TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) berpotensi menghambat ekosistem kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
Gangguan pasokan listrik dinilai tidak hanya berdampak pada aktivitas rumah tangga dan dunia usaha, tetapi juga dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap penggunaan kendaraan listrik yang masih bergantung pada ketersediaan infrastruktur pengisian daya.
Sebelumnya, PT PLN (Persero) melakukan pengaturan beban atau pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Sulsel sejak Senin (31/8/2026).
Baca juga: Daftar 303 Titik Pemadaman Bergilir di Makassar Hari Ini 2 September 2026, Cek Jadwal dan Lokasinya
Pemadaman dijadwalkan hingga Kamis (3/9/2026), dengan durasi pengaturan beban berkisar satu hingga empat jam di wilayah terdampak.
Manager Komunikasi dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Sulselrabar Niki Rendra Adisetiawan mengatakan, kebutuhan pengguna kendaraan listrik tetap menjadi perhatian PLN selama pelaksanaan pengaturan beban.
Namun, Niki mengakui layanan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dapat ikut terdampak apabila berada di wilayah yang mengalami pemadaman.
“SPKLU pada prinsipnya terhubung dengan sistem kelistrikan setempat, sehingga apabila lokasi SPKLU berada pada wilayah yang terdampak pengaturan beban, layanan pengisian daya dapat ikut terdampak sementara,” kata Niki, saat dihubungi Tribun-Timur.com lewat aplikasi perpesanan WhatsApp, Rabu (2/9/2026).
Meski demikian, lanjut Niki, PLN terus melakukan pemantauan terhadap kondisi SPKLU dan berupaya agar layanan pengisian kendaraan listrik tetap dapat digunakan secara optimal.
Pengguna kendaraan listrik juga dapat memantau status dan lokasi SPKLU secara real time melalui fitur Electric Vehicle di aplikasi PLN Mobile.
Saat ini, PLN UID Sulselrabar telah menyediakan 63 unit SPKLU yang tersebar di 45 titik lokasi di Sulsel.
Infrastruktur tersebut tersebar di sejumlah daerah.
Antara lain Makassar dan sekitarnya, Gowa, Maros, Pangkep, Parepare, Bulukumba, Watampone, Palopo, serta sejumlah wilayah lainnya.
Pengamat: Masyarakat akan Resah
Pengamat Ekonomi Bisnis Universitas Hasanuddin (Unhas) Andi M Nur Bau Massepe menilai, pemadaman listrik bergilir berpotensi menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat, apalagi mereka yang telah menggunakan motor atau mobil listrik.
Lebih dari itu, masyarakat akan mempertimbangkan untuk membeli kendaraan listrik.
Nur Bau Massepe mengatakan, kepastian pasokan listrik menjadi salah satu faktor utama dalam membangun kepercayaan konsumen terhadap kendaraan listrik.
“Ini pasti berdampak. Masyarakat akhirnya bisa resisten dengan kendaraan ini, mereka akan resah,” kata Nur Bau Massepe, saat dihubungi Tribun-Timur.com, via WhatsApp, Rabu (2/9/2026).
Ia juga menilai dampak pemadaman listrik tidak hanya dirasakan oleh pengguna kendaraan listrik secara pribadi.
Tetapi juga dapat memengaruhi aktivitas perkantoran dan industri yang mulai mengandalkan energi listrik dalam operasionalnya.
Nur Bau Massepe berharap PLN mampu secara cepat menangani gangguan dan menormalkan kembali sistem kelistrikan.
Apabila pengaturan beban berlangsung dalam waktu lama atau berulang, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi persepsi masyarakat terhadap keamanan dan keandalan penggunaan kendaraan listrik.
“Yang terpenting seberapa cepat PLN melakukan penanganan. Bila berlarut-larut, akan membuat konsumen beralih kembali ke kendaraan BBM,” jelasnya. (*)