TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Nelayan di Kelurahan Lapulu, Kecamatan Abeli, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Nasir, mesti bekerja sampingan sebagai buruh selama musim paceklik.
Pria berusia 67 tahun itu mengatakan, angin kencang dan gelombang tinggi membuatnya bersama nelayan lain tak bisa melaut seperti biasanya.
"Ini kencang angin begini dapat dua sampai tiga ekor ikan rumah-rumah atau ikan putih, karena keras ombak," katanya, Selasa (1/9/2026).
Padahal, saat musim tangkap, Nasir bisa membawa pulang 10 hingga 15 kilogram ikan dalam sekali melaut.
Menurutnya, kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang memengaruhi jumlah tangkapan.
Selain itu, kapasitas perahu juga turut menentukan hasil yang diperoleh nelayan.
Semakin besar perahu yang digunakan, semakin banyak pula hasil tangkapan yang dapat dibawa pulang.
Baca juga: 2 Agenda Pemkot Kendari Hari Ini: Rilis BPS hingga Beri Sertifikat bagi Kelompok Nelayan di Lapulu
Dengan hasil tangkapan hanya dua hingga tiga ekor ikan saat musim paceklik, Nasir mengatakan ikan tersebut biasanya hanya cukup untuk dikonsumsi bersama keluarga.
Kondisi itu membuatnya harus mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Kalau ada kerja bangunan di darat, kerja. Kalau tidak, begitu saja, kita kerja jaring," ujarnya.
Tak hanya menghadapi musim paceklik, Nasir juga mengeluhkan sulitnya memperoleh Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar untuk kebutuhan melaut.
Nasir membutuhkan sekitar 30 hingga 60 liter solar untuk sekali melaut, terutama jika melintasi rute terjauh hingga perairan Labengki.
Namun, harga solar yang dibeli di tingkat pengecer jauh lebih mahal dibandingkan harga di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan atau SPBN.
"Kalau kita beli eceran Rp15 ribu per liter, kalau Pertamina Rp7 ribu lebih," jelasnya.
Dengan kebutuhan tersebut, Nasir harus mengeluarkan biaya sekitar Rp210 ribu hingga Rp420 ribu apabila membeli solar di SPBN.
Sementara jika membeli dari pengecer dengan harga Rp15 ribu per liter, biaya yang dikeluarkan bisa mencapai Rp450 ribu hingga Rp900 ribu.
Meski demikian, Nasir mengaku lebih sering membeli solar di tingkat pengecer.
Pasalnya, menurut dia, terdapat kendala dalam membawa jeriken untuk menampung solar saat membeli BBM di SPBN.
Sementara kebutuhan solar untuk sekali melaut cukup banyak sehingga nelayan memerlukan jeriken sebagai wadah penampung.
"Kendalanya tidak bisa bawa jeriken, sementara kebutuhannya berapa liter jadi kita harus bawa jeriken karena tidak mungkin kita mau angkat mesin," tuturnya.
Selain persoalan solar, nelayan juga berharap SPBN dapat menyediakan BBM subsidi jenis Pertalite.
Menanggapi keluhan tersebut, Wali Kota Kendari Siska Karina Imran mengatakan Pemerintah Kota Kendari akan menyiapkan solusi.
"Kami akan menyurat ke Pertamina supaya dari SPBN bisa ditambahkan fasilitas Pertalite sesuai dengan kebutuhan nelayan," tutupnya. (*)
(TribunnewsSultra.com/Apriliana Suriyanti)