Pakar Geofisika Untan Ungkap Penyebab Langit Pontianak Oren saat Siang dan Udara Jam 8 Pagi Bahaya
Faiz Iqbal Maulid September 01, 2026 04:32 AM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, ​PONTIANAK - Pekatnya kabut asap yang menyelimuti langit Kota Pontianak belakangan ini menunjukkan tren pergerakan polusi yang tidak lazim.

Berdasarkan pemantauan dari sensor kualitas udara, tingkat kepekatan udara paling berbahaya justru tidak terjadi pada waktu menjelang subuh, melainkan melonjak tajam pada rentang pukul 08.00 hingga 11.00 WIB.

Ditambah pada Jumat 28 Agustus 2026 lalu, langit Kota Pontianak dan sekitarnya pada siang hari mendadak berubah menjadi oren layaknya sore hari.

Kepala Laboratorium di Program Studi Geofisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Dr. Joko Sampurno mengungkap kalau fenomena tersebut merupakan sebuah anomali meteorologis yang masuk kategori tidak wajar.

Ia menganalisis bahwa anomali ini dipicu oleh keberadaan titik api kebakaran lahan berskala besar yang berjarak sangat dekat dengan wilayah permukiman di Kota Pontianak dan sekitarnya.

Pakar lingkungan yang meraih gelar Doktor (Ph.D.) di bidang Bioscience Engineering dari Universitas catholique de Louvain (UCLouvain), Belgia itu merujuk pada data jaringan sensor IQAir dimana Indeks Kualitas Udara (AQI) di Pontianak pada 29 Agustus 2026 sempat menyentuh angka tertinggi nya di level 987 pada pukul 08.00 hingga 09.00 pagi dengan konsentrasi polutan utama PM2.5 menembus 570 µg/m⊃3;.

Kemudian titik tertinggi pada 31 Agustus di level 593 pada pukul 10.00 hingga 11.00 pagi, dengan konsentrasi polutan utama PM2.5 menembus  372 µg/m⊃3;.

• Kabut Asap Kalbar Bukan Sekadar Musiman, Epidemiolog Soroti Ancaman Kesehatan yang Terus Berulang

Angka ini secara dia hari berturut-turut masuk dalam kategori sangat berbahaya, yang menurut pemodelan kualitas udara sangat berisiko terhadap kesehatan pernapasan.

​"Tren yang kita alami saat ini sama sekali tidak normal. Puncak polusi terparah justru terjadi pada pukul 08.00 sampai 11.00  pagi hingga menembus angka AQI 1.000. Padahal lazimnya, jika sumber polusi itu jauh, udara yang paling kotor dan parah itu terjadi pada waktu menjelang subuh," ujar Dr. Joko saat ditemui di Untan Pontianak, Senin 31 Agustus 2026.

​Secara saintifik, Dr. Joko menjelaskan bahwa pada siklus normal, kualitas udara di siang hari seharusnya lebih bersih dan aman dibandingkan malam hari.

Saat matahari memanaskan permukaan bumi, massa udara akan memuai dan menjadi lebih ringan. 

Hal inilah yang membuat udara subuh pada umumnya menjadi yang terburuk saat ada kiriman asap.

​Namun, anomali polusi pagi hari di Pontianak saat ini terjadi karena siklus alami tersebut dikalahkan oleh sumber emisi lokal (pembakaran gambut) yang sangat pekat dan masif di sekitar kota.

​"Kondisi saat ini menjadi tidak normal karena ada kebakaran hebat di sekitar kita. Ketika memasuki pagi hari dan udara mulai menghangat, sisa asap pekat yang tertahan semalaman di atas (lapisan inversi) justru teraduk dan terdorong turun ke bawah mendekati permukaan bumi," jelas Dr. Joko.

​Fenomena turunnya akumulasi asap secara tiba-tiba di pagi hari seiring memecahnya lapisan inversi ini (fumigation), diperparah oleh volume asap baru yang terus diproduksi dari titik-titik api yang berdekatan yang terekam pada instrumen AQI sebagai active fire nearby.

​"Semakin luas area yang terbakar di sekitar kita, tentu makin tinggi tingkat polusinya. Inilah mengapa pagi hari yang seharusnya menjadi fase udara mulai menghangat dan kualitasnya membaik, justru menjadi sangat mematikan karena asap dari titik-titik terdekat langsung memapar ke bawah secara masif," pungkasnya.

• Dukung Pembelajaran Daring Akibat Kabut Asap, Perpustakaan Kota Pontianak Perkuat Pelayanan Digital

Profil Dr. Joko Sampurno

Dilansir dari berbagai sumber, Dr. Joko Sampurno, S.Si., M.Si., Ph.D. diketahui merupakan dosen, peneliti, sekaligus Kepala Laboratorium Program Studi Geofisika FMIPA Untan. 

Ia dikenal sebagai pakar lingkungan dan atmosfer yang aktif menyoroti fenomena cuaca ekstrem di Kalimantan Barat.

Sosoknya bukan orang sembarang.

Ia lulus dari Université catholique de Louvain (UCLouvain), Belgia di bidang Rekayasa Biosains (Bioscience Engineering).

Tak hanya itu, Joko juga tengah mengembangkan pemodelan prediksi kadar polutan atau Particulate Matter yakni Aqiair.com untuk memantau kualitas udara.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.