Update Gunung Merapi Rabu Pagi 2 Sept 2026: Guguran Lava Meluncur hingga 2.000 Meter
Yoseph Hary W September 02, 2026 09:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM - Guguran lava teramati meluncur dari puncak Gunung Merapi sebanyak 2 kali ke arah Barat Daya atau Hulu Kali Sat/Putih, Rabu pagi (2/9/2026).

Hasil pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pada rentang periode 00:00-06:00 WIB tersebut menunjukkan jarak luncur guguran lava sejauh maksimum 2.000 meter.

Gunung setinggi 2968 mdpl di perbatasan Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten (DI Yogyakarta dan Jawa Tengah) tersebut juga mengalami aktivitas kegempaan. 

Setidaknya ada 22 kali gempa Guguran dengan amplitudo 2-27 mm dan lama gempa 37.17-193.83 detik di periode yang sama.

Selain itu terjadi 19 kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 2-25 mm, S-P 0.5-0.7 detik dan lama gempa 12.98-58.7 detik.

Rekomendasi

Otoritas terkait pun mengeluarkan sejumlah rekomendasi berkaitan dengan aktivitas Gunung Merapi. 

1. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km. Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.

2. Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awanpanas guguran di dalam daerah potensi bahaya

3. Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya.

4. Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar dan awanpanas guguran [ APG] terutama saat terjadi hujan di seputar G. Merapi.

5. Masyarakat agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi.

6. Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka status aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali.

Adapun hasil pengamatan visual menunjukkan penampakan Gunung Merapi terlihat jelas. Asap kawah nihil. Cuaca berawan, angin lemah ke arah timur.

Secara Klimatologi, kondisi cuaca berawan, angin lemah ke arah timur. Suhu udara sekitar 14.7-18.1°C. Kelembaban 84-98 persen. Tekanan udara 875.8-919.3 mmHg.

Siaga Darurat: antisipasi kebakaran lereng Merapi

Sebelumnya, Pemkab Sleman memberlakukan status Siaga Darurat Erupsi Gunung Api Merapi seiring adanya peningkatan aktivitas vulkanis dan status Level 3 (Siaga).

Surat Keputusan (SK) siaga Merapi ini, berlaku hingga 30 September dan akan terus diperpanjang secara berkala menyesuaikan perkembangan situasi di lapangan. 

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD Sleman, Bambang Kuntoro mengungkapkan, pemberlakuan status siaga ini langsung diikuti dengan berbagai upaya kesiapsiagaan terpadu.

Satu diantaranya adalah antisipasi ancaman kebakaran vegetasi di lereng gunung ketika musim kemarau saat ini.

"(Upaya yang kami lakukan) satu, ya jelas siaga kebakaran. Karena kemarin sempat kebakaran, dan habis vegetasi atas lereng Gunung Merapi," ujar Bambang, ditemui di kantornya, Selasa (1/9/2026). 

Selain karena cuaca kering, potensi kebakaran lereng ini dipicu oleh luncuran awan panas guguran (APG) yang membakar vegetasi di sepanjang arah luncuran.

Awan panas guguran bisa picu kebakaran saat kemarau

Kepala Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) T. Heri Wibowo menyampaikan, saat terjadi awan panas guguran (APG) dengan estimasi jarak luncur mencapai 2.000 meter yang mengarah barat daya atau hulu Kali Sat. 

Pada Sabtu (29/8) lalu, luncuran APG sempat mencapai batas vegetasi dan menyebabkan terbakarnya vegetasi tersebut. Namun berdasarkan pantauan, api tidak sampai membesar dan segera padam. 

Sebagai upaya mitigasi kebakaran hutan, pemantauan terus dilakukan baik secara visual, peninjauan langsung ke lapangan, maupun melalui SIPONGI untuk memantau keberadaan titik api. Balai Taman Nasional Gunung Merapi juga mensiagakan pos koordinasi kebakaran hutan yang bertempat di Kantor Resort Pengelolaan Taman Nasional Wilayah Srumbung, Magelang dan menugaskan personil. 

"(Personelnya dari) ASN, manggala agni, dan masyarakat mitra polhut atau masyarakat peduli api untuk berjaga atau standby," kata Heri. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.