Situasi Mereda, Massa Aliansi Masyarakat Sipil Lanjut Orasi di Simpang Gramedia Sudirman Yogyakarta
Muhammad Fatoni September 01, 2026 10:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Massa dari Aliansi Masyarakat Sipil menggelar aksi di Simpang Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Yogyakarta, Selasa (1/9/2026).

Setelah sempat terjadi gesekan dan situasi sedikit memanas, situasi akhirnya mereda setelah aparat kepolisian meredam ketegangan.

Massa pun melanjutkan aksinya dengan menggelar orasi.

Gabungan aliansi mahasiswa hingga masyarakat sipil tersebut membawa dua tuntutan utama yakni turunkan rezim hari ini dan tarik mundur kolonialisme Indonesia dari wilayah periferi jajahannya.

Ketua Serikat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (SEMA UGM), Mesa, mengatakan akar permasalah bangsa ini karena kebijakan yang lahir dari kepemimpinan rezim saat ini. Kondisi saat ini semakin semrawut dan jauh dari konstitusi. 

“Banyak permasalahan yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Alih-alih kita punya banyak tuntutan, mungkin bisa sampai 200 tuntutan, lebih baik disederhanan ke akar permasalahannya, yaitu rezim hari ini,” katanya saat ditemui di simpang empat Gramedia, Selasa (1/9/2026) malam.

Pemerintah saat ini tak ubahnya kolonialisme Belanda. Negara ini masih dijajah oleh alokasi APBN yang justru difokuskan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, dan banyak program prioritas yang dipaksakan.

Mesa menilai pemerintah tidak hanya mengambil anggaran rakyat, namun semakin jauh dari cita-cita kemerdekaan yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Setidaknya ada empat janji kemerdekaan, dimana negara bertugas melindungi, menyejahterakan, dan menderdaskan kehidupan bangsa, serta ikut dalam perdamaian dunia.

“Kita bisa lihat apakah MBG mencerdaskan kehidupan bangsa ketika jsutru anggaran pendidikan untuk KPI-K, untuk beasiswa, gaji dosen, gaji guru diabaikan hanya untuk makanan yang dipaksakan. Apakah Koperasi Desa Merah Putih itu melindungi masyarakat desa, sementara dana desa dipaksa untuk dikeruk, tidak ada sama sekali otonomi desa ataupun keinginan desa yang diakomodir oleh pemerintah pusat,” terangnya.

“Maka itu juga adalah bentuk kolonialisme, itu juga bentuk penindasan, itu juga bentuk keresahan yang timbul dan kita harus suarakan itu juga,” sambungnya.

Sementara itu, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, Risyad menjelaskan menghentikan kolonialisme di Indonesia berbicara tentang prioritas negara yang justru meminggirkan rakyat menengah bawah.

“Kolonialisme hari ini berbicara bagaimana pemrintah menagtur tata kelola penanganan bencanya, kemudian mengekstrak sumber daya alam di Indonesia secara serampangan, kemudian berbicara bagaimana akhirnya priorotas negara tidak diraskan oleh masyarakat menegah ke bawah, tetapi kaum elit,” imbuhnya. 

Baca juga: Unjuk Rasa di Simpang Gramedia Sudirman Jogja Memanas, Ada Gesekan Demonstran dengan Warga

Sempat Memanas

Sebelumnya, kericuhan sempat terjadi yang melibatkan massa dari Aliansi Masyarakat Sipil dan warga.

Mahasiswa sempat dipukul mundur ke utara ke arah Jalan Cik Di Tiro. 

Beberapa mahasiswa aksi mengeluh mendapatkan pemukul dari oknum organisasi masyarakat. 

Kendati sempat memanas, namun massa kembali memadati sekitar simpang empat Gramedia. 

Sementara pihak kepolisian berupaya meredam emosi massa agar tidak terjadi bentrok. 

Aparat kepolisian juga sempat meminta massa aksi untuk segera pulang, namun sampai saat ini mahasiswa masih bertahan dan kembali memadati simpang empat Gramedia. (*/hdy/maw)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.