Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Aktivitas para santri di Pondok Pesantren Walisongo, Kecamatan Bumi Ratu Nuban, Lampung Tengah, kini tak hanya berkutat di ruang belajar dan pengajian.
Baca juga: Refleksi HUT ke-81 RI, Ustaz Ali Murtado Ajak Santri Teladani Perjuangan Para Pahlawan
Sejumlah santri mulai belajar mengelola lahan pertanian dengan membudidayakan cabai. Dari menanam hingga memetik buah yang matang, mereka mendapat pengalaman mengelola kegiatan produktif yang diharapkan bisa menjadi bekal untuk membangun kemandirian pesantren.
Tanaman cabai yang tumbuh di lahan pesantren tersebut bahkan mulai menghasilkan. Pada Rabu (1/9/2026), para santri bersama Pimpinan Pondok Pesantren Walisongo Syaikhul Ulum Syuhadak dan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung Bimo Epyanto ikut memanen cabai.
Budidaya tersebut merupakan bagian dari program Santri Bangun Ketahanan Inflasi yang melibatkan 11 pondok pesantren di Provinsi Lampung.
Namun bagi Pesantren Walisongo, kegiatan itu bukan semata soal menghasilkan cabai.
Budidaya cabai menjadi ruang belajar bagi santri untuk mengenal pertanian sekaligus mengelola kegiatan yang memiliki nilai ekonomi.
Pimpinan Pondok Pesantren Walisongo Lampung Tengah, Syaikhul Ulum Syuhadak, mengatakan kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru bagi para santri.
"Yang paling utama dari kami adalah ini merupakan wadah edukasi bagi anak-anak santri," katanya.
Selama ini, lingkungan pesantren lebih terbiasa dengan aktivitas pertanian seperti sawah dan tanaman singkong, selain peternakan serta perikanan skala kecil.
Kehadiran budidaya cabai membuat para santri memiliki kesempatan mempelajari komoditas hortikultura yang pengelolaannya berbeda dengan tanaman yang selama ini mereka kenal.
Menurut Syaikhul, pertanian di lingkungan pesantren tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pendidikan.
Santri dapat belajar bekerja, mengelola usaha, serta memahami bagaimana sebuah kegiatan pertanian menghasilkan produk yang bisa dimanfaatkan masyarakat.
Hasil panen cabai juga dapat digunakan untuk memenuhi sebagian kebutuhan sehari-hari di lingkungan pesantren, termasuk kebutuhan dapur.
Syaikhul berharap kegiatan tersebut dapat berkembang sehingga pesantren semakin mampu memenuhi kebutuhannya secara mandiri.
"Mudah-mudahan BI selalu terus bisa mendorong pondok-pondok pesantren untuk bisa mandiri, kebutuhan-kebutuhan anak di lingkungan pesantren untuk bisa terus tercukupi," kata Syaikhul.
Ia menilai kegiatan pertanian juga memberikan bekal keterampilan bagi santri setelah mereka menyelesaikan pendidikan di pesantren.
"Dan tidak hanya mencukupi atas apa yang menjadi kebutuhan pangannya saja, juga sebagai edukasi," ujarnya.
Sementara itu, Kepala KPw BI Provinsi Lampung Bimo Epyanto mengatakan pelibatan pesantren dalam budidaya cabai didorong oleh potensi pesantren untuk menjadi bagian dari rantai produksi pangan.
Menurut Bimo, cabai dipilih karena merupakan salah satu komoditas yang berkontribusi terhadap inflasi.
"Lampung di beberapa daerah memang dikenal sebagai produsen hortikultura, salah satunya cabai, namun masih belum mencukupi kebutuhan masyarakat Lampung untuk konsumsi cabai," kata Bimo.
Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi peluang bagi pesantren untuk meningkatkan produksi sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat di sekitarnya.
"Sehingga kami memandang perlu, penting dalam hal ini bahwa pondok pesantren merupakan salah satu, bisa dianggap sebagai salah satu pemain utama untuk mengembangkan cabai sebagai salah satu produk unggulan Provinsi Lampung," ujarnya.
Program tersebut melibatkan 11 pondok pesantren di Provinsi Lampung.
BI berharap budidaya cabai tidak berhenti sebagai kegiatan pertanian, tetapi berkembang menjadi unit usaha yang mampu memberikan nilai ekonomi bagi pesantren.
"Jadi santri produktifnya dapat melalui pengembangan bisnis atau unit usaha yang ada di pondok pesantren," kata Bimo.
Jika unit usaha berkembang, pesantren juga diharapkan dapat melibatkan masyarakat sekitar, baik dalam proses produksi maupun pemanfaatan hasil panen.
Bahkan, Bimo berharap produksi cabai dari pesantren nantinya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di sekitar pondok.
"Yang penting produksinya banyak. Yang penting ini mencukupi tidak hanya untuk pondok pesantren, tetapi juga harapannya mencukupi kebutuhan paling tidak masyarakat sekitar," katanya.
"Masyarakat sekitar tidak perlu harus lari ke pasar untuk beli cabai, tapi cukup ke pondok pesantrennya," sambung Bimo.
Menurut Bimo, semakin kuat produksi pangan di tingkat lokal, semakin besar pula peluang untuk menjaga ketersediaan pasokan dan membantu mengendalikan gejolak harga.
Di sisi lain, pengembangan usaha di pesantren juga menjadi bagian dari upaya BI mendorong ekonomi dan keuangan syariah.
Bimo mengatakan pesantren memiliki potensi besar karena di dalamnya terdapat santri, pengasuh, unit usaha, serta masyarakat sekitar yang dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi.
"Kami Bank Indonesia itu memiliki kebijakan, selain yang berkaitan dengan ekonomi konvensional, kami juga mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah. Kami melihat bahwa salah satu cara kami untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah yaitu melalui pondok pesantren," kata Bimo.
Ia berharap dukungan pemerintah daerah dan kolaborasi berbagai pihak dapat membuat budidaya cabai di pesantren berkembang secara berkelanjutan.
"Dengan dukungan dari pemerintah daerah dan kolaborasi banyak pihak, nanti harapannya menjadi salah satu produsen cabai di Provinsi Lampung," pungkasnya.
(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)