Kasus Tewasnya Bambang Setiawan usai Demo DPR, Julius Ibrani Desak Polisi Pakai Pendekatan Intelijen
Facundo Chrysnha Pradipha September 01, 2026 08:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Ketua Indonesia Risk Centre Julius Ibrani menyinggung soal perlunya pengusutan secara investigatif dengan melibatkan intelijen terkait kasus tewasnya penjual cermin Bambang Setiawan (60) saat kericuhan usai aksi demonstrasi di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Kamis (27/8/2026) lalu.

Julius menilai kasus ini tidak akan mengalami perkembangan berarti apabila kepolisian hanya menggunakan pendekatan penyelidikan biasa.

Pasalnya, menurut Julius, kasus tewasnya Bambang bisa terjadi diduga karena adanya massa yang sengaja dikerahkan oleh pihak tertentu untuk membuat kericuhan pasca aksi demonstrasi.

Sekedar informasi, Bambang tewas setelah dikeroyok oleh sejumlah pria misterius di kawasan Pejompongan saat kericuhan terjadi.

Padahal, menurut pengakuan keluarga, Bambang tidak turut ikut dalam aksi demonstrasi yang digelar di depan Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta Pusat.

"Ini yang saya katakan mekanisme untuk mengidentifikasi pelaku itu tidak bisa dilakukan dengan proses criminal justice system biasa. Ini sudah harus ada metode-metode investigasi berbasis intelijen."

"Ini (massa) datangnya dari mana, siapa pengerahnya, kemudian siapa pendananya, dan kemudian terlihat tujuannya bukan untuk demonstrasi menuntut hak dasar tetapi untuk menciptakan kerusuhan dan kemudian menyerang warga dan menciptakan instabilitas sosial," katanya dikutip dari program Kompas Petang di YouTube Kompas TV, Selasa (1/9/2026).

Baca juga: Anies Desak Polisi Usut Tuntas Kematian Bambang Setiawan: Negara Tak Boleh Kalah dengan Pembunuh

Julius meyakini bahwa kericuhan yang terjadi memang sudah direncanakan oleh pihak tertentu secara sistematis.

Dia juga mengungkapkan perlunya kepolisian untuk turut melibatkan kesaksian masyarakat di sekitar lokasi untuk mengungkap kasus kematian Bambang.

Hal itu semata-mata demi memperkaya bukti untuk menetapkan pelaku pengeroyokan terhadap Bambang.

"Dengan kacamata criminal justice system biasa atau peradilan biasa, mencari saksi, mencari bukti, itu tidak akan bsia diselesaikan," tuturnya.

Temuan Indonesia Risk Centre: Ada Lebih dari 1 Kelompok Terlibat Kericuhan

Di sisi lain, Julius menyebut pihaknya belum bisa mengidentifikasi kelompok-kelompok yang terlibat dalam kericuhan tersebut.

Kendati demikian, dirinya mengungkapkan sudah mengetahui ciri-ciri atribut yang dikenakan oleh kelompok masyarakat tersebut.

"Tidak hanya dua kelompok. Kami lihat di lapangan ada beberapa kelompok dengan ciri atau identitas tertentu meskipun tidak menunjukkan identitas siapa. Dengan ikat kepala putih, kelompok berseragam hitam-hitam, ada yang seragam menggunakan alat-alat pengrusak fasilitas publik seperti batu, kayu, dan segala macamnya," ujarnya.

Julius menyebut kelompok-kelompok yang terlibat dalam kericuhan datang di waktu berbeda meski bertemu di titik lokasi yang sama.

Berkaca dari hal ini, dia pun mendesak aparat untuk memiliki sistem mitigasi alih-alih melakukan pendekatan reaktif seperti pembubaran menggunakan gas air mata.

Kronologi Tewasnya Bambang Versi Keluarga dan Polisi

Sebelumnya, istri Bambang, Sudarsi, menuturkan peristiwa bermula ketika sang suami masih berjualan di sekitar kawasan Pejompongan pada Kamis pekan lalu sekitar pukul 16.30 WIB.

Lalu, dirinya meminta agar Bambang segera pulang buntut massa yang telah ramai setelah aksi demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta Pusat.

"Saya lihat massa udah dari sana udah banyak, akhirnya saya bilang sama bapaknya, 'Itu massa udah banyak', saya bilang tutup. Pas dia melihat, 'Oh ya udah, tutup'. Saya bantuinlah," ujar Sudarsi saat ditemui di rumah duka, Jumat (28/8/2026).

Kemudian, Bambang mengantar seseorang yang sakit ke RS Pelni bersama anaknya. Selanjutnya, Bambang kembali ke rumah sekitar pukul 21.00-21.30 WIB.

Setelah situasi dinilai aman, Bambang lantas kembali keluar menuju tokonya di lokasi kericuhan.

Namun, hingga dini hari, Bambang tidak ada kabar dan tak kunjung pulang ke rumah.

Lalu, pada Jumat dini hari sekitar pukul 04.00 WIB, keluarga mengetahui Bambang telah meninggal dunia setelah sang anak mengenali sosok sang ayah dalam video yang beredar di media sosial.

Baca juga: Komnas HAM Selidiki Tewasnya Bambang dan Penganiayaan Fatur di Pejompongan pada 27 Agustus 2026

Dalam video tersebut tampak sejumlah pria membawa kayu. Lalu ada pria yang terlihat diseret dan dipukuli oleh kelompok pria tersebut.

Sudarsi mengatakan keluarga tidak melihat langsung kejadian tersebut.

"Justru kita tahunya dari video. Kita enggak ada yang lihat jelas nih posisi mayat ini, posisi dia dipukulin, posisi dia dibawa, kita nggak tahu," tuturnya.

Sementara, menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto, peristiwa berawal ketika adanya polisi yang mendatangi lokasi usai memperoleh laporan terjadi kericuhan.

Kemudian, dia mengatakan polisi yang datang lantas mengevakuasi seorang laki-laki, yaitu Bambang.

“Pada saat lokasi itu sudah diamankan, Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Metro Jaya mengevakuasi seorang laki-laki yang dalam kondisi pingsan,” ujar Budi, Jumat.

Baca juga: Kisah Bambang Setiyawan Sebelum Jadi Korban Kericuhan 27 Agustus 2026, Sempat Bantu Tetangga Sakit

Selanjutnya, Bambang dibawa ke RS Mintohardjo. Nahas, saat masih dalam penanganan medis, korban dinyatakan meninggal dunia.

“Tapi pada saat penanganan di rumah sakit yang bersangkutan meninggal dunia," jelasnya.

Kemudian, jenazah langsung dibawa ke RS Polri Kramat Jati sekira pukul 00.00 WIB untuk diidentifikasi dan proses visum.

Budi mengatakan pihak keluarga enggan untuk dilakukan autopsi terhadap jenazah Bambang.

“Kami juga bertemu dengan pihak keluarga almarhum, anak kandung, yang bersangkutan tidak bersedia untuk dilakukan autopsi,” ujar Budi.

(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto/Rahmat Fajar Nugraha)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.