TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang mengepung Palangka Raya membuat aktivitas sehari-hari warga terganggu.
Hal itu dirasakan Ilma Nailah (26), warga Jalan Hiu Putih Ujung, RT 13, RW XIV, Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya.
Menurutnya, selama sekitar dua pekan terakhir, kediamannya dikeping kabut asap.
Terlebih, saat ini Ilma memiliki bayi berusia lima bulan sehingga aktivitas keluar rumah harus dibatasi.
"Ya sangat terganggu sih. Misalnya pagi cari keperluan anak harus keluar rumah, posisinya ya enggak enak juga, dikepung asap, harus beli keperluan anak yang urgent juga," kata Ilma, Selasa (1/9/2026).
Jika sebelumnya ia bisa lebih leluasa keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kini Ilma berusaha mengurangi aktivitas di luar.
Dia memilih memastikan berbagai kebutuhan sudah tersedia di rumah agar tidak perlu terlalu sering keluar dan membawa bayinya ke tengah kepungan asap.
Satu di antara caranya dengan memperbanyak stok makanan dan perlengkapan bayi.
Mulai dari popok, tisu basah hingga kebutuhan bayi lainnya disiapkan sebagai persediaan.
"Jadi harus sedia biar tidak keluar rumah sesering mungkin," ujarnya.
Ilma mempertimbangkan mengungsi ke tempat lebih aman. Namun, membawa bayi keluar rumah dalam kondisi kabut asap juga bukan perkara mudah.
Ilma mengatajan, jika harus pergi ke tempat lain, bayi tetap berpotensi terpapar asap selama perjalanan. Karena itu, ia memilih bertahan di rumah selama tidak ada kebutuhan yang benar-benar mendesak.
"Mau evakuasi tadi juga tidak mungkin. Jadi satu-satunya ya sudah kita bertahan, tapi kita siapin keperluan di rumah, mengurangi kegiatan keluar rumah juga," tuturnya.
Kondisi asap yang semakin pekat juga membuat rumah tidak sepenuhnya terbebas kabut asap. Ilma membeberkan, asap dapat masuk melalui sejumlah celah di bagian belakang rumah yang terbuka.
Situasi terparah dirasakannya pada Jumat (28/9/2026) lalu, ketika langit terlihat menguning dan matahari tampak berwarna oranye.
Untuk mengurangi paparan asap di dalam rumah, Ilma juga membuat ruang khusus di kamar tidurnya.
Sejumlah celah ditutup menggunakan selotip, sementara bagian bawah pintu ditutup menggunakan pengganjal.
Kamar tersebut kemudian dilengkapi AC dan penyaring udara.
Langkah itu dilakukan terutama untuk menjaga kondisi bayi yang masih berusia lima bulan.
Sejauh ini, Ilma menyebut anaknya belum menunjukkan gangguan kesehatan akibat asap.
"Alhamdulillah sejauh ini tidak ada. Kalau bisa jangan kena lah. Saya tidak tahu gimana kalau sampai kena," kata dia.
Kondisi tersebut juga membuat Ilma harus lebih berhati-hati ketika membutuhkan perlengkapan untuk bayinya.
Ia mengaku sempat mencari oksigen kaleng di apotek sebagai salah satu persiapan menghadapi kondisi udara yang memburuk.
Namun, dari pencariannya hanya satu tempat yang masih memiliki persediaan.
Meski demikian, Ilma berharap kondisi kabut asap segera membaik sehingga ia dan keluarganya dapat kembali menjalani aktivitas seperti biasa.
Sebagai ibu dengan bayi kecil, ia tidak ingin kondisi asap yang semakin pekat sampai berdampak terhadap kesehatan anaknya.
Ilma menilai, masyarakat membutuhkan penanganan yang lebih cepat sebelum dampak karhutla semakin meluas.
Menurut Ilma, karhutla bukan persoalan yang baru terjadi di Kalimantan. Ia berharap pengalaman dari kebakaran dan kabut asap pada tahun-tahun sebelumnya menjadi pelajaran agar mitigasi dapat dilakukan lebih awal.
Baca juga: Kisah Warga Palangka Raya 20 Meter Lagi Api dari Rumahnya, Ibu Saya Kadang tak Tidur Khawatir
Baca juga: Karhutla di Palangka Raya, Cerita Relawan Mahasiswa Padamkan Api Dekat Gedung Merah Putih UPR
Ilma juga mengingatkan pemerintah tidak menunggu kondisi asap semakin parah sebelum melakukan langkah penanganan.
"Jangan sampai nunggu asapnya makin tebal dulu baru cepat beraksi," katanya.
Menurut Ilma, penanganan juga harus dibarengi kebijakan yang lebih tegas untuk mencegah karhutla terus berulang.
Ia berharap pemerintah tidak hanya bertindak ketika kebakaran sudah terjadi, tetapi juga memperkuat upaya pencegahan dan mitigasi.