Kain Gandong 100 Meter Sambut Basudara Jemaat Gatik dari Belanda hingga Jawa, Tangis Pecah di Galala
Fandi Wattimena August 31, 2026 05:48 PM

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Kain putih sepanjang sekitar 100 meter dibentangkan di tengah jalan. 

Puluhan perempuan berdiri berjejer memegang kedua sisinya, menunggu rombongan yang datang dari jauh.

Begitu rombongan Jemaat GPM Galala-Hative Kecil (Gatik) tiba, kain itu perlahan membungkus mereka.

Diiringi lagu Gandong, suasana berubah haru. 

Beberapa warga terlihat menangis. 

Pelukan dan senyum bercampur menjadi satu.

Momen itu terjadi saat prosesi penjemputan Basudara Jamaat Gatik yang datang dari luar daerah, Minggu (30/8/2026), dalam rangkaian perayaan satu abad Jamaat GPM Galala-Hative Kecil yang jatuh nantinya pada 2 September 2026.

Kehadiran basudara yang selama bertahun-tahun hidup jauh dari Galala-Hative Kecil.

Rombongan mulai berkumpul di Jembatan Galala sekitar pukul 14.00 WIT. 

JEMAAT GATIK 2
1 ABAD JEMAAT GATIK - Proses Penjemputan Basudara Jemaat GPM Galala-Hative Kecil (Gatik), Kota Ambon, yang datang dari luar daerah dalam momentum perayaan 1 Abad Jemaat Galala-Hative Kecil pada Minggu (30/8/2026) dipimpin Raja Negeri Hative Kecil dan Kepala Desa Galala

Baca juga: Darurat Kebakaran, Dinas Damkar SBT Minim Fasilitas: Selang Rusak Hingga APD Tak Layak

Ada yang datang dari Belanda, Irlandia.

Ada yang datang dari Pulau Jawa dan Makassar.

Ada pula yang datang dari Jakarta dan berbagai daerah lain di Maluku.

Mereka pulang bukan sekadar menghadiri sebuah perayaan.

Mereka kembali ke tempat yang menjadi bagian dari sejarah keluarga dan jemaat mereka.

Dari jembatan, mereka kemudian dijemput dan dikalungkan syal sebagai simbol penyambutan.

Baca juga: Basudara Benelli Ambon: Rindu yang Menyeruak hingga Dijamin Auto Ganteng

Rombongan berjalan menuju Gereja Imanuel Galala-Hative Kecil. 

Prosesi dipimpin Raja Hative Kecil Josias Muriany bersama Kepala Desa Galala Jemima Ariesta Marcella Joris.

Drumband mengiringi perjalanan. 

Warga memenuhi sisi jalan dan pemukiman untuk menyambut basudara yang pulang.

Tidak ada sekadar jarak antara mereka yang datang dari jauh dan mereka yang menunggu di kampung halaman. 

Mengulik Satu Abad, Dua Negeri Satu Jemaat 

Jemaat GPM Galala-Hative Kecil berdiri sejak 2 September 1926. 

Tepat 2 September 2026, usia jemaat ini genap 100 tahun.

Ketua Panitia Perayaan HUT ke-100 Jemaat Gatik, John Van Capele, mengatakan perayaan satu abad menjadi momentum untuk mengingat kembali perjalanan jemaat yang telah melewati berbagai peristiwa.

Ia menjadi penanda perjalanan panjang sebuah persekutuan yang lahir dari penyatuan dua negeri, Galala dan Hative Kecil.

“Tepat tanggal 2 September 1926 menuju 2 September 2026 kita masyarakat Jemaat Galala-Hative Kecil merayakan 100 tahun sejarah jemaat ini sebagai bentuk penyatuan dua negeri. Antara Desa Galala dan Negeri Hative Kecil menjadi satu jemaat,” kata John.

Perjalanan itu kata dia, tidak selalu mudah.

Jemaat Gatik pernah melewati banjir besar Galala pada 1950, konflik sosial 1999, gempa bumi, hingga berbagai persoalan lainnya.

Namun, seluruh perjalanan tersebut justru menjadi bagian dari sejarah yang memperkuat ikatan jemaat.

“Karena kasih Tuhan telah menyertai dan memberkati kita sepanjang 100 tahun ini maka dengan pertolongan Tuhan, kita merayakannya dengan penuh sukacita,” ujarnya.

Baca juga: Kemarau Panjang di SBT, Damkar Rutin Antar 12 Ton Air Bersih ke Pesantren

Dari Belanda hingga Tanah Maluku, Mereka Pulang 

John mengatakan panitia memang mengundang seluruh warga Jemaat Gatik yang berada di berbagai penjuru untuk kembali berkumpul.

“Kita tak mungkin merayakannya sendiri. Kita mengajak semua Jemaat Galala-Hative Kecil dari Belanda, Irlandia, dan dari manapun berada di seluruh wilayah Indonesia untuk turut bersama-sama dengan kita merayakan,” katanya.

Karena itu, kedatangan mereka menjadi bagian penting dari perayaan satu abad tersebut.

Bahkan, menurut John, hingga 2 September masih akan ada basudara yang menyusul datang.

“Masih ada yang mau menyusul. Ada basudara yang sebentar baru mau tiba dari Jakarta. Pokoknya sampai tanggal 2 itu masih ada yang datang,” ujarnya.

Mereka datang dari tempat berbeda, tetapi kembali dalam satu ikatan.

John berharap momentum satu abad tidak berhenti sebagai perayaan seremonial.

Menurut dia, seluruh kekuatan jemaat yang tersebar di berbagai daerah dan negara perlu dihimpun untuk berkontribusi bagi jemaat dan negeri.

“Ketika kita diberkati, kita harus membagikan berkat itu buat banyak orang, terlebih khususnya buat Jemaat Gatik,” katanya. 

Pesan Pendeta Jemaat GPM Galala-Hative Kecil, Ny. A. Hanoatubun

Selaras dengan hal itu, Pendeta Jemaat GPM Galala-Hative Kecil, Ny. A. Hanoatubun melihat perjalanan satu abad Jemaat Gatik sebagai perjalanan iman sekaligus karya Tuhan dalam menyatukan dua negeri yang berdekatan.

Karena itu, perayaan satu abad diharapkan tidak berhenti pada kemeriahan acara. 

Momentum tersebut harus menjadi landasan untuk terus membangun persekutuan dan menjaga penyatuan Galala-Hative Kecil. 

“Diharapkan perayaan ini menjadi landasan kuat untuk persekutuan ini tetap dibangun untuk kemuliaan Tuhan yang telah merangkai sejarah dan menyatukan dua negeri ini dengan baik,” katanya.

Hanoatubun juga menekankan pentingnya mewariskan cerita perjalanan Jemaat Gatik kepada generasi muda.

Kehadiran basudara dari tanah rantau, termasuk mereka yang datang bersama anak-anak, dinilai menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kembali sejarah jemaat kepada generasi berikutnya.

Ia berharap kisah tentang bagaimana Tuhan menyatukan Galala dan Hative Kecil dapat terus diceritakan dari generasi ke generasi, baik kepada mereka yang tinggal di tanah negeri maupun yang telah menetap jauh di perantauan.

“Harapan katong bahwa dari generasi ke generasi katong bisa tutur sejarah ini dengan baik, bagaimana Tuhan berkarya dengan begitu baik. Hari ini Jemaat Galala dan Hative Kecil, dua negeri yang menyatu,” ujarnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.