TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Pernyataan Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto terkait rencana pembangunan Bandara Bali Utara mendapat tanggapan dari Sekretaris Majelis Paiketan Puri Sejebag Bali, Anak Agung Ngurah Ugrasena.
Ugrasena meluruskan bahwa dalam pertemuan di Puri Agung Blahbatuh, Gianyar, Hasto tidak pernah secara spesifik menyatakan penolakan terhadap rencana pembangunan Bandara Bali Utara.
Dikonfirmasi Selasa (1/9/2026), Ugrasena menjelaskan terdapat dua agenda dalam pertemuan tokoh-tokoh puri dengan Hasto di Puri Agung Blahbatuh. Agenda pertama yakni persembahyangan bersama untuk memohon kebaikan bagi negeri.
Baca juga: Bandara Ngurah Rai Bali Layani 13,2 Juta Penumpang Semester 1 2026, Ada 80 Ribu Pergerakan Pesawat
"Pak Hasto dalam hal ini adalah tokoh penting, tokoh sentral juga. Beliau merupakan Sekjen partai besar, PDI Perjuangan. Karenanya kami mengajak untuk Pak Hasto bersama-sama kita sembahyang," jelasnya.
Persembahyangan tersebut digelar di tengah berbagai musibah yang terjadi di sejumlah daerah. Mulai dari banjir bandang, kebakaran hutan, hingga gempa yang menelan korban jiwa di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Dan juga termasuk banyak sekali demo dan berhari-hari malah demo, ada apa ini? Kan gitu," imbuhnya.
Selain sembahyang bersama, tokoh puri juga mengajak Hasto ramah tamah dan membahas berbagai persoalan di Bali.
Mulai dari banjir di Badung, persoalan sampah, hingga ketimpangan pembangunan antara Bali Selatan dan wilayah lainnya.
Baca juga: Satu WNA Ditangkap di Bandara, Terduga Pelaku Wanita dalam Video Asusila Berawa Bali Masih Diburu
"Kemudian kami prihatin terhadap keseimbangan pembangunan. Di mana pembangunan sepertinya numpuk di selatan," ujarnya.
Ugrasena mengatakan pemerataan pembangunan menjadi salah satu hal yang disampaikan dalam pembicaraan tersebut.
Menurutnya, pembangunan Bali tidak seharusnya hanya terpusat di wilayah selatan, sementara sejumlah wilayah lain seperti Buleleng dan Karangasem masih membutuhkan perhatian.
"Kami memerlukan adanya suatu pembangunan yang mengarah kepada keseimbangan," katanya.
Namun, menurut Ugrasena, rencana pembangunan Bandara Bali Utara tidak menjadi materi yang disampaikan Hasto saat mendapat kesempatan berbicara.
Hasto justru menyampaikan pandangan secara umum mengenai pembangunan Bali dan Indonesia, termasuk pentingnya kehati-hatian agar pembangunan tidak semata-mata berorientasi pada kepentingan kapital.
"Pak Hasto kemudian bicara untuk Bali khususnya dan kemudian juga Indonesia, Nusantara, jangan sampai kita salah dalam hal menata daerah kita. Hati-hati untuk pembangunan, jangan kemudian semata-mata eksploitasi untuk kepentingan kapital," jelasnya.
Ugrasena yang mendampingi Hasto selama kegiatan hingga konferensi pers memastikan tidak ada pernyataan spesifik mengenai pembangunan Bandara Bali Utara, terlebih penolakan terhadap rencana tersebut.
"Pak Hasto tidak pernah bicara menolak adanya rencana pembangunan Bandara Bali Utara. Ketika bicara di hadapan kami semua, tidak ada. Hanya bicara tolong berhati-hati dalam hal merencanakan pembangunan," tegasnya.
Penglingsir Puri Gede Buleleng ini mengaku sepakat dengan pesan mengenai pentingnya keseimbangan pembangunan di Bali.
Namun, ia kembali menegaskan agar pernyataan umum Hasto mengenai arah pembangunan Bali tidak dimaknai sebagai penolakan terhadap rencana Bandara Bali Utara.
"Tiang hanya mengajak kepada seluruh masyarakat, Bali ini tiang setuju apa yang disampaikan Pak Hasto untuk kita jaga bersama-sama keluhuran Bali, bagaimana leluhur kita merawat Bali, menjaga Bali," katanya.
Ia menambahkan, para penglingsir puri di Bali memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan leluhur, termasuk budaya, adat, tradisi dan dresta Bali. (*)