Jakarta (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mengemukakan inflasi tahunan Jakarta pada Agustus 2026 sebesar 2,71 persen, yang didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

"Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan ini utamanya didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 3,57 persen yang memberikan andil inflasi sebesar 0,69 persen," kata Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto di Jakarta, Selasa.

Komoditas dengan andil inflasi besar pada kelompok tersebut yaitu daging ayam ras dengan andil sebesar 0,24 persen, lalu beras, dan minyak goreng.

Lebih lanjut, kelompok pengeluaran lain yang mengalami inflasi tahun ke tahun cukup tinggi yaitu adalah kelompok transportasi yang mengalami inflasi sebesar 4,83 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,65 persen.

"Inflasi pada kelompok ini terutama disumbangkan oleh komoditas bensin (dengan andil 0,45 persen)," kata Kadarmanto.

Kelompok pengeluaran lain yang juga mengalami inflasi tahunan tinggi berikutnya yakni perawatan pribadi dan jasa lainnya yang memberikan andil sebesar 0,61 persen.

Sementara itu, secara bulanan Jakarta mengalami inflasi sebesar 0,15 persen pada Agustus 2026, dengan penyumbang utama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil sebesar 0,15 persen.

Komoditas utama penyumbang inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yakni daging ayam ras dengan andil 0,14 persen, lalu pelumas atau oli mesin (0,02 persen).

Selanjutnya, sigaret kretek mesin (SKM), kacang panjang, dan buncis yang masing-masing memberikan andil sebesar 0,01 persen terhadap inflasi umum secara bulanan pada Agustus 2026.