Dari Rempah Lokal ke Layar Ponsel, Sekar Jawi Menyambung Rantai Ekonomi
Facundo Chrysnha Pradipha September 01, 2026 12:34 AM

TRIBUNNEWS.COM - Deretan sabun, masker wajah, dan produk perawatan tubuh tertata rapi di rak kayu sederhana. Pada setiap bagian rak, terpampang label yang menandai nama-nama produk.

Ada sabun jebuksari dan sari sereh. Ada pula masker bengkoang dan susu. Di bagian lain, tersusun wedang telang, wedang jahe sereh, wedang uwuh, hingga kunyit latte.

Di balik kemasan beragam warna itu, tersimpan cerita dan usaha Septi Setiani, sosok perempuan di balik merek Sekar Jawi dalam meracik bahan, menjaga kualitas, dan memperluas pasar produk yang dibuat dengan tangan sendiri. 

Tak sekadar menghadirkan produk kosmetik dan minuman herbal tradisional, usaha ini juga menjadi bagian dari ikhtiar Septi untuk mengangkat potensi bahan lokal menjadi produk bernilai ekonomi.

Septi berkisah, perjalanannya merintis Sekar Jawi telah dimulai sejak duduk di bangku kuliah. Kala itu, Septi menempuh pendidikan di Diploma II (D2) Farmasi Jamu, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta angkatan 2004.

Pilihan jurusan kuliah lantas mempertemukannya secara lebih dekat dengan dunia jamu dan pengolahan bahan alam menjadi obat-obatan tradisional serta kosmetik. Terlebih perkuliahan yang dijalaninya lebih banyak menitikberatkan pada kegiatan praktik ketimbang teori.

"Jadi pembelajarannya mulai dari nol, seperti pengenalan anatomi tumbuhan, fisiologi tanaman, pengolahan simplicia (tanaman herbal kering), sampai ke goals-nya adalah pembuatan produk," kata Septi di gerainya yang beralamat di Peleman RT 09, Kalurahan Kalirandu, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Rabu (19/8/2026).

Ilmu dan pengetahuan yang didapat di perkuliahan menjadi bekal Septi membangun Sekar Jawi. Perempuan asal Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah ini bertekad, sebelum lulus kuliah, ia sudah harus memiliki sebuah produk.

Baca juga: Derajat Bekatul Terangkat, UMKM Dbroo Kitchen Injak Pedal Digitalisasi Terbang ke Australia

Pesanan Pertama

lihat foto
PRODUK SEKAR JAWI - Produk kosmetik tradisional dari Sekar Jawi, sebuah UMKM yang berada di Peleman RT 09, Kalurahan Kalirandu, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Rabu (19/8/2026).

Suatu hari, dalam perjalanan menuju kampus menggunakan bus, Septi bertemu seseorang yang tanpa disangka menjadi bagian penting dari awal perjalanan usahanya. Baru berkenalan sebentar, sosok pria yang mengaku tinggal di Jakarta itu memberikan sebuah tantangan. 

Ia meminta Septi membuat herbal bath, racikan rempah-rempah yang digunakan untuk kebutuhan spa, mandi, atau berendam. Tanpa banyak pertimbangan, Septi menyanggupi tantangan tersebut. Apalagi pria tersebut turut memesan 20 pieces herbal bath.

Pesanan tersebut menjadi pengalaman pertama bagi Septi untuk merasakan langsung bagaimana ilmu yang dipelajarinya dapat diwujudkan menjadi sebuah produk.

"Saya cari bahan baku sendiri, cari daun pandan sendiri, ngrajang (mengiris) simplicia, terus dibawa ke kampus, tak keringin di kampus karena nggak mungkin bisa kering kalau dijemur di kos-kosan," tuturnya dengan wajah sumringah.

Tak lama kemudian, produk yang dipesan sudah selesai. Namun, hal yang tak terduga terjadi. Sosok pemesan itu tak bisa dihubungi. Nomor telepon yang sempat diberikan kepada Septi, pun tak aktif.

Septi yang semula bersemangat, sempat kecewa. Terlebih produk tersebut tergolong segmented, sehingga tidak semua orang bisa menjadi calon pembeli. 

Di tengah rasa kecewa, muncul sebuah ide untuk menawarkan produk herbal bath ke sebuah toko oleh-oleh ternama di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Ia sengaja datang ke toko dengan membawa dua pilihan kemasan, yakni ukuran kecil dan besar. Harapannya, toko dapat memilih kemasan yang dinilai paling sesuai untuk dipasarkan.

Dari dua pilihan kemasan, hanya satu yang diterima. Kemasan lain ditolak karena dianggap kurang menarik. Meski begitu, Septi mendapat kesempatan untuk menitipkan 12 produk herbal bath di toko tersebut.

Dua minggu berselang, kabar baik datang. Produk yang dititipkan Septi ludes terjual. Pihak toko bahkan kembali memesan atau repeat order sebanyak 24 pieces.

Di satu sisi, Septi mengaku senang mendengar kabar tersebut. Di sisi lain, ia justru bingung sekaligus panik. 

Pertama, ia tak memiliki stok bahan baku dan produk sebanyak itu. Kedua, Septi masih berstatus mahasiswa akhir yang tengah disibukkan dengan kegiatan kuliah sehingga membuat waktu dan mobilitasnya terbatas.

Ia menyampaikan keberatannya kepada pihak toko. Alih-alih mendapat pencerahan, Septi justru kembali menerima kritik karena dinilai belum siap menghadapi produk yang mulai diminati pasar.

"Aku dimarahin di telepon, 'Mbak gimana tuh kamu? wong produkmu itu udah laku, kok, malah kayak gitu (responsnya), kita order lagi, harus bisa ya,'" ucap Septi menirukan apa yang pernah didengarnya.

Alih-alih berkecil hati, ucapan tersebut justru melecut semangat Septi. Dibantu teman-teman yang mencarikan bahan baku, ia kembali memproduksi pesanan di tengah aktivitas harian yang sangat padat.

Walau sempat kewalahan, ia berhasil menyelesaikan pesanan. Dari kejadian itu, Septi memetik pelajaran berharga: produk yang diminati pasar harus diiringi dengan kesiapan bahan baku dan kemampuan dalam memenuhi pesanan.

Pengalaman itu pula yang mengajarkannya untuk mulai mengatur persediaan bahan baku. Sebab, pesanan dari toko tidak berhenti pada satu atau dua kali transaksi, melainkan terus berulang.

"Sampai akhirnya saya kepikiran untuk tambah varian produk untuk pijat kayak bedak dingin, minyak rambut berbahan alami. Selain linier dengan apa yang saya pelajari di kuliah, toko yang saya titipi itu memiliki value, kalau orang cari produk tradisional ya ke sana," ungkapnya.

Kembangkan Usaha Bersama Suami

Meski impiannya telah terwujud yaitu memiliki sebuah produk sebelum lulus kuliah, tapi usaha ini belum sepenuhnya menjadi fokus utama Septi. Selepas kuliah, ia memilih bekerja di sebuah kampus sembari menjalankan usahanya sebagai sampingan.

Barulah setelah menikah dengan Sofyan Feri Felani dan dikaruniai buah hati, Septi memutuskan untuk resign demi bisa membersamai sang anak sekaligus membesarkan usahanya pada tahun 2015.

"Suami juga ikut memutuskan resign. Lalu kami melakukan riset sekaligus mengembangkan produk Sekar Jawi ," kata dia.

Namun, proses tersebut tak selamanya berjalan mulus. Ketika mulai serius mengembangkan usaha, aturan mengenai perizinan produk juga semakin diperketat. Produk yang beredar di pasaran dituntut memiliki izin sesuai kategorinya.

Kondisi tersebut turut berdampak pada usaha Septi. Produk kosmetik tradisional yang dibuatnya harus mengikuti persyaratan yang lebih ketat, termasuk izin edar serta pemenuhan standar sarana produksi.

Bagi Septi yang saat itu masih menjalankan usaha dari rumah, persyaratan tersebut terasa tidak sederhana. Rumah yang ditempatinya belum memiliki area produksi yang memenuhi standar.

Ia pun berada di persimpangan. Jika memilih menyerah, kegiatan usaha yang dirintis dari nol bisa saja berhenti. Namun, di sisi lain, Septi masih menyimpan keinginan untuk menjadikan Sekar Jawi sebagai produk yang memiliki identitas kuat dari Yogyakarta.

"Kalau waktu itu saya menyerah, ya sudah selesai. Saya nggak bisa jualan lagi, tanpa ada izin legal. Saya harus cari usaha lain, tapi mimpi saya ingin terus lanjut di situ," ungkapnya.

Hadirkan Produk Minuman Tradisional

lihat foto
PILIH PRODUK - Seorang pengunjung tampak memilih produk minuman tradisional buatan UMKM Sekar Jawi di outletnya yang beralamat di Peleman RT 09, Kalurahan Kalirandu, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Rabu (19/8/2026). 

Ibu tiga anak itu lantas mencari jalan lain. Ia berkonsultasi dengan Dinas Kesehatan setempat dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mengetahui jalur legalitas yang dapat ditempuh sesuai kondisi usahanya.

Dari proses tersebut, Septi mulai mengurus perizinan untuk produk yang memungkinkan diproduksi dalam skala rumah tangga. Ia kemudian mengembangkan produk minuman tradisional seperti wedang uwuh, wedang instan, dan wedang telang sebagai salah satu jalan agar usaha tetap berjalan.

Keputusan tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan Sekar Jawi. Di saat produk kosmetiknya masih menghadapi proses legalitas yang panjang, produk minuman tradisional justru perlahan berkembang.

Septi mulai menambah varian, mengurus perizinan dan sertifikasi halal, sekaligus membangun sistem produksi yang lebih tertata. Dari yang semula hanya memanfaatkan ruang seadanya, ia mulai memiliki area khusus untuk produksi.

Perlahan, jalan yang sempat terasa buntu mulai terbuka. Namun, ujian kembali datang ketika pandemi Covid-19 melanda. Saat itu, Septi baru saja berinvestasi cukup besar untuk menyiapkan sarana produksi kosmetik dan mengurus berbagai persyaratan legalitas.

"Baru tiga bulan kami dapat sertifikasi Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB), langsung terjadi pandemi Covid-19," kenangnya.

Sejumlah produk kosmetik tak bisa dipasarkan karena toko-toko tempat Sekar Jawi menitipkan produknya harus tutup.

Di tengah ketidakpastian tersebut, justru terjadi perubahan pada produk minuman tradisional Sekar Jawi. Ketika masyarakat semakin memperhatikan kesehatan selama pandemi, permintaan terhadap minuman herbal meningkat.

"Alhamdulillahnya yang minuman tradisional malah booming saat Covid-19," ujar Septi.

Momentum tersebut kemudian dimanfaatkan Septi untuk kembali berinovasi. Ia membuat sejumlah varian baru dan mencoba memasarkannya melalui jaringan yang dimilikinya.

Respons konsumen ternyata cukup baik. Setelah memperkenalkan produk melalui pesan WhatsApp, pesanan mulai berdatangan. Produk tersebut kemudian kembali ditawarkan ke sejumlah toko.

Pandemi yang sebelumnya menjadi pukulan bagi usaha kosmetiknya, ternyata membuka peluang baru bagi lini minuman tradisional Sekar Jawi. Pemasaran produk juga telah merambah hingga ke sejumlah retail modern dan minimarket di wilayah DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. 

Manfaatkan Platform Digital

Pandemi rupanya tidak hanya mengubah lini bisnis Sekar Jawi, tetapi juga cara pandang Septi terhadap digitalisasi.

Sebelum pandemi, Septi mengaku belum terlalu serius mengelola penjualan langsung kepada konsumen melalui platform digital. Sekar Jawi lebih banyak menjalankan model bisnis business to business (B2B), dengan mengirimkan produk dalam jumlah banyak ke toko untuk kemudian didistribusikan kepada konsumen.

"Sebelum pandemi, sebenarnya kami sudah mulai menggunakan Shopee. Cuma karena biasa kirim barang langsung banyak ke toko, kami tidak punya waktu untuk mengurus B2C (business to consumer)," urai Septi.

Saat itu, keberadaan toko daring Sekar Jawi di Shopee lebih dianggap sebagai etalase digital. Konsumen tetap bisa menemukan produk mereka, tetapi pengelolaannya belum menjadi perhatian utama.

"Jadi ya sudah lah, yang penting kita punya saja. Orang bisa lihat, mau beli ya di situ ya, silakan," ujarnya.

Pandangan tersebut berubah ketika pandemi melanda. Aktivitas sejumlah toko dan saluran penjualan konvensional ikut terdampak. Septi pun menyadari, mengandalkan satu jalur pemasaran saja membuat UMKM lebih rentan menghadapi perubahan.

"Setelah pandemi, ternyata itu mindset yang salah. Kita tidak bisa cuma mengandalkan satu pemasaran, semua itu harus dicoba," tutur Septi.

Kini, Sekar Jawi memanfaatkan sejumlah platform digital untuk menjangkau lebih banyak konsumen, dengan Shopee menjadi salah satu kanal yang paling diandalkan. Menurut Septi, keberadaan marketplace membuat konsumen lebih mudah menemukan dan membeli kembali produk Sekar Jawi, terutama setelah mereka tidak lagi berada di Yogyakarta.

Ia mencontohkan wisatawan yang membeli produk Sekar Jawi ketika berkunjung ke Yogyakarta. Setelah kembali ke daerah asal, mereka tetap dapat membeli produk yang sama melalui marketplace.

"Misalnya orang lihat produk kita di toko retail, terus kadang-kadang orang yang datang ke Jogja beli di toko oleh-oleh. Mereka ingin repeat, kan susah kalau enggak ada marketplace," katanya.

Marketplace, lanjut Septi, menjadi solusi karena konsumen tidak perlu datang langsung ke toko. Berbagai promo seperti potongan harga dan gratis ongkos kirim juga membuat pembelian secara daring semakin mudah.

Pasar Meluas, Ekonomi Lokal Bergerak

Meski kanal digital membuka akses kepada konsumen secara langsung, bukan berarti Sekar Jawi meninggalkan jalur konvensional. Hingga kini, penjualan secara offline masih menjadi penopang utama karena produk Sekar Jawi tetap dipasarkan melalui skema B2B.

Namun, kombinasi antara penjualan offline dan digital membuat aktivitas produksi Sekar Jawi terus berjalan. Setiap bulan, Sekar Jawi mampu memproduksi sekitar 7.000 hingga 8.000 kemasan minuman tradisional dan sekitar 5.000 kemasan produk kosmetik.

Untuk memenuhi kebutuhan produksi tersebut, Septi kini dibantu 14 karyawan. Selain itu, ada sekitar 12 ibu rumah tangga di sekitar tempat usahanya yang dilibatkan sebagai tenaga borongan.

Keterlibatan para ibu tersebut menjadi salah satu cara Septi membuka kesempatan kerja yang lebih fleksibel bagi warga sekitar. Sebab, sebagian dari mereka tidak dapat bekerja penuh waktu karena harus berbagi waktu dengan pekerjaan rumah tangga dan membersamai anak.

"Jadi kami meng-hire mereka untuk jadi tenaga borongan kayak ngerajang (mengiris) rempah, jeruk nipis, terus bersihin rempah, packing-packing yang bisa dibawa di rumah dan risikonya tidak terlalu tinggi," jelas Septi.

Dengan model kerja tersebut, para ibu di sekitar tempat produksi Sekar Jawi tetap dapat memperoleh penghasilan, tanpa harus meninggalkan tanggung jawab mereka di rumah. 

Tak hanya dari sisi tenaga kerja, pertumbuhan produksi Sekar Jawi juga menciptakan kebutuhan terhadap bahan baku. Septi memilih menggunakan bahan-bahan lokal untuk sejumlah produknya. 

Saat ini, Sekar Jawi bekerja sama dengan dua pemasok rempah. Satu di antaranya merupakan komunitas petani yang telah memiliki proses pengeringan sendiri menggunakan Solar Dome Dryer.

Kerja sama dengan petani menjadi penting bagi Septi, terutama untuk menjaga kualitas bahan baku. Dengan mengambil bahan dari petani yang memanen dan mengolahnya sendiri, ia dapat mengetahui proses bahan sejak dari hulu.

"Kalau yang dari lokal sini kan mereka benar-benar panen sendiri. Jadi kita tahu dari hulu ke hilirnya," ujarnya.

Bahan baku lokal tersebut antara lain berasal dari wilayah Kulon Progo dan Pajangan, Bantul. Bahkan, untuk produk premiumnya, Septi sengaja mengutamakan rempah yang diperoleh dari petani lokal.

Pilihan itu sekaligus membuka peluang bagi warga sekitar yang memiliki lahan kecil. Menurut Septi, sebagian warga sebenarnya memiliki lahan yang tidak cukup luas untuk menghasilkan panen dalam jumlah besar. Jika hasil panen harus dibawa ke pasar, biaya transportasi terkadang justru membuat hasilnya kurang menguntungkan.

Sekar Jawi lantas menjadi salah satu alternatif bagi hasil kebun tersebut. Warga, termasuk ibu-ibu di sekitar tempat usahanya, dapat menanam tanaman yang sesuai dengan kondisi lahan dan menjual hasilnya kepada Sekar Jawi ketika masa panen tiba.

Bunga telang dan kunyit, misalnya, menjadi sebagian bahan yang dapat diperoleh dari warga sekitar. Septi juga mendorong masyarakat yang memiliki lahan agar tidak membiarkannya menganggur.

"Kadang-kadang saya mengimbau ibu-ibu sekitar sini karena punya lahan, ditanami saja. Jangan dianggurin karena kan lumayan sebenarnya," ujar dia.

Dengan demikian, aktivitas Sekar Jawi tidak berhenti pada transaksi antara produsen dan konsumen. Di balik produk yang sampai ke tangan pembeli, terdapat rantai ekonomi yang melibatkan karyawan, ibu rumah tangga, petani, serta warga yang memanfaatkan lahan di sekitar tempat tinggalnya.

Aktivitas Sekar Jawi yang melibatkan warga dan petani lokal tersebut menjadi bagian kecil dari geliat UMKM di Kabupaten Bantul. Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih menyebut Bantul sebagai salah satu pusat pertumbuhan UMKM di DIY.

Pada semester pertama 2025, tercatat ada 96.360 unit UMKM di Bantul. Menurut Halim, sebagian besar bergerak di sektor ekonomi kreatif, mulai dari fesyen, kuliner kemasan, minuman olahan, hingga kerajinan tangan.

"Bantul adalah daerah yang merupakan pusat UMKM di DIY. Dari tahun ke tahun jumlah UMKM terus meningkat," ujar Halim.

Pertumbuhan UMKM seperti yang terjadi di Bantul membuat akses terhadap pasar menjadi semakin penting. Bagi pelaku usaha, memiliki produk saja tidak cukup. Produk perlu ditemukan konsumen, dibeli, dan dapat kembali dijangkau ketika konsumen ingin melakukan pembelian ulang.

Kondisi tersebut membuat digitalisasi menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan UMKM. Kehadiran platform digital membuka peluang bagi pelaku usaha untuk menjangkau konsumen di luar wilayah tempat mereka memproduksi barang.

Head of Corporate Affairs Shopee Indonesia, Satrya Pinandita mengatakan, UMKM dan produk lokal memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Sejalan dengan hal tersebut, Shopee terus menghadirkan inovasi, program, dan fitur untuk membantu pelaku usaha mengembangkan bisnis secara berkelanjutan, baik di pasar lokal maupun global.

"Kami ingin membuka lebih banyak akses, peluang, dan dukungan bagi UMKM untuk meningkatkan daya saing produk lokal serta menjangkau pasar yang lebih luas," ujar Satrya.

Upaya tersebut, lanjut Satrya, dilakukan melalui berbagai inisiatif dan program UMKM, termasuk Kampus UMKM Shopee dan Program Ekspor Shopee. Melalui program tersebut, Shopee ingin membantu pelaku usaha meningkatkan daya saing produk lokal sekaligus membuka peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

"Ke depan, kami akan terus memperkuat komitmen tersebut melalui kolaborasi dengan berbagai pihak guna mendukung pertumbuhan UMKM di Indonesia," ujar dia.

Marketplace Ubah Cara UMKM Jangkau Konsumen

Transformasi yang dialami Sekar Jawi menjadi gambaran bagaimana marketplace dapat mengubah cara UMKM menjangkau konsumen. Dosen STIE Widya Wiwaha Yogyakarta, Evi Rosalina Widyayanti, menilai pemanfaatan platform digital dapat membantu UMKM memperluas pangsa pasar yang sebelumnya terbatas pada wilayah lokal.

Menurut Evi, UMKM perlu beradaptasi dengan digitalisasi dan memanfaatkan marketplace sebagai salah satu saluran pemasaran.

"UMKM harus belajar soal digitalisasi dan mereka wajib memanfaatkan marketplace," tegas Evi.

Menurutnya, pemanfaatan marketplace juga perlu diiringi dengan kemampuan pelaku usaha dalam mengelola pemasaran digital. Pelaku UMKM dapat meningkatkan pengetahuan melalui berbagai pelatihan atau kelas yang membantu mereka memahami cara memasarkan produk di ruang digital.

Bagi Evi, kemampuan tersebut penting karena kehadiran di marketplace bukan sekadar membuka toko online, tetapi juga menjadi bagian dari strategi UMKM untuk bertemu dengan konsumen di pasar yang lebih luas.

Dari usaha yang bermula dari pesanan herbal bath saat kuliah, Sekar Jawi kini telah tumbuh jauh lebih besar. Produk-produknya tak hanya membawa bahan lokal ke pasar yang lebih luas, tetapi juga menggerakkan rantai ekonomi di sekitar tempat usaha itu berdiri. 

(Tribunnews.com/Sri Juliati)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.