/6/2026). Ini perjalanan inspiratif Attempe hingga bisa tembus pasar dunia.
PRODUK ATTEMPE - Proses pengepakan produk Attempe di Jalan Kembang Raya No.181A, Maguwoharjo, Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Jumat (12/6/2026). Ini perjalanan inspiratif Attempe hingga bisa tembus pasar dunia. (TribunSolo.com/Hanang Yuwono)

Seiring perjalanan waktu, dia pun mulai menyeleksi pasar modern yang dianggap sesuai dengan karakter produk.

"Lama-lama kita seleksi, yang enggak menguntungkan ya enggak kita diteruskan," katanya.

Menurut Nungki, sistem konsinyasi cukup berat bagi produk makanan segar.

"Karena beberapa supermarket itu mereka maunya sistem consignment. Padahal itu berat banget untuk produk fresh food. Kalau tidak habis dikembalikan, padahal ongkos kita untuk transportasi saja enggak sepadan," tuturnya.

Digitalisasi kemudian menjadi salah satu pintu baru.

Produk yang memiliki masa simpan terbatas membutuhkan pemasaran yang lebih tepat sasaran. Sementara produk olahan seperti rendang tempe, keripik, maupun produk kedelai kemasan memiliki peluang menjangkau pasar lebih luas melalui marketplace.

Di sinilah platform digital seperti Shopee menjadi bagian dari ekosistem baru UMKM. Produk lokal tidak lagi sepenuhnya bergantung pada etalase toko fisik.

Konsumen dari luar daerah dapat menemukan produk yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan sekitar.

Produk-produk kedelai lokal Attempe kini sudah mejeng di Shopee dengan jenama Attempe Healthy Food.

Rating pelanggan pun tak main-main. Attempe Healthy Food memiliki rating 4,9 yang menandakan kepuasan pelanggan.

Produk-produk mereka sudah terjual hingga puluhan ribu, bukti jika olahan kedelai lokal dengan strategi pengemasan yang bagus dan positioning tepat bisa diterima masyarakat.

Pantauan TribunSolo.com pada Senin (31/8/2026), kacang kedelai lokal organik Attempe Healthy Food di Shopee bisa terjual lebih dari seribu kemasan per bulan.

Sementara itu, seorang karyawan yang bertugas mempacking produk Attempe untuk dipasarkan secara daring lewat Shopee, Rizki (20), mengatakan dirinya sudah ikut bekerja dengan Nungki selama 6 bulan ini.

Bekerja untuk Attempe, Rizki mendapatkan fasilitas mess, di samping gaji bulanan.

Rizki mengatakan dirinya cukup bahagia bekerja di Attempe, di samping pekerjaannya relatif mudah, dirinya juga mendapatkan pengalaman mengolah kedelai.

Setiap hari, Rizki mengemas sampai lima puluhan produk Attempe sebelum dikirim secara online. Harga produk Attempe mulai dari Rp16.000 sampai Rp43 ribu.

"Di sini itu yang paling laku kedelai lokal organik kemasan 500 gram. Biasanya jadi bahan baku susu kedelai," ucap Rizki.

Saban hari, ada kurir Shopee yang menjemput produk Attempe di depan pintu. Tanpa aba-aba kurir Shopee mengerti tugasnya, mereka memotret barang lalu pergi beranjak untuk mengirim produk.

Dari Rumah di Tawangsari, Rempah Menjelajah Nusantara

Kisah serupa terjadi di Sukoharjo. Di rumah produksi Wedang Rempah 3 Putri, empat perempuan setiap hari sibuk merajang dan meracik rempah.

Jahe, serai, jeruk nipis, pandan dan berbagai bahan lain dipersiapkan sebelum masuk proses produksi.

Sebagian besar rempah didatangkan dari Wonogiri. Sedangkan pandan dan serai diperoleh dari petani di sekitar Tawangsari.

Di balik usaha itu ada Dewi Wahyuningsih.  Dewi memulai bisnis pada 2019. Saat itu kondisinya tidak mudah. Sebelumnya, Dewi merupakan penjual jamu serbuk di Pasar Tawangsari.

Ketika terjadi perombakan pasar, penjualannya anjlok.

UMKM SUKOHARJO - Variasi produk-produk Wedang Rempah 3 Putri pada Selasa (26/5/2026) sore di Tawangsari, Sukoharjo, Jawa Tengah. Beginilah kisah Wedang Rempah 3 Putri yang inspiratif.
UMKM SUKOHARJO - Variasi produk-produk Wedang Rempah 3 Putri pada Selasa (26/5/2026) sore di Tawangsari, Sukoharjo, Jawa Tengah. Beginilah kisah Wedang Rempah 3 Putri yang inspiratif. (TribunSolo.com/Hanang Yuwono)

"Awal mulanya kan saya penjual jamu serbuk di Pasar Tawangsari. Waktu itu kan ada perombakan pasar, gara-gara itu penjualan sempat turun drastis sampai 80 persen," kata Dewi kepada TribunSolo.com, Selasa (26/5/2026).

Situasi tersebut memaksanya berpikir keras.

"Saya harus putar otak, bagaimana caranya bisa menghasilkan uang tanpa modal banyak. Karena waktu itu penghasilan sudah tidak ada, sedangkan kebutuhan tetap jalan, angsuran juga harus jalan," ujarnya.

Dewi sempat terpikir bekerja di pabrik. Namun, akhirnya dia memilih mempertahankan keterampilan yang sudah diwariskan keluarganya.

Dia mencoba membuat bir Mataram dan teh serai. Produk pertama hanya dibuat dalam jumlah kecil.

"Disetorkan satu pak, dua pak ke Pasar Gede. Dan itu pun tidak meminta bayaran, saya cuma barter. Saya setor wedang rempah, pulang bawa bahan," kenangnya.

Strategi sederhana tersebut ternyata membuahkan hasil.

"Satu bulan kok jalan, akhirnya tambah varian. Dari dua varian sekarang sudah jadi 35 varian," katanya.

Pandemi Covid-19 yang datang setahun setelah usaha dimulai justru menjadi momentum lain. Produk jamunya semakin dikenal. Kini produknya tidak hanya beredar di Solo Raya.

"Kalau saya setornya biasanya di Solo Raya bahkan sampai luar kota. Tapi, saya kan khusus memproduksi, biasanya ada orang yang ambil ke sini," kata Dewi.

Bahkan, produk Wedang Rempah 3 Putri sudah dikirim hingga luar Pulau Jawa lewat marketplace Shopee.

Konsumen bisa membeli aneka ramuan rempah Wedang Rempah 3 Putri melalui marketplace Shopee 3Putri_Official.

3Putri_Official baru memiliki 305 pengikut, namun punya rating cukup tinggi yakni 4,9.

Mereka mampu menjual produk hingga ratusan perbulan, dengan produk Wedang Uwuh bisa terjual sampai dua ribuan.

UMKM SUKOHARJO - Dewi Wahyuningsih saat ditemui di rumah produksi Wedang Rempah 3 Putri pada Selasa (26/5/2026) sore di Tawangsari, Sukoharjo, Jawa Tengah. Beginilah kisah Wedang Rempah 3 Putri yang inspiratif.
UMKM SUKOHARJO - Dewi Wahyuningsih saat ditemui di rumah produksi Wedang Rempah 3 Putri pada Selasa (26/5/2026) sore di Tawangsari, Sukoharjo, Jawa Tengah. Beginilah kisah Wedang Rempah 3 Putri yang inspiratif. (TribunSolo.com/Hanang Yuwono)

Rempah Lokal, Ibu Rumah Tangga, dan Lapangan Kerja

Bagi Dewi, Wedang Rempah 3 Putri bukan sekadar bisnis keluarga. Usaha tersebut juga menjadi ruang bagi perempuan di sekitar rumah untuk mendapatkan pekerjaan.

Nurul, misalnya. Sebelumnya dia merupakan ibu rumah tangga yang tinggal di Jakarta sebelum mengikuti suaminya ke Tawangsari.

Kini sudah dua tahun dia bekerja di tempat tersebut.

"Kerja di sini betah. Sudah dua tahun ikut ibu," kata Nurul.

Ketika ditanya bagaimana perasaannya bekerja di sana, jawabannya sederhana.

"Bahagia mas kerja di sini. Kelihatan kan wajah kami bahagia?" ujarnya sembari tertawa.

Di sampingnya ada Sri, pekerja paling senior yang sudah enam tahun bergabung.

Bagi mereka, pekerjaan tidak selalu harus identik dengan suasana serius.

"Kalau kami sedih atau enggak enak badan, tinggal bikin wedang jamu," celetuk Sri.

Di balik candaan tersebut terdapat aktivitas ekonomi yang nyata. Setiap hari, Dewi dibantu empat pekerja fokus memproduksi sekitar 100 pak produk.

Suaminya bertugas mengantar pesanan dan berbelanja kebutuhan produksi.

Sementara anak-anaknya membantu bagian pemasaran dan Shopee. Dewi juga tidak sekadar membeli bahan baku dari petani.

Dia memberikan edukasi kepada petani mengenai cara memperlakukan bahan agar kualitasnya tetap terjaga.

"Kalau seperti serai itu kami berkolaborasi dengan petani lokal. Jadi, petani itu kita ajari memotong, mencuci, pengeringan," jelasnya.

Bahan-bahan tersebut kemudian diproses dengan standar yang mereka tetapkan.

"Jadi di sini itu semua bahan dioven. Kami tidak menjual rempah mentah," ujarnya.

UMKM SUKOHARJO - Dewi Wahyuningsih pemilik Wedang Rempah 3 Putri memperlihatkan produk-produknya pada Selasa (26/5/2026) sore di Tawangsari, Sukoharjo, Jawa Tengah. Beginilah kisah Wedang Rempah 3 Putri yang inspiratif.
UMKM SUKOHARJO - Dewi Wahyuningsih pemilik Wedang Rempah 3 Putri memperlihatkan produk-produknya pada Selasa (26/5/2026) sore di Tawangsari, Sukoharjo, Jawa Tengah. Beginilah kisah Wedang Rempah 3 Putri yang inspiratif. (TribunSolo.com/Hanang Yuwono)

Marketplace Menjadi Jembatan Produk Lokal

Cerita Nungki dan Dewi menunjukkan bahwa tantangan UMKM hari ini bukan hanya soal produksi.

Produk yang bagus harus mampu menemukan konsumen. Karena itu, pemanfaatan media sosial dan marketplace menjadi semakin penting.

Dosen manajemen sekaligus praktisi UMKM Universitas Bojonegoro (UNIGORO), Rizqi Agustino, menilai pelaku usaha harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

"Harus, tidak ada alasan untuk tidak beradaptasi dan mulai implementasi penggunaan media sosial untuk bisnis," kata Rizqi.

Dia mengingatkan bahwa hasilnya tidak selalu instan.

"Memang pada 1-3 bulan awal tidak akan memberikan hasil signifikan, namun algoritma seluruh medsos membutuhkan konsistensi dan konten yang memiliki ciri khas," jelasnya.

Menurut Rizqi, kelebihan lain dari media sosial adalah tersedianya data yang bisa digunakan untuk evaluasi.

"Medsos juga memiliki dashboard khusus yang bisa memberikan data dan analisa kinerja, sehingga evaluasi akan lebih mudah dan terarah," ujarnya.

Marketplace seperti Shopee kemudian dapat menjadi kanal tambahan untuk mengubah perhatian konsumen menjadi transaksi.

Namun, Rizqi mengingatkan bahwa UMKM tidak bisa hanya mengandalkan promosi.

Ada tahapan yang harus dilewati agar usaha benar-benar naik kelas.

"Pertama harus di-assessment dulu. UMKM-nya ini sedang di kelas berapa," katanya.

Dari hasil tersebut, pendampingan baru dapat dilakukan sesuai kebutuhan.

"Mulai dari pembuatan merek, legalitas, packaging, tata kelola usaha, permodalan hingga bagaimana mendampingi mereka siap ekspor. Jadi ada tahapnya," jelas Rizqi.

Dia menilai pendekatan tersebut lebih efektif dibanding memberikan pelatihan yang sama kepada seluruh UMKM.

"Tidak melulu langsung mengadakan workshop/seminar bisnis. Bisa jadi tidak tepat sasaran," tambahnya.

SHOPEE - Tampilan lapak Attempe di marketplace website Shopee pada Senin (31/8/2026). Simak perjalanan Attempe dan Wedang Rempah 3 Putri yang bisa menjelajah Nusantara lewat Shopee.
SHOPEE - Tampilan lapak Attempe di marketplace website Shopee pada Senin (31/8/2026). Simak perjalanan Attempe dan Wedang Rempah 3 Putri yang bisa menjelajah Nusantara lewat Shopee. (TribunSolo.com/Hanang Yuwono)

Dari Petani, Masuk Rumah Produksi, Lalu Sampai ke Konsumen

Rantai panjang itulah yang sering kali tidak terlihat ketika konsumen membeli satu bungkus tempe atau sekotak wedang rempah melalui marketplace.

Ada petani yang menanam. Ada pekerja yang mengolah. Ada pelaku UMKM yang menjaga kualitas. Ada orang yang mengemas. Ada kurir yang mengirimkan.

Dan ada teknologi yang mempertemukan produk tersebut dengan konsumen.

Attempe kini mampu memproduksi sekitar 100 kilogram produk kedelai per hari.

Dari usaha tersebut, tujuh orang mendapatkan pekerjaan di rumah produksi Maguwoharjo.

Nungki pun terus memperluas dampak.

"Petani binaan itu banyak, kedelai lokal yang kita serap itu juga banyak. Akhirnya kita bisa jualan kedelai baik retail maupun tonase," katanya.

Bahkan, untuk kebutuhan tonase, Nungki telah memasok kedelai ke perusahaan multinasional melalui perusahaan di Bantul.

"Jumlahnya pun sudah ratusan ton," ujarnya.

Di sisi lain, Attempe juga menjalankan konsep zero waste dengan mengolah sisa produksi seperti kulit ari dan air rendaman agar tidak terbuang percuma.

Sementara, Dewi  terus mempertahankan penggunaan bahan alami dalam produk Wedang Rempah 3 Putri.

Kedua usaha itu memperlihatkan bahwa ketika produk lokal mendapatkan akses pasar, dampaknya tidak berhenti pada penjual. Ia mengalir ke petani dan pekerja.

BELANJA TANPA RIBET - Shopee kembali menarik perhatian publik dengan menghadirkan kampanye terbaru bertajuk Lebih Hemat Lebih Cepat. Kampanye ini menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat yang ingin belanja tanpa ribet, yang lebih cepat sampai tapi juga lebih hemat di kantong.
BELANJA TANPA RIBET - Shopee kembali menarik perhatian publik dengan menghadirkan kampanye terbaru bertajuk Lebih Hemat Lebih Cepat. Kampanye ini menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat yang ingin belanja tanpa ribet, yang lebih cepat sampai tapi juga lebih hemat di kantong. (Istimewa)

Shopee Dorong UMKM Lokal Tumbuh dan Bawa Produk Indonesia ke Pasar Lebih Luas

Perkembangan ekonomi digital dalam satu dekade terakhir membuka jalan baru bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk mengembangkan bisnis tanpa harus bergantung pada toko fisik maupun pasar di sekitar tempat tinggal.

Shopee menjadi salah satu platform yang ikut mendorong perubahan tersebut.

Sejak diluncurkan pada 2015, Shopee menyebut telah membantu jutaan penjual, khususnya UMKM, memanfaatkan ekosistem digital untuk memperluas pasar.

Selama satu dekade, UMKM telah mencatat penjualan lebih dari US$270 miliar secara global melalui Shopee.

Menariknya, sekitar 80 persen pelaku bisnis yang menggunakan Shopee beroperasi di luar ibu kota. Mereka memanfaatkan platform digital tersebut untuk menjangkau konsumen baru, baik di pasar domestik maupun wilayah lainnya.

Chief Operating Officer Shopee, Terence Pang, mengatakan satu dekade terakhir menjadi periode perubahan besar bagi ekonomi digital.

“Satu dekade terakhir telah menjadi masa penuh perubahan besar, dimana ekonomi digital telah membuka peluang baru bagi masyarakat dan pelaku usaha di berbagai wilayah. Kami sangat berterima kasih kepada komunitas penjual UMKM kami, termasuk penjual yang mengawali perjalanan online mereka bersama kami sejak sepuluh tahun lalu, dan terus bermitra dengan Shopee seiring dengan perkembangan bisnis mereka untuk mencapai kesuksesan yang lebih besar melalui e-commerce,” kata Terence Pang.

Transformasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan memperluas jangkauan konsumen. Pelaku UMKM juga dituntut mampu beradaptasi dengan cara baru dalam memasarkan produk.

Shopee menyediakan sejumlah fitur yang memungkinkan penjual berinteraksi langsung dengan calon pembeli, di antaranya Shopee Live dan Shopee Video.

Sejak fitur tersebut diluncurkan, penjual UMKM disebut mengalami rata-rata peningkatan pesanan lebih dari 300 persen setiap tahun melalui Shopee Live.

Fitur tersebut memberi kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk secara lebih interaktif sekaligus membangun komunikasi dengan konsumen.

Bagi UMKM yang belum memiliki tim pemasaran khusus, Shopee juga menghadirkan Shopee Affiliate Marketing Solutions (AMS).

Melalui program tersebut, penjual dapat bekerja sama dengan konten kreator maupun Key Opinion Leader (KOL) untuk memperkenalkan produk kepada audiens yang lebih luas.

Shopee menyebut program AMS telah berkontribusi terhadap peningkatan pesanan hingga 30 persen.

Hal ini menunjukkan bahwa digitalisasi tidak selalu membutuhkan strategi yang rumit.

Dengan memanfaatkan fitur yang tersedia dan memahami karakter konsumen, UMKM dapat membuka akses pasar yang sebelumnya sulit dijangkau.

Membuka Jalan Produk Lokal ke Pasar Global

Peluang tersebut tidak berhenti pada pasar dalam negeri.

Bagi pelaku UMKM yang ingin mengembangkan bisnis ke luar negeri, Shopee menyediakan Shopee Export Programme (SEP) atau Program Ekspor Shopee.

Program tersebut memungkinkan penjual mendaftarkan produk mereka untuk dipasarkan di sejumlah negara.

Sejak 2018, lebih dari 2,1 juta penjual UMKM di Asia Tenggara dan Taiwan disebut telah bergabung dalam program tersebut.

Bagi produk-produk lokal Indonesia, akses semacam ini membuka peluang baru.

Produk pangan, kerajinan, fesyen, hingga berbagai produk berbasis budaya lokal memiliki kesempatan untuk diperkenalkan kepada konsumen di negara lain.

Dengan demikian, marketplace bukan hanya menjadi tempat transaksi.

Platform digital juga dapat berfungsi sebagai jembatan antara produk lokal dan pasar yang lebih luas.

Digitalisasi dan Kedaulatan Produk Lokal

Fenomena tersebut menjadi semakin relevan bagi UMKM pangan yang selama ini mengandalkan bahan baku lokal.

Produk seperti tempe berbahan kedelai lokal maupun olahan rempah Nusantara tidak hanya memiliki nilai ekonomi.

Di belakangnya terdapat petani, pekerja, resep tradisional, hingga pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.

Ketika produk tersebut mampu dipasarkan secara digital, pasar bagi produk lokal ikut berkembang.

Konsumen di luar daerah dapat mengenal produk yang sebelumnya hanya tersedia di wilayah tertentu.

Pada titik inilah digitalisasi dapat menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat ekosistem pangan lokal.

Produk lokal tidak harus kalah hanya karena diproduksi oleh UMKM berskala kecil.

Dengan kualitas produk, kemasan, legalitas, pemasaran, serta akses pasar yang tepat, UMKM memiliki kesempatan untuk bersaing dengan produk yang lebih besar.

Perkembangan e-commerce juga tidak hanya berdampak kepada penjual.

Shopee menyebut pengguna di lebih dari 400 kota di Asia Tenggara dan Taiwan secara rutin berbelanja melalui aplikasinya. Lebih dari 140 miliar produk telah dibeli oleh pengguna yang tinggal di luar ibu kota.

Artinya, aktivitas perdagangan digital semakin mampu menjembatani jarak geografis. UMKM di daerah tidak harus berpindah ke kota besar untuk mendapatkan konsumen.

Begitu pula masyarakat di daerah tidak harus datang ke pusat perdagangan untuk mendapatkan produk tertentu. Ekosistem tersebut turut menciptakan peluang pendapatan baru.

Lebih dari 97 persen karyawan Shopee disebut merupakan talenta lokal. Sementara itu, lebih dari 23 juta afiliasi dan kreator telah bergabung dalam program Shopee Affiliate untuk memperoleh pendapatan tambahan.

Rata-rata total pendapatan afiliasi disebut tumbuh lebih dari 90 persen setiap tahun. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.