BANGKAPOS.COM - Kemarau panjang yang melanda wilayah Kepulauan Bangka Belitung kini memperlihatkan penampakan menyedihkan pada sejumlah kolong sumber air baku utama.
Salah satu dampaknya terlihat sangat parah di Kolong Agro Tirto yang mengering hingga 90 persen dan hanya meninggalkan sedikit genangan air di dasarnya.
Kondisi kritis pada kolong pasokan PDAM Sejiran Setason di Kecamatan Mentok tersebut membuat proses penyedotan air bersih terpaksa dibatasi menjadi dua jam saja per hari.
Penyusutan drastis ini terjadi akibat ketiadaan air hujan serta penurunan debit air kiriman yang dimanfaatkan dari aliran Bukit Menumbing.
“Untuk sumber (air-red) dari Menumbing itu, air yang datang ngalir itu cuma 0,8 liter per detik, enggak sampai se-liter,” ucap Harpandi, Direktur PDAM Sejiran Setason.
Padahal, ketika kondisi cuaca normal tanpa dilanda kemarau, debit air yang masuk ke dalam kolong tersebut umumnya dapat mencapai 15 hingga 20 liter per detik.
Guna menjaga kelangsungan pasokan pelanggan di Kecamatan Mentok, PDAM Sejiran Setason masih mengandalkan dua titik sumber air baku penyangga yaitu Kolong Menjelang dan Kolong Terabik.
Kondisi Sumber Air Baku di Bangka Barat
"Kalau untuk Terabik itu pelanggan kita ada sekitar 1.200 lebih, dan itu masih cukup,” jelasnya.
Fenomena kekeringan pada tahun ini dirasakan datang jauh lebih cepat dibandingkan periode tahun sebelumnya.
Kekeringan tahun lalu baru berlangsung selama dua bulan mulai Oktober, sedangkan tahun ini telah terjadi sejak pertengahan Agustus dan diprediksi BMKG dapat bertahan hingga awal tahun 2027.
Sebagai langkah penanganan darurat kebutuhan air bersih masyarakat, pihak PDAM menyiasatinya dengan menyiapkan fasilitas hidran umum di sejumlah titik.
“Sudah kita petakan, ada beberapa titik yang bakal kita siapkan hidran-hidran umum untuk distribusi air kepada masyarakat,” imbuhnya.
Dampak kemarau panjang terhadap ketersediaan air baku masyarakat juga mulai terjadi di wilayah Kota Pangkalpinang.
Penampakan Kolong Bacang yang dikelola PDAM Tirta Pinang untuk wilayah Bukit Intan, Semabung, dan sekitarnya kini menunjukkan penurunan permukaan air yang signifikan dengan tepian mengering.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur PDAM Tirta Pinang Kota Pangkalpinang, M. Agus Salim, mengonfirmasi bahwa cadangan air baku di Kolong Bacang sangat bergantung pada curah hujan.
"Untuk sumber air baku Kolong Bacang, kalau tidak ada hujan sama sekali, diperkirakan cuma bisa bertahan satu bulan," kata Agus Salim kepada Bangkapos.com, Senin (31/8/2026).
Pihak PDAM Tirta Pinang hingga saat ini mengonfirmasi belum memberlakukan pembagian giliran maupun pemadaman air kepada para pelanggan.
"Untuk saat ini kita belum ada melakukan pembagian atau pemadaman bergilir," ujarnya.
Kendati demikian, penurunan kualitas air baku sudah mengganggu proses pengolahan air bersih di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Pedindang yang memanfaatkan Kolong Kacang Pedang dan Kolong Pedindang.
Tingkat kekeruhan air baku pada kedua kolong tersebut tercatat melambung tinggi hingga melampaui angka 500 NTU.
"Untuk IPA Pedindang, yang menggunakan sumber air baku Kolong Kacang Pedang dan Kolong Pedindang, kekeruhan air baku saat ini lumayan tinggi, sudah di atas 500 NTU," katanya.
Kondisi kekeruhan ini memangkas kapasitas produksi air bersih di IPA Pedindang hingga tersisa sekitar 70 persen saja dari kapasitas normal.
"Imbas hasil air produksi menurun, distribusi juga agak terganggu," ujar Agus.
Penurunan tekanan air ini berdampak langsung pada terhentinya aliran air ke rumah-rumah pelanggan yang berada di kawasan dataran lebih tinggi.
"Daerah-daerah tertentu yang berada di wilayah agak tinggi akan sering kehilangan tekanan, air tidak ngalir," katanya.
Kapasitas Produksi IPA Pangkalpinang
Keberadaan sumber air baku di kolong-kolong tersebut menjadi kunci utama bagi kelangsungan distribusi air bersih masyarakat selama kemarau masih berlangsung. (bangkapos.com/ Arya Bima Mahendra/ Andini Dwi Hasanah)