BANGKAPOS.COM, BANGKA – Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung tidak hanya dipusatkan di Desa Tukak, Kecamatan Tukak Sadai.
Tahun ini, pemerintah mengusulkan pembangunan KNMP di tujuh desa lain dengan sasaran 1.953 nelayan. Jika seluruh usulan terealisasi, program tersebut akan menjangkau 47,8 persen dari total nelayan yang menjadi sasaran.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Bangka Selatan, Dedy Yuni Hardi mengatakan tujuh lokasi yang diusulkan meliputi Kelurahan Tanjung Ketapang, Desa Serdang, Desa Kepoh, Kecamatan Toboali. Lalu, Desa Sadai dan Desa Pasir Putih, Kecamatan Tukak Sadai. Kemudian Desa Tanjung Sangkar, Kecamatan Lepar dan Desa Celagen, Kecamatan Kepulauan Pongok. Berbagai infrastruktur dan sarana prasarana akan disiapkan untuk menunjang aktivitas usaha perikanan di kawasan tersebut.
“Selain Desa Tukak, lokasi KNMP yang dibangun tahun ini ada enam desa dan satu kelurahan lainnya,” kata dia kepada Bangkapos.com, Selasa (1/9/2026).
Dedy Yuni Hardi menjelaskan, program tersebut tidak hanya menyasar pembangunan fisik kawasan, tetapi juga memberikan dukungan langsung kepada nelayan.
Nelayan sasaran akan difasilitasi cakupan premi BPJS Ketenagakerjaan serta bimbingan dan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas usaha. Dukungan tersebut ditargetkan membuat nelayan memiliki kemampuan lebih baik dalam mengembangkan usaha perikanan secara berkelanjutan.
Dedy menyebut berdasarkan data jumlah nelayan yang menjadi sasaran, sebanyak 1.953 orang atau 47,8 persen akan terdampak program KNMP tersebut.
Besarnya jumlah penerima manfaat membuat pemerintah daerah perlu memastikan pembangunan dan bantuan berjalan sesuai perencanaan. Dinas Perikanan akan memantau progres kegiatan di sejumlah titik untuk memastikan pelaksanaannya berjalan lancar dan tepat sasaran.
“Untuk itu, kita di dinas juga akan melakukan pemantauan progres kegiatan di sejumlah titik tersebut untuk memastikan agar pelaksanaan berjalan lancar dan tepat sasaran,” jelas Dedy Yuni Hardi.
KNMP merupakan kawasan nelayan modern yang dibangun melalui kolaborasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan Kementerian Koperasi.
Program tersebut dirancang untuk mengintegrasikan aktivitas ekonomi pesisir dengan menghubungkan nelayan, koperasi dan pasar dalam satu rantai pasok dari hulu hingga hilir. Konsep itu diharapkan dapat membantu nelayan tradisional beralih menuju sistem usaha yang lebih tertata dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Fasilitas yang ada di KNMP antara lain jetty, pabrik es, gudang beku hingga sumber air bersih. Setiap kawasan KNMP nantinya akan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, mulai dari cold storage, pabrik es dan SPBUN hingga peralatan penangkapan ikan serta bengkel peralatan.
Kawasan tersebut juga akan memiliki fasilitas pengolahan hasil perikanan, sentra kuliner olahan ikan dan gazebo atau saung nelayan. Keberadaan fasilitas itu diharapkan dapat menjaga mutu hasil tangkapan sekaligus menekan biaya operasional nelayan.
“Setiap kawasan KNMP nantinya akan dilengkapi dengan berbagai sarana pendukung seperti cold storage, pabrik es, stasiun pengisian bahan bakar untuk nelayan, peralatan penangkapan ikan, bengkel peralatan hingga fasilitas pengolahan hasil perikanan,” urainya.
Selain menjadi kawasan produksi, KNMP juga diarahkan sebagai agregator hasil perikanan yang mengumpulkan, mengolah dan memasarkan hasil tangkapan secara lebih efisien.
Melalui mekanisme koperasi, hasil tangkapan nelayan dapat dipasarkan secara terintegrasi sehingga memiliki nilai tambah dan harga jual yang lebih baik. Skema tersebut diharapkan memperkuat posisi tawar nelayan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap tengkulak.
“KNMP juga akan berfungsi sebagai agregator hasil perikanan yang mengumpulkan, mengelola, dan memasarkan hasil tangkapan laut secara lebih efisien,” tukas Dedy Yuni Hardi.
(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)