Lingga Nurahman, guru SMK dari Cilegon terpilih di antara 50 guru SMA yang akan magang ke Jerman. Bakal 3 bulan magang di Jerman, ini yang akan dilakukan Pak Guru Lingga sekembalinya dari sana.
"Pertama, kita akan diseminasikan hal-hal best practice, praktik baik, yang kita pelajari di sana, pada rekan-rekan sejawat, di lingkungan internal maupun eksternal. Di lingkungan internal, terutama di sekolah saya sendiri, SMKN 1 Cilegon," ujar Lingga yang mengajar teknik otomasi industri.
Hal itu disampaikannya usai acara pelepasan peserta program magang luar negeri bagi guru SMK 2026 oleh Direktorat SMK Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) di Gedung A Kemendikdasmen, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat pada Selasa(1/9/2026).
Sedangkan di lingkungan eskternal, Lingga berencana menularkan ilmunya ke forum guru teknik ketenagalistrikan dan teknik elektronika se-Banten, dan bila memungkinkan, se-Indonesia.
"Kemudian dilanjutkan dengan revitalisasi workshop atau bengkel, sehingga bisa minimal mengikuti perkembangan teknologi workshop yang ada di sana. Selanjutnya program teaching factory, yang mana teaching factory ini banyak sekali tantangannya, terutama di SMP jurusan teknik otomasi industri, yang kurang lebih agak berat untuk mengikuti ketertinggalan teknologi dari Jerman," jelas dia.
Saat ditanya mengenai hal yang paling ingin dipelajari, Lingga menuturkan "karena Jerman sendiri adalah pusat atau kiblatnya dari pendidikan vokasi dunia. Sehingga saya berharap saya dapat mempelajari berbagai macam teknologi, terutama kontrol otomasi,".
Lingga mendapatkan penempatan magang di Technische Universiteit Dresden (TU Dresden). Selain magang, Lingga juga akan mengikuti perkuliahan selama 1,5 bulan di sana. SKS selama kuliah dan magang di TU Dresden, imbuh Lingga, bisa dikonversikan bila hendak melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
"Secara tidak langsung bisa dikonversi juga ini, sebagai program S2 kerjasama dengan Universitas Negeri Yogyakarta. Jadi konversi ini bisa 1 semester, sehingga nanti bisa dilanjutkan di UNY 1 semester lagi, kemudian sidang tesis," urai dia.
Pria yang sudah mengabdi 12 tahun jadi guru SMK ini membeberkan sejumlah persiapan yang dilakukan sebelum dirinya lolos dan berangkat ke Jerman.
"Persiapan-persiapan yang saya lakukan terutama terkait bahasa dulu, ya. Karena kita kan bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, jadi kita perlu persiapan bahasa. Kemudian persiapan pengumpulan dokumen-dokumen, sertifikat-sertifikat yang perlu dilengkapi karena memang ada persyaratan teknis terkait di bidang saya sendiri otomasi," jelasnya.
Adapun, ia menyebutkan sertifikasi yang ia miliki dan cantumkan pada saat pendaftaran yaitu sertifikasi PLC (Programmable Logic Controller), elektroakustik hidrolik hingga kontrol otomasi. Selain dokumen wajib dan pendukung, sang guru juga mempersiapkan kebutuhan sehari-hari selama ia tinggal di Jerman seperti pakaian, maknan, dan sebagainya.
Total, 50 guru akan berangkat ke Jerman dan melaksanakan magang setelah melalui proses seleksi selama kurang lebih dua bulan. Sebanyak 16 guru akan magang di FESTO untuk guru bidang keahlian mekatronika/elektronika industri/otomasi industri/teknik tenaga listrik dan 34 guru lainnya akan melaksanakan magang di Dresden University of Technology untuk guru bidang keahlian konstruksi manufaktur.
Program magang guru SMK di Jerman ini akan dimulai pada 3 September 2026 dan dijadwalkan untuk selesai pada 20 November 2026. Mekanisme pelaksanaan magang ini, mencakup pembekalan dan persiapan sebelum keberangkatan, pembelajaran/pelatihan, praktik dan observasi pada mitra, kegiatan pemagangan atau imersi, serta refleksi dan penyusunan rencana penerapan hasil magang setelah peserta kembali ke Indonesia.
Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) juga berkolaborasi dengan Direktorat SMK Kemendikdasmen untuk memberi bantuan biaya hidup bagi guru SMK yang akan magang di Jerman. Setiap bulannya, LPDP mengalokasikan sejumlah 1,400 euro atau sekitar Rp 28 juta untuk masing-masing peserta magang. Bantuan dana ini dimaksudkan untuk membayar akomodasi, transportasi, hingga biaya hidup sehari-hari seperti makan.





