Kerja Sama Trem Ditandatangani, MTI Bali Ingatkan Pemerintah Tak Lompati Transportasi Dasar
Ida Ayu Suryantini Putri September 01, 2026 08:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Bali, I Made Rai Ridartha, menanggapi rencana pengembangan perkeretaapian (trem) di Kabupaten Badung yang ditandai dengan penandatanganan Naskah Kesepakatan Bersama antara Pemprov Bali, Pemkab Badung, dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) pada Selasa (1/9/2026).

MTI mengingatkan pemerintah agar penyediaan transportasi publik dilakukan secara berjenjang dan tidak "melompat-lompat" sebelum menuntaskan layanan dasar berbasis jalan.

Rai Ridartha menekankan bahwa penyediaan transportasi darat berbasis bus seperti Trans Sarbagita dan Trans Metro Dewata seharusnya menjadi prioritas utama untuk dimaksimalkan terlebih dahulu.

Baca juga: Tren Positif Transportasi Publik Sarbagita: Penumpang TMD Tembus 5.000 Orang Per Hari

Saat ini, Bali baru memiliki 8 koridor layanan bus dengan anggaran sekitar Rp59 miliar, jauh dari kebutuhan ideal yang diperkirakan mencapai 34 rute (17 koridor utama dan 17 koridor cabang).

"Sebetulnya sebelum melompat nih, sebelum melompat kepada jenis layanan yang lain apakah itu LRT, apakah ke Trem, bahkan MRT, harusnya secara teori lengkapi dulu, lengkapi dulu layanan transportasi di atas permukaan di jalan berbasis bus itu untuk memperluas wilayah jangkauan layanannya," ujar Rai Ridartha.

Ia menjelaskan, keterbatasan rute dan belum tersedianya angkutan pengumpan (feeder) membuat masyarakat belum terdorong berpindah dari kendaraan pribadi.

Dari kalkulasi MTI, dibutuhkan dana sekitar Rp240 miliar untuk mengoperasikan 34 rute agar mampu menjangkau 80 hingga 90 persen wilayah Sarbagita. Pembiayaan tersebut dapat disokong oleh kapasitas fiskal Pemkab Badung yang kuat serta alokasi Pungutan Wisatawan Asing (PWA).

Baca juga: Atasi Krisis Air Sarbagita, PJT I Terapkan Smart Water Management System di Bali

"Kita kan punya PWA, pungutan wisatawan asing. Kalau 6,5 juta orang target 2026 kalau benar nariknya, itu kan Rp1 triliun hampir. Nah, kalau 30 persen saja diambil dari sana berdasarkan ketentuan, itu kan sudah dapat Rp300 miliar. Tadi kita hitung Rp240 miliar kan cukup sebetulnya untuk 34 rute," jelasnya.

Mengenai rencana pembangunan trem maupun water taxi di Badung, MTI pada dasarnya menyambut baik bertambahnya alternatif transportasi bagi masyarakat. Namun, Rai menekankan pentingnya membangun transportasi publik yang inklusif untuk semua mobilitas warga lokal dan pekerja (commuter), bukan sekadar memanjakan wisatawan.

"Justru harapan kita penyediaan transportasi publik ini adalah transportasi publik yang inklusif, untuk semua. Yang mana lokal memanfaatkan, asing memanfaatkan. Jangan membangun transportasi gara-gara gempur turisnya lancar, biar masyarakatnya, biar orang yang di Bali ini lancar," tegasnya.

Terkait skema pendanaan, MTI mengingatkan agar pemerintah mengkaji secara cermat prioritas penggunaan anggaran daerah jika proyek perkeretaapian tersebut menyerap dana APBD.

"Kalau bisnis-to-bisnis berbicara mungkin sesuaikan, siapa pun enggak bisa menghalangi. Tapi ketika nanti pembangunan ini menggunakan dana pemerintah, APBD, perlu dipikirkan lebih cermat mana prioritasnya," pungkas Rai.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten Badung, dan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) resmi menandatangani Naskah Kesepakatan Bersama rencana pengembangan perkeretaapian di Kabupaten Badung, Selasa 1 September 2026. 

Agenda utama kerja sama ini adalah pembangunan moda transportasi trem massal yang menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Kuta, Legian, hingga Canggu.

Penandatanganan dilakukan oleh Gubernur Bali Wayan Koster bersama Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dan Direktur PT. KAI. Bobby Rasyidin di Ruang Kertha Sabha, Rumah Jabatan Gubernur Bali.

Proyek infrastruktur perkeretaapian sepanjang 13,1 kilometer ini dirancang di bawah inisiatif Bali Low Emission Zone Initiative (BLEZI) sebagai solusi mengurai kemacetan di Bali Selatan. Proyek ini dibagi menjadi dua tahap pembangunan, yakni Fase 1A rute Bandara-Legian (6,6 km) dengan target operasi komersial kuartal IV 2028, serta Fase 1B rute Legian-Seminyak-Canggu (6,5 km) pada kuartal I 2031. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.