Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Nur Rahma Sagita
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU SELATAN – Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan meminta masyarakat dan perusahaan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama saat melakukan pembukaan maupun pengelolaan lahan.
Imbauan tersebut disampaikan Bupati Bengkulu Selatan Rifai Tajuddin setelah sejumlah titik panas atau hotspot sempat terdeteksi di wilayah Bengkulu Selatan dalam beberapa waktu terakhir.
Titik panas yang terdeteksi tersebut telah diketahui penyebabnya. Berdasarkan informasi yang diterima pemerintah daerah, hotspot tersebut diduga berasal dari aktivitas petani yang melakukan pembakaran jerami setelah panen.
“Memang minggu yang lalu kita terdeteksi adanya hotspot di wilayah Bengkulu Selatan. Alhamdulillah sudah terjawabkan, ternyata ada beberapa hotspot yang terjadi akibat petani kita melakukan panen dan pembakaran jerami,” ujar Rifai saat diwawancarai TribunBengkulu.com, Selasa (1/9/2026).
Menurutnya, pembakaran jerami tersebut berlangsung dalam waktu relatif singkat. Namun, panas yang dihasilkan selama sekitar dua jam tetap terdeteksi sebagai hotspot.
Rifai memastikan saat ini tidak lagi ditemukan hotspot di wilayah Bengkulu Selatan setelah aktivitas pembakaran tersebut berhenti.
Di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap karhutla, kondisi cuaca dalam dua pekan terakhir turut membantu menekan potensi kebakaran.
Rifai mengatakan hujan telah mengguyur sejumlah wilayah di Kabupaten Bengkulu Selatan.
Meski demikian, beberapa wilayah masih perlu mendapat perhatian karena curah hujan belum setinggi daerah lainnya, terutama Kecamatan Pino dan Ulu Manna.
Baca juga: Pemkab Bengkulu Selatan Sanksi PT SBS Imbas Pencemaran Sungai Selali, Diberi Tenggat Waktu 30 Hari
“Alhamdulillah dalam dua minggu terakhir Bengkulu Selatan sudah diguyur hujan di beberapa kecamatan. Meskipun memang ada daerah Pino dan Ulu Manna, tetapi kalau daerah Seginim, Kedurang, Bunga Mas dan Manna, curah hujannya sudah cukup tinggi,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah menilai risiko kebakaran saat ini relatif lebih terkendali.
Namun, kewaspadaan tetap perlu dijaga mengingat aktivitas pembukaan dan pengelolaan lahan masih berlangsung.
Perusahaan maupun masyarakat yang melakukan pembukaan lahan agar tidak lengah terhadap potensi munculnya api.
Menurutnya, pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, bukan hanya pemerintah.
Ia meminta pemilik perusahaan serta masyarakat yang membuka atau mengelola lahan memperhatikan kondisi lingkungan dan memastikan aktivitas yang dilakukan tidak memicu kebakaran.
“Untuk pemilik perusahaan agar tetap memperhatikan dan tetap waspada agar tidak terjadi kebakaran hutan. Termasuk kepada siapa saja yang membuka hutan, mohon kerja sama yang baik agar kita dapat menjaga udara dan hutan kita,” pungkasnya.
Pemkab Bengkulu Selatan berharap kewaspadaan tersebut dapat menjadi langkah pencegahan sejak dini, sehingga kemunculan titik panas tidak berkembang menjadi kebakaran hutan dan lahan yang lebih luas.
Pemerintah daerah juga mengajak masyarakat ikut menjaga lingkungan, terutama kawasan hutan dan lahan yang rawan terbakar selama kondisi cuaca masih berpotensi berubah.