Pezeshkian Buka Pintu Damai untuk AS, Iran Siap Balik ke Kesepakatan Awal jika Trump Penuhi Syarat
Nuryanti September 01, 2026 08:38 PM

TRIBUNNEWS.COM – Presiden Iran Masoud Pezeshkian kembali membuka peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi dengan Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya ketegangan militer kedua negara.

Pezeshkian menyatakan Iran siap memberikan respons positif apabila Washington kembali menjalankan komitmen yang tercantum dalam kesepakatan sementara yang telah disepakati pada Juni 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian saat menghadiri KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Kyrgyzstan, Selasa (1/9/2026).

Di tengah meningkatnya ketegangan, Pezeshkian menegaskan bahwa perang bukanlah tujuan Iran.

Presiden Iran tersebut mengatakan Teheran telah menyampaikan dengan jelas bahwa negaranya tidak mencari konflik terbuka dengan Amerika Serikat.

Namun, sikap tersebut bukan berarti Iran akan menerima serangan tanpa memberikan respons.

Pezeshkian memperingatkan bahwa Iran akan mengambil tindakan tegas apabila menghadapi agresi. Menurutnya, Teheran memiliki hak untuk melindungi rakyat, kedaulatan, dan wilayah negaranya.

Karena itu, Iran membuka peluang untuk kembali pada kesepakatan sementara Juni dengan satu syarat utama, yakni Amerika Serikat harus terlebih dahulu kembali menjalankan komitmen yang telah disepakati.

Bagi Teheran, pemenuhan komitmen tersebut menjadi langkah penting untuk mengurangi ketegangan dan membuka jalan menuju penyelesaian yang lebih luas.

Baca juga: Iran Lapor ke DK PBB, Serangan AS ke Pulau Larak Disebut Langgar Kedaulatan

Menteri Luar Negeri Iran Sampaikan Pesan Serupa

Pernyataan Pezeshkian sejalan dengan sikap yang sebelumnya disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Araghchi mengatakan Amerika Serikat harus kembali memenuhi komitmennya dan mematuhi ketentuan dalam memorandum yang telah disepakati.

Menurutnya, pelaksanaan kembali komitmen tersebut menjadi salah satu syarat agar persoalan antara Iran dan AS dapat diselesaikan.

Namun, Araghchi juga menegaskan bahwa Iran tidak akan melepaskan hak-haknya dalam menghadapi apa yang disebut Teheran sebagai serangan agresif Amerika Serikat.

Dengan demikian, Iran tampaknya berusaha mempertahankan dua jalur sekaligus, yakni membuka ruang negosiasi sambil tetap mempertahankan kemampuan untuk merespons secara militer jika kembali diserang.

AS Serang Pasukan Iran yang Dituduh Menebar Ranjau

Tawaran diplomasi dari Pezeshkian muncul sehari setelah militer AS melancarkan serangan terhadap pasukan Iran yang disebut Washington terlibat dalam aktivitas penebaran ranjau.

Amerika Serikat menyebut target serangan tersebut sebagai pasukan penebar ranjau dari Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC.

Washington menggambarkan operasi tersebut sebagai tindakan terbatas dan tepat sasaran yang dilakukan untuk menghadapi ancaman terhadap keamanan pelayaran di kawasan.

Langkah tersebut kemudian meningkatkan ketegangan karena Iran memberikan respons militer dengan melancarkan serangan rudal balistik terhadap sejumlah pangkalan militer AS di Yordania.

Saling serang tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik Iran-AS dapat kembali berkembang menjadi konfrontasi yang lebih luas.

Selat Hormuz Jadi Titik Rawan

Dalam perkembangan konflik tersebut, Selat Hormuz menjadi salah satu kawasan yang paling mendapat perhatian.

Jalur perairan yang berada di antara Iran dan negara-negara Teluk tersebut merupakan salah satu rute utama perdagangan energi dunia.

Jutaan barel minyak serta berbagai komoditas energi biasanya dikirim melalui jalur tersebut menuju pasar internasional.

Karena itu, meningkatnya aktivitas militer di sekitar Selat Hormuz dapat menimbulkan risiko terhadap kapal komersial dan mengganggu kelancaran distribusi energi.

Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan biaya pengiriman, premi asuransi kapal, hingga memicu kekhawatiran terhadap harga minyak dunia.

Situasi keamanan di Selat Hormuz menjadi semakin penting setelah sejumlah negara menyerukan agar kebebasan navigasi dan perdagangan di kawasan tersebut tetap terjaga.

Trump Tetap Tekan Iran

Di saat Pezeshkian membuka peluang diplomasi, Presiden AS Donald Trump justru melontarkan pernyataan keras mengenai kondisi Iran.

Dalam unggahan di Truth Social pada Senin, Trump menyebut Iran sebagai “negara gagal” dan menggambarkan kepemimpinan Teheran berada dalam kondisi kacau.

Trump juga mengklaim tekanan ekonomi dan blokade AS telah memberikan dampak besar terhadap Iran.

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengatakan blokade yang diterapkan terhadap Iran telah memberikan tekanan finansial yang berat.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Washington masih mempertahankan tekanan terhadap Teheran meskipun Presiden Iran memberikan sinyal terbuka untuk kembali ke jalur diplomasi.

AS Disebut Tak Berminat Kembali ke Kesepakatan Juni
Perbedaan sikap kedua negara juga terlihat dari laporan mengenai masa depan kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni.

The Wall Street Journal sebelumnya melaporkan bahwa pemerintahan Trump telah memberi tahu para negosiator bahwa Washington tidak tertarik untuk kembali pada ketentuan memorandum yang telah disepakati pada Juni.

Jika laporan tersebut akurat, posisi kedua negara masih berjarak cukup jauh.

Iran mengatakan siap memberikan respons positif jika AS kembali memenuhi komitmennya. Sebaliknya, pemerintahan Trump disebut belum menunjukkan keinginan untuk menghidupkan kembali ketentuan kesepakatan tersebut.

Perbedaan ini menjadi salah satu hambatan utama bagi upaya meredakan konflik.

KTT SCO Jadi Panggung Diplomasi

Pezeshkian menyampaikan tawaran tersebut ketika berada di KTT SCO di Kyrgyzstan.

Forum tersebut dihadiri sejumlah pemimpin besar, termasuk Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Perdana Menteri India Narendra Modi.

Pertemuan itu menjadi kesempatan bagi Iran untuk menyampaikan posisi diplomatiknya di hadapan negara-negara besar yang memiliki kepentingan terhadap stabilitas kawasan.

Xi menyerukan agar SCO mendorong terciptanya lingkungan keamanan yang lebih universal.

Sementara itu, Modi sebelumnya bertemu dengan Pezeshkian dan membahas situasi di sekitar Selat Hormuz.

India menyerukan terciptanya perdamaian yang berkelanjutan serta kembalinya kebebasan navigasi dan perdagangan di jalur strategis tersebut.

Jalan Damai Terbuka, tetapi Syarat Masih Berat

Pernyataan Pezeshkian memperlihatkan bahwa Iran belum sepenuhnya menutup pintu diplomasi dengan Amerika Serikat.

Teheran bahkan menyatakan kesediaan memberikan respons positif jika Washington kembali menjalankan komitmennya dalam kesepakatan sementara Juni.

Namun, peluang tersebut masih menghadapi sejumlah persoalan.

Iran menuntut AS terlebih dahulu memenuhi komitmen yang telah disepakati, sementara pemerintahan Trump disebut tidak berminat untuk kembali pada ketentuan memorandum tersebut.

Pada saat yang sama, aktivitas militer kedua negara terus meningkatkan risiko terjadinya eskalasi baru.

Situasi tersebut membuat masa depan hubungan Iran-AS masih sulit diprediksi. Jalur diplomasi memang masih terbuka, tetapi keberhasilannya akan sangat bergantung pada kesediaan kedua pihak untuk menurunkan tensi dan kembali menjalankan komitmen yang telah disepakati.

Jika upaya tersebut gagal, konflik berpotensi kembali meningkat dan memberikan dampak lebih luas terhadap keamanan kawasan, terutama di sekitar Selat Hormuz.

Gangguan terhadap jalur tersebut tidak hanya menjadi persoalan bagi Iran dan AS, tetapi juga dapat memengaruhi pelayaran internasional, perdagangan energi, harga minyak, dan stabilitas ekonomi global.

(Tribunnews.com / Namira)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.