Aksi di Simpang Empat Gramedia Sempat Diwarnai Kericuhan, JPW Desak Polri Berkarakter Sipil
Joko Widiyarso September 02, 2026 04:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Aksi unjuk rasa dari aliansi masyarakat sipil di kawasan Simpang Empat Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Yogyakarta, pada Selasa (1/9) malam, sempat diwarnai kericuhan dengan sekelompok masyarakat. 

Insiden ini menuai sorotan. Jogja Police Watch (JPW) menyayangkan pecahnya insiden tersebut, meski aparat kepolisian berjumlah banyak di lokasi kejadian.

Kadiv Humas JPW, Baharuddin Kamba mengatakan, kepolisian diamanatkan konstitusi sebagai alat negara, bukan alat kekuasaan untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. 

Namun, faktanya masih jauh panggang dari api karena kasus kekerasan, intimidasi, dan represi oleh oknum aparat kepada masyarakat sipil masih kerap terjadi.

Hal ini mengindikasikan kritik masyarakat maupun aksi demonstrasi masih dicurigai oleh institusi Polri.

"Ada kesan budaya militerisme warisan orde baru belum sepenuhnya hilang dari lembaga Tribrata tersebut. Sampai sekarang belum ada upaya serius dari institusi Polri berkarakter sipil termasuk menangani aksi demontrasi, kata Kamba, Rabu (2/9/2026). 

Pegiat anti korupsi ini juga menyoroti keterlibatan organisasi kemasyarakatan (ormas) dalam pengamanan aksi.

Menurutnya, pelibatan ormas dalam aksi demontrasi seperti yang terjadi di Jakarta perlu dievaluasi secara menyeluruh dan tuntas, karena penanganan unjuk rasa bukan merupakan tugas dan wewenang ormas, terlebih jika berujung pada tindakan kekerasan.

"Pelibatan ormas dalam menangani aksi demontrasi seperti yang terjadi di Jakarta perlu dievaluasi secara menyeluruh dan tuntas," ujar dia. 

Kericuhan di Simpang Gramedia sendiri bermula sekitar pukul 22.06 WIB ketika aparat gabungan bersama Dalmas Samapta mendesak massa aksi aliansi masyarakat sipil untuk membubarkan diri dan meninggalkan lokasi. 

Di sisi lain, massa yang mengatasnamakan perwakilan warga Yogyakarta yang berada di sisi selatan juga diminta membubarkan diri. 

Ketegangan memuncak akibat negosiasi yang alot setelah massa aksi menilai kelompok warga tidak beranjak dari lokasi.

Suasana semakin panas ketika kelompok yang mengatasnamakan warga merangsek maju dan mendesak mundur peserta aksi, yang membuat massa berhamburan untuk menyelamatkan diri hingga beberapa di antaranya terjatuh. Massa akhirnya membubarkan diri sekira pukul 22.15 WIB.

Pernyataan Polda DIY

Kabidhumas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan, dalam keterangannya menyampaikan bahwa rangkaian penyampaian pendapat di muka umum di Simpang Empat Gramedia ini secara umum berjalan lancar berkat pelayanan humanis yang diterapkan personel Polri di lapangan, dibantu Jaga Warga dan ormas, serta didukung kedewasaan warga sekitar. 

Pihak kepolisian tidak menampik sempat terjadi kesalahpahaman antara massa aksi dan warga akibat penutupan jalan serta aksi yang berlangsung hingga larut malam.

Namun, keributan tersebut diklaim berhasil dikendalikan dengan cepat berkat kesigapan personel di lokasi.

Terkait dampak insiden, kepolisian mengonfirmasi adanya korban luka ringan dari peserta aksi akibat terjatuh di tengah situasi saling dorong. 

Korban langsung dievakuasi menggunakan ambulans UGM ke Rumah Sakit Panti Rapih dan dilaporkan telah kembali ke rumah masing-masing pada malam yang sama.

Selain dari peserta aksi, beberapa personel Polresta Yogyakarta juga dilaporkan terkena semprotan diduga cairan merica dan langsung mendapatkan penanganan medis darurat di dalam ambulans.

Pihaknya mengapresiasi semua pihak yang telah bersama-sama menjaga kepala dingin dan ketertiban selama aksi berlangsung.

"Fokus utama kami dalam pengamanan ini adalah memberikan pelayanan secara humanis guna memastikan hak menyampaikan pendapat di muka umum tetap terpenuhi," kata Ihsan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.