TRIBUNJAKARTA.COM - Polda Metro Jaya kini telah merilis sketsa wajah dua pelaku pengeroyokan yang menewaskan pedagang cermin, Bambang Setiawan (59).
Bambang tewas dikeroyok sejumlah orang tak dikenal saat kerusahan pecah di kawasan Pejompongan setelah aksi demo di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (2/9/2026).
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin mengatakan, sketsa itu diperoleh berdasarkan keterangan saksi-saksi dan analisa digital dari CCTV maupun video-video di media sosial.
"Penyidik melakukan persesuaian antara keterangan saksi dan hasil analisa digital, didapatkan sketsa wajah yang mengarah kepada terduga pelaku pengeroyokan dan atau penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang tersebut," kata Iman, Rabu (2/9/2026).
Iman pun mengungkapkan ciri-ciri kedua pelaku berdasarkan sketsa yang telah dibuat.
Pelaku pertama merupakan pria berusia 30-40 tahun, berwajah oval, alis tipis, bibir tebal, dan berkulit coklat.
"Adapun ciri-ciri fisik sebagaimana sketsa dari ahli sketsa wajah: yang pertama adalah seorang laki-laki diperkirakan berusia 30 sampai 40 tahun, bentuk wajah oval, alis tipis, bibir tebal, hidung pendek, bola mata berwarna hitam dan warna kulit coklat," ungkap Dirreskrimum.
Sementara itu, pelaku kedua adalah pria yang juga berusia 30-40 tahun, serta memiliki kumis dan janggut.
"Yang kedua adalah seorang laki-laki perkiraan usia 30 sampai 40 tahun, bentuk wajah kotak, hidung pesek, bibir bawah tebal, terdapat kumis dan janggut, bola mata berwarna hitam dan warna kulit coklat," ujar Iman.
Gubernur Jakarta 2017-2022, Anies Baswedan mengaku geram dengan aksi premanisme yang sampai menghilangkan nyawa Bambang Setiawan.
Menurut dia, aparat penegak hukum harus mengusut tuntas para pelakunya.
Terlebih, peristiwa berdarah itu begitu terang-benderang, sebab videonya beredar.
"Semalam saya takziah dan jumpa dengan keluarga almarhum Pak Bambang Setiyawan, ceritanya amat mengenaskan. Kita semua tahu, ada jenazahnya, ada video rekaman peristiwanya.
Nah jangan sampai kita tidak melihat tindak lanjutnya. Jangan sampai tidak tuntas pengusutannya," kata Anies pada video yang diunggah di akun Instagramnya (@aniesbaswedan), Selasa (1/8/2026).
Anies mengingatkan, jika dibiarkan, aksi main hakim sendiri berujung maut itu bisa terjadi kepada siapa saja.
"Bila didiamkan, maka kejadian ini akan bisa berulang, berulang dan berulang.
Negara tidak boleh kalah dengan pembunuh. Dan negara tidak boleh kalah dengan para perusak hukum," tegasnya.