“AMBE itu. Jangan orang lain somo punggu (ambil itu, jangan sampai diambil orang lain),” teriak Oma Teli Tamasengge (63).
Suara perempuan lanjut usia itu memecah siang di TPA Sumompo ketika sebuah kotak styrofoam yang diletakkan di depan tendanya berukuran sekitar 2x2 meter tiba-tiba terangkat angin dan melayang beberapa meter.
Oma Teli sontak meminta seorang pria yang dipanggil Black Sweet untuk segera mengambil kotak itu sebelum dipungut pemulung lain. Pria berusia 67 tahun itu dijuluki Black Sweet karena perawakannya yang hitam dan rambutnya keriting sekilas mengingatkan pada nama grup band legendaris asal Papua, Black Sweet.
Angin di TPA Sumompo, Manado, Sulawesi Utara, memang datang tiba-tiba pada pukul 14.05 Wita, Rabu, 19 Agustus 2026.
Tiupan angin membawa debu, bau sampah, dan potongan plastik yang beterbangan di sekitar TPA.
Matahari bersinar terik tepat di atas kepala, berpadu dengan langit cerah tanpa awan.
Teriknya memantul dari gunungan sampah, membuat udara terasa lebih panas dibanding di luar kawasan TPA.
Di bawah tenda kecil dari terpal, baliho, dan kayu bekas, Oma Teli menyeka keringatnya.
Di sampingnya ada termos berisi air panas.
“Supaya bisa bikin kopi,” katanya sambil tersenyum kecil kepada wartawan Tribunmanado.co.id, Indri Panigoro, yang saat itu sedang berteduh.
Panas seperti ini sudah menjadi bagian dari hari-harinya.
Hujan maupun kemarau, Oma Teli tetap datang.
“Panas atau hujan sama saja. Tetap memulung.” Sejak pukul lima subuh ia sudah berada di TPA, dan baru pulang sekitar setengah enam sore.
Perempuan asal Kepulauan Siau yang terpisah laut dengan Kota Manado itu mengaku sudah memulung di TPA Sumompo sejak tahun 2000.
Hampir separuh hidupnya dihabiskan di antara sampah yang dibuang warga Manado.
“Kalau ada baju yang dibuang, kita pungut. Syukur-syukur kalau masih bagus. Selain itu botol dan plastik juga kita buru untuk ditimbang kilo,” jelas Oma Teli. Tidak semua sampah dipilah sebelum dibuang ke TPA. Plastik bercampur nasi, ikan, popok, pecahan kaca, besi, dan sisa makanan datang dalam kantong yang sama.
“Yang paling banyak itu sampah campur,” katanya. Karena itu, tangan para pemulung harus mengorek satu per satu isi kantong sampah untuk mencari barang yang masih bernilai jual.
Sesekali pandangan Oma Teli mengarah ke seorang perempuan lanjut usia yang memulung tidak jauh dari tendanya. “Kasihan oma itu. Namanya ma Tina. Dia lebih tua dari saya. Dia sendiri, tidak ada suami. Sudah janda dia,” ucapnya pelan.
Di TPA ini, para pemulung saling mengenal. Mereka tahu siapa yang tinggal sendiri, siapa yang masih menanggung cucu sekolah, siapa yang datang dari luar Manado.
“Kebanyakan KTP luar yang kerja di sini,” kata Oma Teli. Banyak di antara mereka berasal dari Gorontalo, sebagian sudah ber-KTP Manado.
Penghasilan mereka pun berbeda-beda.
Pemulung yang masih muda bisa mengumpulkan lebih banyak barang, sementara Oma Teli mengaku hanya membawa pulang sekitar Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu dalam sebulan dari hasil memulung barang bernilai jual.
Untuk menyambung kebutuhan sehari-hari, ia juga bersaing dengan ratusan pemulung lain mencari sampah organik bukan untuk dikonsumsi, melainkan dijual sebagai pakan babi (boke).
Satu ember sampah makanan bisa dijual seharga Rp 20 ribu. Jika dalam sehari ia berhasil mengumpulkan dua ember, Oma Teli bisa memperoleh sekitar Rp 40 ribu. “Sampah makanan itu untuk pakan boke. Sehari kalau dapat dua ember atau dua kantong, lumayan bisa dapat Rp 40 ribu untuk beli beras dan lauk-pauk di rumah,” ujar ibu empat anak itu dengan semangat.
Setiap hari, tangan Oma Teli Tamasengge bersentuhan langsung dengan sampah di TPA Sumompo.
Ia mengorek tumpukan sampah untuk mencari barang yang masih bisa dikumpulkan dan dijual.
Saat memilah sampah anorganik, maupun organik (sampah basah), Oma Teli lebih memilih tidak memakai sarung tangan.
Menurutnya, sarung tangan membuat tangannya tidak nyaman dan pekerjaan menjadi lebih lambat.
“Kalau pakai sarung tangan, susah mo pilah-pilah. Tangan juga kan basah dari sampah,” katanya.
Masker juga jarang digunakannya ketika bekerja. Untuk menghadapi panas, ia biasanya hanya memakai topi.
Risiko dari pekerjaan itu pernah dialami sendiri oleh Oma Teli. Ia menunjukkan luka di kaki yang pernah dijahit 16 jahitan akibat terkena pecahan botol saat memulung. “Kalau torang cilaka, ongkos sendiri. Tidak ada BPJS (Kalau kami celaka, bayar sendiri. Tidak ada BPJS),” ucapnya datar, seolah sudah terlalu sering menerima kenyataan yang sama.
Pengobatan saat itu harus dibayar sendiri. Ia tidak lagi mengingat berapa biaya yang dikeluarkan. Cedera tersebut membuatnya sempat berhenti memulung.
Namun, tidak lama kemudian ia kembali ke TPA. Kebutuhan sehari-hari membuatnya tidak bisa terlalu lama berhenti bekerja.
Di Sumompo, kondisi seperti itu juga bukan hanya dialami Oma Teli. Pantauan Tribun Manado, pemulung lainnya terlihat memilah sampah dengan tangan dan tidak semuanya menggunakan sarung tangan atau masker.
Bagi Oma Teli, memulung tetap harus dilakukan meski pekerjaan tersebut menyimpan risiko. Sebab dari sanalah ia mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Belakangan, kekhawatiran baru muncul. Para pemulung mendengar nama-nama mereka mulai didata seiring rencana perubahan sistem pengelolaan sampah di TPA Sumompo. Oma Teli mengaku namanya sudah dicatat, tetapi satu pertanyaan terus berputar di kepalanya. Jika TPA ditutup, ia dan para lansia pemulung lainnya mau kerja di mana.
“Torang so tua-tua bagini mo kerja di mana lagi? (Kami yang sudah tua begini mau kerja di mana lagi?). Kami harap pemerintah kasih pekerjaan kalau TPA dipindah. Oma sama opa harus cari uang makan sandiri,” ucapnya sembari memeluk erat lututnya dan menatap ke arah tumpukan sampah serta alat berat di depan tendanya.
Di luar tenda, sebuah truk sampah kembali tiba. Kantong-kantong sampah dilempar ke atas timbunan, disusul beberapa pemulung yang langsung berlari mendekat. Salah satunya Black Sweet. Ketika ditanya ke mana ia akan bekerja jika TPA Sumompo dipindahkan ke TPA Regional Mamitarang di Desa Ilo-Ilo, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, ia menjawab tegas, “Ndak mo tutup (tidak akan tutup)” kalimat yang ia ulangi berkali-kali.
Tina, lansia janda yang disebutkan Oma Teli, juga menjadikan TPA Sumompo sebagai tempatnya mencari hidup. Suaminya sudah tiada, dan meski memiliki anak, anaknya belum bekerja walau sudah lulus sekolah. “Jadi kehidupan oma sehari-hari hanya dari memulung. Untung-untung kalau dapat dua atau tiga tas makanan boke, berarti bisa bawa pulang 60 ribu rupiah sehari,” jelasnya.
Berbeda dengan Oma Teli dan Tina, Reni (50-an) berprofesi sebagai penyapu jalanan di kawasan TPA Sumompo. Ia mendapat upah tetap serta BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan dari Pemkot Manado. Reni mengaku kasihan dengan para pemulung yang sudah tua, meski ia sendiri tidak bisa membantu banyak.
Kondisi para pemulung itu juga diketahui betul oleh Ratna Taasuwi (59), ketua pemulung di TPA Sumompo sekaligus warga sekitar Lingkungan 3. Menurutnya, saat ini masih ada sekitar 150 pemulung yang mencari nafkah di TPA Sumompo, sebagian besar perempuan. Jumlah itu sudah jauh berkurang dari sebelumnya.
Dulu jumlah pemulung di sana mencapai sekitar 300 orang.Ratna sendiri bukan orang baru di antara tumpukan sampah, ia mulai memulung sejak 1989, puluhan tahun hidupnya dihabiskan mencari barang yang masih bisa dijual demi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, rencana pemindahan TPA Sumompo ke TPA Regional Mamitarang menjadi kekhawatiran bagi Ratna dan para pemulung lainnya.
Ia memahami pemerintah sedang berupaya membenahi pengelolaan sampah, namun berharap TPA Sumompo tidak langsung ditutup sebelum ada kejelasan mengenai nasib para pemulung.
*Serial liputan mendalam ini akan berlanjut melalui tulisan-tulisan tematik berikutnya dalam topik TPA Sumompo Manado, menelusuri nafkah, napas, hingga masa depan TPA Sumompo dan orang-orang yang hidup di sekitarnya. Bersambung... (Tribunmanado.co.id/Indri Panigoro)