Operator Mesin Pipil Jagung Asal Nganjuk Curi Hasil Petani di Tulungagung, Modus Mesin Dimodifikasi
faridmukarrom September 01, 2026 11:47 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, TULUNGAGUNG - Empat orang operator mesin jasa pipil jagung asal Kabupaten Nganjuk yang beroperasi di Desa Gesikan, Kecamatan Pakel, Kabupaten Tulungagung, diamankan warga pada Senin (31/8/2026).

Keempat operator tersebut diduga berlaku curang dengan mengambil sebagian hasil pipilan jagung milik warga yang menggunakan jasa mereka.

Modus yang digunakan diduga dengan memodifikasi bagian dalam mesin pipil jagung. Modifikasi tersebut membuat sebagian hasil pipilan tidak langsung jatuh dan tertampung di bagian tertentu di dalam mesin.

Tiga operator berasal dari Desa Balongrejo, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk, yakni Sw (26), RM (32), dan WU (39).

Sementara satu operator lainnya, HS (26), berasal dari Desa Patranrejo, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk.

“Bagian dalamnya dimodifikasi, sehingga tidak semua jagung yang dipipil jatuh. Ada sebagian yang tertinggal di dalam,” ujar Kapolsek Pakel, Akp Anwari, pada Selasa (1/9/2026) malam.

Baca juga: Ratusan Siswa di Sidoarjo Dikabarkan Keracunan, Lebih dari 100 Orang Dirawat di Sejumlah Rumah Sakit

Modus Terbongkar Setelah Petani Curiga Hasil Pipilan Berkurang
Menurut Anwari, dugaan modus tersebut terbongkar setelah seorang warga bernama Win (46) menggunakan jasa mesin pemipil jagung keliling.

Sebagai petani, Win disebut sudah dapat memperkirakan hasil akhir jagung setelah dipipil menggunakan mesin.

Ia kemudian merasa curiga karena hasil pipilan jagung yang seharusnya mencapai sekitar 5 kuintal hanya menjadi sekitar 3 kuintal.

“Akhirnya mesinnya itu diperiksa, dipukul-pukul ada jagung yang tersangkut. Dibuka, di dalamnya ada jagung yang tertinggal dalam jumlah banyak,” sambung Anwari.

Kecurigaan tersebut kemudian membuat warga memeriksa mesin pipil jagung yang digunakan oleh para operator.

4 Operator Mesin Pipil Jagung Diarak ke Balai Desa Gesikan
Empat operator mesin pemipil jagung asal Nganjuk tersebut kemudian ditangkap warga dan dibawa ke Balai Desa Gesikan.

Mesin pemipil jagung yang digunakan juga diarak beramai-ramai oleh warga dengan cara didorong hingga sampai ke balai desa.

Meski sempat terjadi ketegangan, Anwari mengatakan persoalan tersebut akhirnya disepakati untuk diselesaikan secara damai.

“Kalau proses hukum, jagungnya harus disita untuk barang bukti. Pemiliknya tidak mau, dia hanya ingin jagungnya dikembalikan,” tutur Anwari.

Dua Petani di Gesikan Diduga Menjadi Korban
Berdasarkan penjelasan para operator mesin pemipil jagung, terdapat dua warga Desa Gesikan yang diduga menjadi korban.

Dari dua korban tersebut, satu orang kehilangan jagung seberat lebih dari 1 kuintal. Sementara korban lainnya kehilangan jagung kurang dari 1 kuintal.

Para korban kemudian meminta ganti rugi dan sepakat menyelesaikan persoalan tersebut melalui jalan kekeluargaan.

“Satu orang nilainya sekitar Rp 1 juta lebih sedikit, yang satunya Rp 1 juta kurang sedikit,” ungkap Anwari.

Operator Mesin Pipil Jagung Sempat Diamuk Warga
Sementara berdasarkan penjelasan warga, empat operator mesin pemipil jagung tersebut sempat menjadi sasaran amukan warga.

Warga geram lantaran menduga para operator tersebut menjadikan petani kecil sebagai sasaran untuk mengambil sebagian hasil pertanian mereka.

Selain beroperasi di Desa Gesikan, komplotan operator mesin pemipil jagung tersebut diduga juga menawarkan jasa mereka ke sejumlah desa lain.

Kasus ini kemudian diselesaikan secara kekeluargaan dengan permintaan ganti rugi kepada para korban.

(David Yohanes/Tribunmataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.