Setahun Tragedi DPRD Makassar, Munafri: Jangan Sampai Terulang Lagi
Ansar September 02, 2026 03:21 PM

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR — Setahun setelah kebakaran Gedung DPRD Kota Makassar, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin meminta tragedi 29 Agustus 2025 tidak berhenti sebagai kenangan duka.

Munafri ingin peristiwa yang menewaskan tiga orang tersebut menjadi pelajaran bagi pemerintah, DPRD, dan masyarakat untuk memperkuat respons terhadap aspirasi warga serta menjaga kondusivitas kota.

Pesan itu disampaikan Munafri saat menghadiri Maulid Nabi Muhammad SAW di Lapangan Tenis DPRD Makassar, Jalan AP Pettarani, Selasa (1/9/2026) malam.

"Jadi kejadian ini tidak akan pernah terlupakan dan akan terus menjadi ingatan di dalam aktivitas keseharian kita," kata Munafri.

Kebakaran gedung DPRD Makassar terjadi pada Jumat malam, 29 Agustus 2025, setelah massa aksi demonstrasi masuk ke area gedung.

Kericuhan yang sebelumnya terjadi di sekitar Jalan AP Pettarani meluas hingga terjadi pembakaran sejumlah kendaraan di area DPRD. Api kemudian menjalar ke bangunan utama.

Tragedi tersebut menelan tiga korban jiwa. Mereka yakni staf Humas dan Protokol DPRD Makassar Muh Akbar Basri, staf fraksi DPRD Makassar Sarina Wati, serta Plt Kasi Kesra Kecamatan Ujung Tanah Syaiful Akbar.

Lima orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Kebakaran juga menyebabkan kerusakan besar pada gedung DPRD dan kendaraan yang berada di lokasi.

Bagi Munafri, peristiwa tersebut meninggalkan luka mendalam bagi Pemkot Makassar, DPRD, dan masyarakat.

Namun, ia meminta tragedi itu tidak hanya dilihat dari sisi kesedihan.

"Kejadian ini hampir berdampak sangat besar, khususnya kita yang ada di Pemerintah Kota dan juga Bapak/Ibu anggota dewan yang terhormat," ujarnya.

Respons Pemerintah Harus Diperkuat

Munafri mengatakan salah satu pelajaran penting dari tragedi tersebut adalah perlunya pemerintah dan lembaga legislatif lebih responsif terhadap kondisi serta aspirasi masyarakat.

Menurutnya, perhatian terhadap kebutuhan warga dan respons yang cepat menjadi bagian penting dalam mencegah persoalan berkembang menjadi konflik.

Koordinasi antarlembaga juga dinilai harus diperkuat, terutama melalui Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

"Ini sangat penting untuk menjaga bukan hanya keselamatan kita, tapi menjaga kondusifnya Kota Makassar yang sama-sama kita cintai," ungkapnya.

Munafri juga menyoroti perlunya perlindungan asuransi terhadap kendaraan, termasuk untuk menghadapi risiko kerusuhan atau huru-hara.

Ia menegaskan dampak tragedi tersebut jauh lebih besar dibanding kerugian materiil.

"Kerugian ini tentu bukan hanya kerugian materiil, tapi kita kehilangan seorang sahabat, kita kehilangan saudara, kita kehilangan seorang teman yang harus mengorbankan jiwa demi kebersamaan kita pada malam hari itu," kata dia.

Maulid Jadi Momentum Memperkuat Persatuan

Munafri menilai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum untuk kembali memperkuat nilai persaudaraan, kasih sayang, kebersamaan, dan persatuan.

Ia berharap peristiwa 29 Agustus 2025 tidak kembali terjadi di Makassar.

Tragedi tersebut, kata dia, harus menjadi catatan bersama untuk memperkuat hubungan antara pemerintah kota dan DPRD.

"Tragedi ini tentu akan menjadi pelajaran berharga untuk kita, bukan untuk dikenang sebagai sebuah hal yang memberikan kesedihan yang mendalam, tapi harus dikenang sebagai sesuatu hal yang tidak boleh terulang lagi," ujarnya.

Munafri berharap tragedi tersebut justru menjadi titik balik untuk mempererat hubungan eksekutif dan legislatif.

"Maka dari itu, harusnya kejadian itu terus mempererat hubungan antara legislatif dan eksekutif yang ada di Kota Makassar ini. Bahu-membahu untuk merespons secara bersama-sama apa yang menjadi harapan-harapan masyarakat Kota Makassar," ungkapnya.

Di akhir sambutannya, Munafri menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.

Ia mengajak seluruh pihak menjadikan tragedi tersebut sebagai bagian dari sejarah Makassar sekaligus pengingat untuk menjaga keamanan dan persatuan.

"Mari kita mengenang apa yang terjadi satu tahun lalu sebagai sebuah catatan yang tidak boleh terulang lagi. Sebuah catatan untuk terus membangun kebersamaan dan sebuah catatan bahwa hanya dengan kekuatan, kekompakan, dan persatuan, kita akan jauh lebih kuat lagi," jelasnya. (*)

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.