Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Ramadhan L Q
TRIBUNBEKASI - Masjid Agung Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menggelar salat Istisqa pada Selasa (1/9/2026) pagi sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan.
Salat jamaah Istisqa ini digelar di tengah kondisi kekeringan dan berbagai musibah yang melanda sejumlah wilayah Indonesia.
Salat Istisqa adalah salat sunah muakkadah (sangat dianjurkan) yang dikerjakan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan air hujan di saat terjadi kemarau panjang atau kekeringan.
Dimuat situs Baznaz praktik shalat istisqa sudah dilakukan di zaman Rasulullah SAW. sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.,
"Nabi Muhammad SAW. keluar rumah pada suatu hari untuk memohon diturunkan hujan, lalu beliau shalat dua rakaat bersama kita tanpa azan dan iqamat, kemudian beliau berdiri untuk khutbah dan memanjatkan doa kepada Allah, dan seketika itu beliau mengalihkan wajahnya (dari semula menghadap ke arah hadirin) menghadap ke kiblat serta mengangkat kedua tangannya, dan membalikkan selendang sorbannya dari pundak kanan ke pundak kiri, begitupun ujung sorbannya," (HR. Imam Ahmad).
Seperti namanya, shalat istisqa dilaksanakan pada saat terjadi kekeringan panjang, dan hujan lama tidak tercurah.
Adapun waktu pelaksanaan shalat istisqa adalah pada siang hari, sebagaimana hadis Nabi SAW. yang diriwayatkan Aisyah, istri Nabi, dalam sebuah hadits, diceritakan bahwa Rasulullah SAW. melaksanakan shalat istisqa setelah matahari terbit di atas permukaan bumi, seperti waktu dimulainya shalat idul fitri atau idul adha.
Meski begitu, sebagian ulama berpendapat bahwa shalat istisqa dapat dilaksanakan pada sore hari.
Namun tidak pada waktu yang diharamkan melaksanakan shalat, yakni saat matahari tepat di atas kepala dan saat matahari terbenam.
Adapun tata cara shalat istisqa sebagai berikut:
1. Imam dan makmum berkumpul di tanah lapang untuk mengerjakan shalat berjamaah
2. Imam dan makmum, tanpa didahului azan dan iqamat, berniat membaca niat shalat istisqa yang berbunyi:
"Ushalli sunnat al-istisqai, rak'ataini mustaqbil al-qiblati (imaman/makmuman) lillahi taala"
3. Setelah takbiratul ihram, imam dan makmum melakukan takbir sebanyak 7 kali pada rakaat pertama dan 5 kali takbir pada rakaat kedua
4. Pada setiap rakaat, imam membaca surah al-Fatihah dan satu surah pendek secara jelas (jahr) yang dapat didengar oleh makmum.
5. Dilanjutkan dengan rukuk, dua sujud dan duduk di antara dua sujud
6. Pada rakaat kedua setelah sujud, imam dan makmum melakukan duduk tahiyat akhir serta membaca bacaan tahiyat, tasyahud dan shalawat seperti yang dibaca dalam shalat wajib
7. Diakhiri dengan bacaan salam dengan menolehkan wajah dan kepala ke kanan serta ke kiri
8. Imam menyampaikan khutbah istisqa di hadapan jemaah. Khutbah terdiri dari dua kali yang disampaikan dengan berdiri, dan sekali duduk di antara kedua khutbah.
Rukun dan tata cara khutbah dalam shalat istisqa sama dengan yang dilakukan pada shalat id.
Yakni, membaca takbir 9 kali pada khutbah pertama dan takbir 7 kali pada khutbah kedua.
Dalam khutbah istisqa dianjurkan khatib mengajak jemaah untuk bertobat dan meminta ampun atas segala dosa.
Memperbanyak istighfar, dengan harapan agar Allah mengabulkan yang menjadi kebutuhan mereka.
Setiap mengakhiri khutbah, baik pertama maupun kedua, khatib disunnahkan membaca doa, dengan cara membalikkan badan dan membelakangi jemaaah untuk menghadap kiblat.
Kemudian menukar posisi selendang sorban di pundaknya, seraya mengangkat kedua tangan.
Baca juga: Nasib Bupati Pangandaran Usai Nyaris Jatuh dari Jembatan Setinggi 20 Meter yang Roboh
Bacaan Doa Istisqa
Berikut ini doa shalat istisqa yang diriwayatkan oleh sejumlah perawi seperti Imam As-Syafii, Abu Dawud dan perawi lainnya:
Allaahummasqinaa ghaitsan mughiitsan hanii an marii an (riwayat lain, murii an) ghadaqan mujallalan thabaqan sahhan daa iman.
Artinya, "Ya Allah, turunkan kepada kami air hujan yang menolong, mudah, menyuburkan, yang lebat, banyak, merata, menyeluruh, dan bermanfaat abadi."
Allaahummasqinaal ghaitsa, wa laa taj alnaa minal qaanithiin.
Artinya, "Ya Allah, turunkan kepada kami air hujan. Jangan jadikan kami termasuk orang yang berputus harapan."
Allaahumma inna bil ibaadi wal bilaadi wal bahaa imi wal khalqi minal balaa i wal juhdi wad dhanki maa laa nasykuu illaa ilaika.
Artinya, "Ya Allah, sungguh banyak hamba, negeri, dan jenis hewan, dan segenap makhluk lainnya mengalami bencana, paceklik dan kesempitan di mana kami tidak mengadu selain kepada-Mu."
Allaahumma anbit lanaz zar a, wa adirra lanad dhar a, wasqinaa min barakaatis samaa i, wa anbit lanaa min barakaatil ardhi.
Artinya, "Ya Allah, tumbuhkan tanaman kami, deraskan air susu ternak kami, turunkan pada kami air hujan karena berkah langit-Mu, dan tumbuhkan tanaman kami dari berkah bumi-Mu."
Allaahummarfa annal jahda wal juu a wal uraa, waksyif annal balaa a maa laa yaksyifuhuu ghairuka.
Artinya, "Ya Allah, angkat dari bahu kami kesusahan paceklik, kelaparan, ketandusan. Hilangkan dari kami bencana yang hanya dapat diatasi oleh-Mu."
Allaahumma innaa nastaghfiruka, innaka kunta ghaffaaraa, fa arsilis samaa a alainaa midraaraa.
Artinya, "Ya Allah, sungguh kami memohon ampun kepada-Mu, karena Kau adalah maha pengampun. Maka turunkan pada kami hujan deras dari langit-Mu."
Pada salat Istisqa Selasa (1/9/2026) di Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru, salat digelar sekira pukul 07.00 WIB dan diikuti kurang lebih 3.000 orang mulai dari keluarga besar Al Azhar serta jemaah di Lapangan Hijau Masjid Agung Al Azhar.
Adapun kegiatan tersebut juga bekerja sama dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI).
Kepala Kantor Masjid Agung Al Azhar, Tatang Komara mengatakan, pelaksanaan salat Istisqa merupakan bentuk respons pengurus masjid terhadap kondisi yang tengah dihadapi masyarakat.
“Sebagai seorang muslim, kita merespons itu dengan berdoa dan beristigfar. Kita muhasabah. Salah satu upaya kita bagaimana supaya Allah secepatnya menurunkan hujan, maka dalam syariat agama Islam ada yang namanya salat Istisqa,” kata Tatang, saat ditemui di Masjid Agung Al Azhar, Selasa.
Menurut Tatang, pelaksanaan salat Istisqa di Masjid Agung Al Azhar juga merupakan tindak lanjut surat dari DMI yang mendorong Al Azhar menjadi salah satu pelopor pelaksanaan salat Istisqa di Jakarta.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, termasuk Ketua Umum DMI Pusat sekaligus eks Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) beserta jajaran.
Tatang mengatakan JK menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan salat Istisqa dan mengajak masyarakat untuk tidak berdiam diri menghadapi berbagai musibah.
“Dengan musibah yang bertubi-tubi itu kita tidak boleh berdiam diri. Perlu ikhtiar dan berdoa,” ujar Tatang mengutip pesan JK.
Selain berdoa dan berikhtiar, masyarakat juga diimbau melakukan introspeksi diri.
Menurut Tatang, pesan tersebut disampaikan JK agar masyarakat menjadikan berbagai musibah sebagai momentum untuk bermuhasabah atas kemungkinan adanya kekhilafan, dosa, maupun kelalaian.
Dalam kegiatan tersebut, Khatib Dr. KH. Zahrudin Sulthani, M.A juga menyampaikan khutbah bertema “Hemat Energi”.
Jemaah diingatkan agar tidak menganggap ketersediaan air dan sumber daya alam sebagai sesuatu yang akan selalu ada.
Tatang mengatakan khutbah tersebut juga mengajak jemaah memperkuat kesadaran tauhid dengan mengingat bahwa Allah SWT merupakan pihak yang mendatangkan hujan dan menumbuhkan berbagai tanaman.
Pelaksanaan salat Istisqa di Masjid Agung Al Azhar menjadi kegiatan perdana untuk tahun ini di lingkungan Al Azhar di Jakarta.
Namun, kegiatan serupa akan dilanjutkan secara berestafet di sejumlah Masjid Al Azhar lainnya.
“Kami sudah instruksikan ke teman-teman di masjid. Ada di Sentra Primer, Cakung, kemudian di Cikarang, kemudian di Bintaro,” kata Tatang.
Ia berharap pelaksanaan salat Istisqa dapat menjadi ikhtiar bersama dan mendorong masyarakat di berbagai wilayah untuk melakukan hal serupa.
“Pak JK juga menghimbau masyarakat untuk melakukan salat Istisqa ini di mana mereka berada sebagai ikhtiar kita,” ujarnya.
Selain menggelar salat Istisqa, Al Azhar juga melakukan penggalangan bantuan bagi masyarakat terdampak bencana, termasuk korban gempa dan musibah lainnya.
Tatang mengatakan penggalangan donasi telah dilakukan sejak sekitar sebulan sebelumnya dengan melibatkan unit-unit pendidikan Al Azhar di berbagai daerah.
Dari sekitar 270 unit sekolah Al Azhar di Indonesia, para siswa dan warga sekolah turut diedukasi untuk ikut menggalang donasi.
Pada pelaksanaan salat Istisqa, Relawan Lembaga Amil Zakat (LAZ) Al Azhar kembali mengumpulkan donasi.
Tatang menyebut dana yang terkumpul pada kegiatan pagi tadi berada di kisaran Rp8 juta hingga Rp10 juta.
Bantuan Al-Azhar untuk wilayah terdampak bencana antara lain berupa makanan siap saji, selimut, pakaian, serta dukungan penyediaan rumah singgah dan sumur air bersih.
“Termasuk juga kita menyiapkan ambulans untuk kegiatan pengangkutan yang sakit ataupun yang musibah yang lainnya,” kata Tatang. (m31)