TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Seorang anak memviralkan video oknum wartawan yang mengamuk pada ibunya di sekolah kawasan Sukabumi, Jawa Barat. Pelaku berteriak, mengamuk dengan dalih tak terima disebut mabuk.
Ia berbicara dengan artikulasi yang tidak jelas.
Tak terima ibunya dihardik, sang anak pun memberi pembalasan dengan cara memposting video tindakan pelaku di media sosial.
Akun Thread rifbold_15 yang membagikan video oknum wartawan mengamuk ke kepala sekolah SD di Sukabumi.
Dalam video tampak seorang pria mengenakan baju kemeja motif kotak-kotak merah.
Dia datang langsung menunjuk-nunjuk pria yang merekam video.
"Woy, apa masalahnya ngerekam-ngerekam. Masalahnya awal mulanya kamu. Kamu yang usik perut saya. Ditulis sama saya. Mau pensiun kan PNS. Pantas tidak seorang guru," katanya menggunakan bahasa Sunda.
Lalu tampak pria itu terlihat merebut handphone yang dipakai untuk merekam.
Lalu pada video kedua, tampak pria yang sama berada di sebuah ruangan.
Dia berdiri tepat di depan meja.
"Apa sebut saya mabuk ? ditulis sama saya," katanya.
Tak jelas kalimat-kalimat yang diucapkan karena artikulisi yang bermasalah.
Namun ia terus berkukuh bahwa wanita yang menjadi sasaran amarahnya itu telah menuduhnya sedang mabuk.
Baca juga: 11 Pelajar STM Sukabumi Gagal Ikut Demo 27 Agustus 2026, Ditahan Polisi di Stasiun Bogor
Pemilik akun Thread rifbold mengaku sebagai anak dari kepala sekolah yang menjadi korban amukan pria tersebut.
Ia meminta bantuan agar ibunya mendapat keadilan.
"Warga threads minta bantuannya, ibu saya adalah seorang kepala sekolah di salah satu sekolah dasar negeri yg ada di kabupaten sukabum, tepatnya di kecamatan sukaraja,
hari ini beliau dan beberapa guru mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari salah satu oknum wartawan,
terjadi adu mulut dan salah seorang pekerja mendapatkan kontak fisik dr wartawan tersebut, adakah warga disini yg bisa memfiralkan atau bantu untuk membuat laporan ke pihak berwajib," tulisnya.
Ternyata tuduhan guru di sekolah tersebut memang benar adanya.
Pria itu merupakan wartawan media massa lokal di Sukabumi.
Baca juga: Pergeseran Tanah di Sukabumi, Dedi Mulyadi Siapkan Rp 40 juta untuk Rumah Korban Terdampak
Ia berinisial A.
A mendatangi SDN Sukaraja 2, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Kata Kapolsek Sukaraja, Kompol Aguk Khusaini, hasil tes urine A ternyata positif narkoba jenis sabu-sabu.
"Sudah kita lakukan tes urine, positif amphetamine," katanya.
Amphetamine kelompok obat stimulan sistem saraf pusat yang bekerja dengan cara meningkatkan aktivitas zat kimia tertentu (seperti dopamin) di dalam otak.
Sabu-sabu mengandung metamfetamin (methamphetamine), yang merupakan salah satu turunan utama dari golongan zat amfetamin (amphetamine-type stimulants).
Kepala SDN Sukaraja 2, Siti Julaeha mengatakan kejadian bermula saat A datang meminta uang langganan media bulanan sebesar Rp100 ribu untuk jatah September. Namun, permintaan tersebut belum dapat dipenuhi karena dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) belum cair.
"Dia meminta yang untuk bulan September. Karena kami tidak memberi, akhirnya dia marah sampai menunjuk-nunjuk saya," ujar Siti, Senin (31/8/2026) di Polsek Sukaraja.
Menurut Siti, pria tersebut terus mendesak dengan alasan membutuhkan uang untuk biaya pengobatan anaknya.
Situasi memanas ketika A membentak pihak sekolah di hadapan siswa dan orang tua murid. Siti menambahkan, oknum tersebut juga beberapa kali meminta uang di luar tarif rutin untuk alasan personal, seperti acara haul hingga membeli perhiasan.
"Namun saya tidak pernah memberi karena pengeluaran anggaran sekolah harus sesuai aturan," tegas Siti.
Guru PNS SDN Sukaraja 2, Hendriani, kemudian berusaha merekam kejadian tersebut menggunakan telepon selulernya.
Ia merekam karena menilai situasi di lingkungan sekolah sudah semakin tidak kondusif.
"Saya memvideokan karena dia sudah mengamuk, makanya terekam. Namun HP saya dirampas oleh dia," ujar Hendriani.
Hendriani juga menyebut A sempat hendak memukulnya. Upaya tersebut disebut berhasil dicegah setelah staf sekolah menghalangi A.
Peristiwa itu berlangsung ketika kegiatan belajar mengajar masih berjalan.
Kondisi tersebut membuat para guru merasa terintimidasi karena keributan terjadi di lingkungan sekolah dan disaksikan siswa serta orangtua murid.
Pihak sekolah kemudian berkoordinasi dengan kepolisian dan dinas terkait setelah kejadian tersebut.
Atas arahan yang diterima, SDN Sukaraja 2 akhirnya melaporkan A secara resmi ke Polsek Sukaraja, Polres Sukabumi Kota.
Laporan tersebut dibuat agar dugaan pemerasan, intimidasi, serta perampasan telepon seluler dapat diproses lebih lanjut secara hukum.
Pihak sekolah berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi karena aktivitas tersebut dinilai mengganggu kegiatan belajar mengajar dan menimbulkan keresahan di lingkungan sekolah.
Kasus tersebut kini ditangani kepolisian untuk proses lebih lanjut.
https://whatsapp.com/channel/0029VaGzALAEAKWCW0r6wK2t