Jelang Pengembangan Blok Masela, Mahasiswa MBD Desak Pemerintah Prioritaskan Tenaga Kerja Lokal
Mesya Marasabessy September 01, 2026 09:52 PM

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Jenderal Louis

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Menjelang pengembangan proyek strategis nasional Blok Masela, mahasiswa Maluku Barat Daya (MBD) mulai mengawal serius keterlibatan masyarakat lokal agar tidak hanya menjadi penonton di tanah sendiri.

Gerakan Mahasiswa Maluku Barat Daya (GEMA MBD) bersama Gerakan Membangun Bumi Kalwedo (GMBK) dan para Ketua Paguyuban Mahasiswa se-Kabupaten MBD melakukan audiensi dengan Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Maluku, Selasa (1/9/2026).

Audiensi tersebut fokus membahas kesiapan tenaga kerja lokal serta memastikan masyarakat MBD mendapat kesempatan nyata dalam berbagai tahapan pengembangan Blok Masela.

Ketua Umum GEMA MBD, Krisandi Petrik Laurika, mengatakan kehadiran Blok Masela harus membawa manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya dalam membuka lapangan kerja, meningkatkan kompetensi, serta memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) lokal.

Menurutnya, proyek migas berskala besar tersebut tidak boleh hanya menghadirkan investasi dan pertumbuhan ekonomi, sementara masyarakat di wilayah penghasil justru tidak mendapatkan ruang untuk terlibat.

"Kami tidak ingin masyarakat Maluku Barat Daya hanya menjadi penonton di tanah sendiri. Blok Masela harus menjadi momentum untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan membuka kesempatan kerja seluas-luasnya bagi tenaga kerja lokal," ujar Krisandi.

Baca juga: Terjerat Kasus Etik Berulang, Keluarga Korban Sebut Wiliam Lomo Tak Pantas Jadi Wakil Rakyat Malteng

Baca juga: Motor Boleh Ngeri, Solidaritas Harga Mati: CBR Community Ambon Berbagi di Panti Asuhan

Masyarakat MBD Harus Jadi Subjek Pembangunan

Dalam audiensi itu, GEMA MBD menegaskan masyarakat MBD harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar penerima dampak dari sebuah proyek besar.

Mahasiswa meminta pemerintah memastikan tenaga kerja lokal mendapatkan kesempatan sesuai kompetensi yang dimiliki, sekaligus diberikan ruang untuk meningkatkan kemampuan melalui pelatihan dan sertifikasi.

Bagi mereka, pengembangan Blok Masela harus menjadi peluang bagi anak-anak daerah untuk mengambil peran dalam pembangunan wilayahnya sendiri.

"Keberadaan Blok Masela harus menjadi pintu masuk bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat MBD. Anak-anak daerah harus dipersiapkan agar mampu bersaing dan terlibat langsung dalam industri yang berkembang," kata Krisandi.

Minta Antisipasi Dominasi Tenaga Kerja Luar Daerah

Selain mendorong keberpihakan kepada tenaga kerja lokal, mahasiswa juga menyampaikan kekhawatiran terhadap potensi dominasi pekerja dari luar daerah dalam berbagai tahapan proyek.

GEMA MBD meminta pemerintah memiliki kebijakan yang jelas untuk memastikan kebutuhan tenaga kerja tidak secara otomatis dipenuhi oleh pekerja luar Maluku, sementara masyarakat lokal memiliki potensi yang dapat dikembangkan.

Menurut mahasiswa, prioritas tenaga kerja lokal tidak boleh berhenti sebagai slogan, tetapi harus diwujudkan melalui sistem rekrutmen, program pelatihan, serta pengawasan yang transparan.

"Kalau tenaga kerja lokal memang menjadi prioritas, maka harus ada mekanisme yang jelas dan bisa diawasi publik. Mulai dari kebutuhan tenaga kerja, proses pendaftaran, seleksi hingga jumlah pekerja yang diterima harus terbuka," tegasnya.

Dorong Pelatihan Sesuai Kebutuhan Industri

Dalam kesempatan tersebut, GEMA MBD juga mendorong Pemerintah Provinsi Maluku melalui Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi untuk menyiapkan program peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal.

Pelatihan yang diusulkan harus disesuaikan dengan kebutuhan industri dan tahapan pengembangan Blok Masela, seperti pelatihan vokasi, sertifikasi kompetensi, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), welding, electrical, mechanical, operator, konstruksi, hospitality, hingga logistik.

Mereka menilai pelatihan tidak boleh hanya menghasilkan sertifikat, tetapi harus benar-benar mempersiapkan tenaga kerja yang memiliki kemampuan sesuai standar industri.

Karena itu, pemerintah didorong membangun kerja sama dengan pihak pengembang, kontraktor, vendor, maupun perusahaan terkait agar program peningkatan SDM benar-benar sesuai kebutuhan lapangan kerja.

Pemerintah Diminta Siapkan Database Tenaga Kerja Lokal

Selain pelatihan, GEMA MBD juga meminta pemerintah membangun database tenaga kerja lokal MBD yang akurat dan terintegrasi.

Database tersebut nantinya dapat memuat informasi pendidikan, keterampilan, sertifikasi, pengalaman kerja, serta bidang keahlian masyarakat MBD.

Dengan data tersebut, pemerintah dapat melakukan pemetaan kebutuhan tenaga kerja sekaligus mempersiapkan masyarakat sebelum proses perekrutan tenaga kerja dalam jumlah besar dimulai.

Mahasiswa juga mendorong pemerintah daerah untuk terlibat sejak awal dalam perencanaan kebutuhan tenaga kerja, sehingga persiapan SDM tidak dilakukan setelah proyek membutuhkan pekerja.

Akan Terus Kawal Keterlibatan Tenaga Kerja Lokal

Krisandi menegaskan GEMA MBD bersama elemen mahasiswa dan masyarakat akan terus mengawal perkembangan Blok Masela, terutama terkait peluang kerja bagi masyarakat lokal.

Menurutnya, perjuangan tenaga kerja lokal bukan hanya soal mendapatkan pekerjaan, tetapi memastikan pembangunan berjalan dengan prinsip keadilan, pemerataan, dan keberpihakan kepada masyarakat daerah.

"Kami berharap Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Maluku dapat berkoordinasi secara maksimal dengan Pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya agar persiapan SDM lokal menghadapi Blok Masela dapat dilakukan sejak dini," tutupnya.

Bagi mahasiswa MBD, pengembangan Blok Masela harus menjadi momentum perubahan. 

Masyarakat lokal harus dipersiapkan, diberikan kesempatan, dan dilibatkan secara nyata agar manfaat pembangunan dapat dirasakan oleh masyarakat di daerah sendiri.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.