Fatur, Qori dan Hafiz Al Quran yang Terluka dalam Kericuhan Pejompongan
willy Widianto August 31, 2026 10:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Malam kericuhan di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026), mengubah suasana yang semula menjadi lingkungan tempat tinggal Faturrohman (18) menjadi lokasi yang membuat pelajar tersebut harus berakhir di rumah sakit. 

Baca juga: Muncul Petisi Bubarkan GRIB Jaya usai Dituding Biang Ricuh Demo DPR, 14 Ribu Orang Sudah Tandatangan

Fatur yang disebut tinggal di kawasan Pejompongan mengalami sejumlah luka lebam setelah diduga menjadi korban penganiayaan di tengah kericuhan. Hingga Minggu (30/8/2026), Fatur masih menjalani perawatan di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, dan belum diperbolehkan pulang karena masih membutuhkan penanganan medis.

Fatur berada di kawasan Pejompongan ketika situasi memanas pada malam tersebut. Menurut gurunya, Ahmad Fahmi, Fatur bukan bagian dari massa yang melakukan kerusuhan maupun orang yang datang untuk merusak fasilitas umum. Ia disebut sebagai warga setempat yang berada di lingkungan tempat tinggalnya ketika kericuhan terjadi.

Situasi yang berlangsung di tengah kerumunan membuat Fatur diduga ikut menjadi korban kekerasan. Dalam kondisi tersebut, tubuh Fatur mengalami sejumlah luka lebam hingga akhirnya mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Kondisi Fatur kemudian membuat kedua orang tuanya, Rina dan Deni, terus mendampinginya selama menjalani perawatan. Sang guru pun ikut prihatin karena murid yang selama ini dikenalnya sebagai pelajar berprestasi harus menjalani perawatan akibat kejadian yang berlangsung di lingkungan tempat tinggalnya.

"Fatur masih menjalani perawatan di RSUD Tarakan," kata Fahmi dalam pernyataannya, Senin(31/8/2026).

Fahmi mengatakan, posisi Fatur sebagai warga Pejompongan menjadi salah satu alasan penting untuk melihat kembali bagaimana seorang warga yang tidak terlibat dalam kerusuhan dapat terdampak ketika situasi di sebuah kawasan berubah menjadi kacau.

Menurut Fahmi, Fatur tidak melakukan perusakan fasilitas umum. Ia juga menegaskan bahwa rumah Fatur berada di kawasan tersebut sehingga keberadaannya tidak serta-merta dapat diartikan sebagai bagian dari massa demonstrasi atau kelompok yang melakukan kerusuhan.

"Bayangkan kalau Fatur ini anak kita, terus dipukuli orang tidak dikenal, dia enggak merusak fasilitas umum dan rumahnya di sini," ucap Fahmi.

Fahmi juga menyebut Fatur sempat dibawa dan menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya. Menurut dia, dalam pemeriksaan tersebut Fatur bahkan diminta mengaku sebagai provokator kericuhan.

Keterangan tersebut menjadi bagian dari versi keluarga dan guru Fatur mengenai apa yang dialami pelajar tersebut. Sementara itu, dugaan penganiayaan maupun proses pemeriksaan terhadap Fatur perlu dilihat berdasarkan keterangan dan hasil penanganan aparat yang berwenang.

Fahmi berharap aparat keamanan dapat lebih berhati-hati dalam menangani situasi kericuhan. Menurutnya, ketegangan di lapangan tidak boleh membuat warga yang tidak terlibat dalam kerusuhan justru menjadi korban.

Baca juga: Komnas HAM Selidiki Tewasnya Bambang dan Penganiayaan Fatur di Pejompongan pada 27 Agustus 2026

Ia menilai aspek kemanusiaan perlu tetap dikedepankan dalam setiap tindakan pengamanan, terlebih ketika aparat berhadapan dengan masyarakat dan anak-anak muda yang belum tentu terlibat dalam kericuhan.

Bagi Fahmi, Fatur bukan sosok yang dikenal gemar membuat keributan. Di sekolah, Fatur justru dikenal sebagai pelajar yang memiliki prestasi di bidang keagamaan.

Fatur disebut merupakan seorang qori dan hafiz Al-Qur'an. Ia juga pernah menempuh pendidikan di madrasah tsanawiyah (MTs) yang terintegrasi dengan pondok pesantren.

"Suaranya bagus, dan dia enggak pernah ikut-ikutan begituan," kata Fahmi.

Menurut Fahmi, Fatur kerap mengikuti berbagai perlombaan membaca Al-Qur'an. Dalam sejumlah perlombaan tersebut, Fatur beberapa kali berhasil meraih juara.

Di mata gurunya, Fatur juga dikenal sebagai anak yang saleh dan penurut. Selama bersekolah, ia tidak dikenal sebagai pelajar yang gemar terlibat dalam keributan.

Karena itu, Fahmi merasa prihatin melihat Fatur harus menjalani perawatan setelah berada di tengah kericuhan yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya.

Harapan Tak Ada Korban Salah Sasaran

Peristiwa yang dialami Fatur, menurut Fahmi, seharusnya menjadi bahan evaluasi dalam penanganan aksi massa maupun kerusuhan. Situasi yang berlangsung cepat dan penuh ketegangan tetap membutuhkan kehati-hatian agar tindakan pengamanan tidak justru mengenai warga yang tidak terlibat.

Fahmi berharap aparat dapat memastikan identitas dan keterlibatan seseorang sebelum mengambil tindakan, sehingga tidak terjadi salah sasaran maupun salah tangkap.

Bagi keluarga Fatur, perhatian utama saat ini adalah pemulihan kondisi pelajar tersebut. Di tengah proses perawatan, orang tua Fatur masih mendampingi anak mereka hingga kondisinya memungkinkan untuk kembali pulang.

Baca juga: KontraS Sebut Dugaan Pengerahan Ormas Saat Demo 27 Agustus Mirip Pam Swakarsa 1998

Fahmi berharap kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa di balik kerumunan dan kericuhan selalu ada masyarakat yang dapat menjadi korban. Karena itu, nilai kemanusiaan, kehati-hatian, dan perlindungan terhadap warga sipil, menurut dia, harus tetap menjadi bagian penting dalam setiap tindakan pengamanan.

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.