TRIBUNJAMBI.COM, MUARO JAMBI - Hari mulai gelap di kawasan Hutan Lindung Gambut (HLG) Londerang, Kabupaten Muaro Jambi, yang berbatasan dengan Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Namun, aktivitas petugas Manggala Agni belum sepenuhnya berhenti.
Dari celah-celah tanah gambut, sesekali masih terlihat asap tipis keluar ke permukaan.
Bara yang berada di bawah tanah menjadi salah satu tantangan petugas untuk memastikan kebakaran benar-benar padam.
Sejumlah regu Manggala Agni telah tiga hari berjibaku memadamkan kebakaran di kawasan tersebut.
Gambut di lokasi diperkirakan memiliki kedalaman hingga sekitar empat meter.
Dari udara, helikopter dikerahkan untuk membantu penanganan kebakaran. Sementara dari bawah, petugas Manggala Agni menyisir kawasan untuk mencari titik panas dan memadamkan bara yang masih tersisa.
Medan yang mereka lalui pun tidak mudah.
Tanah gambut yang lunak membuat langkah petugas harus dilakukan dengan hati-hati. Sesekali sepatu mereka terperosok ke dalam tanah saat melewati jalur yang telah dipijak berulang kali.
Di tengah kondisi panas dan asap yang membuat udara terasa sesak, petugas memanfaatkan waktu istirahat seadanya.
Kopi dibuat menggunakan peralatan sederhana di lokasi pemadaman. Minuman tersebut menjadi teman sejenak sebelum mereka kembali menyusuri hamparan gambut.
Salah satu petugas yang sudah lama menghadapi karhutla adalah Iriandi Samjaya.
Pria berusia 51 tahun itu telah menjadi anggota Manggala Agni sejak 2007.
Selama 19 tahun bertugas, Iriandi sudah berkali-kali turun ke lokasi kebakaran, terutama di kawasan gambut Muaro Jambi.
“Kalau untuk pemadaman sudah banyak sekali, sudah tidak terhitung lagi,” kata Iriandi saat diwawancarai di Londerang, Sabtu (29/8/2026).
Ia mengaku sudah terbiasa menghadapi karakter lahan gambut.
Menurutnya, pemadaman di lahan gambut berbeda dengan lahan mineral. Salah satu kendala utama adalah ketersediaan sumber air.
“Memang dibutuhkan sumber air yang banyak untuk pemadaman di lahan gambut,” ujarnya.
Di lokasi Londerang, petugas sempat mengalami kesulitan mendapatkan air pada hari kedua pemadaman.
Mereka kemudian menggali tanah hingga menemukan sumber air yang bisa dimanfaatkan untuk proses pemadaman.
“Air kemarin hari kedua sangat sulit di sini. Jadi kami menggali, ada dapat sedikit air, kami semprot,” katanya.
Menurut Iriandi, kedalaman gambut di lokasi mencapai sekitar empat meter.
Kondisi tersebut membuat petugas harus memastikan api dan bara yang berada di dalam lapisan gambut benar-benar padam.
Sebab, meski permukaan terlihat sudah tidak terbakar, asap masih bisa muncul dari celah tanah.
Selama bertugas, Iriandi menyebut pengalaman terberatnya terjadi pada 2019.
Saat kemarau besar melanda, ia bersama petugas lainnya harus berhari-hari bertahan di lokasi kebakaran.
Bahkan, Iriandi pernah tidak pulang ke rumah selama dua pekan.
“Dua minggu tidak balik ke rumah,” kenangnya.
Berbeda dengan sekarang, saat itu fasilitas bagi petugas di lapangan masih terbatas.
Petugas belum memiliki camp untuk beristirahat sehingga harus bertahan di tengah hamparan lahan yang terbakar dengan fasilitas seadanya.
“Kalau dulu tidak ada pakai camp-camp,” ujarnya.
Kini, masa tugas petugas di lapangan lebih diatur.
Setelah sekitar lima hari, petugas akan digantikan oleh regu lainnya untuk menjaga kondisi fisik tetap prima.
“Kalau sekarang lima hari sudah pergantian sama kawan-kawan lain, untuk menjaga kesehatan supaya tetap fit,” kata Iriandi.
Meski sudah terbiasa bekerja di tengah asap dan panas, Iriandi mengakui kondisi fisiknya tidak lagi seperti ketika masih muda.
Saat pemeriksaan kesehatan, tekanan darahnya mencapai 170.
Ia mengatakan tekanan darahnya memang cenderung tinggi, termasuk ketika berada di kantor.
“Memang tensi tinggi, walaupun di kantor tensi juga tinggi,” ujarnya.
Menurutnya, pola tidur selama bertugas di lapangan juga kemungkinan memengaruhi kondisi tubuh.
Namun, tugas tetap harus dijalankan.
Memasuki hari ketiga di Londerang, Iriandi bersama regunya masih bersiaga untuk melanjutkan pemadaman pada hari berikutnya.
Sejumlah titik disebut telah berhasil dipadamkan, sementara luas lahan yang terbakar masih dalam proses penghitungan petugas.
“Alhamdulillah,” katanya.
Hari semakin gelap di Londerang
Asap tipis masih sesekali keluar dari celah tanah gambut. Petugas terus menyisir lokasi, memastikan bara yang tersembunyi tidak kembali menjadi api.
Bagi Iriandi, hampir dua dekade menghadapi karhutla telah mengajarinya bahwa padamnya api di permukaan bukan berarti pekerjaan selesai.
Selama gambut masih mengeluarkan asap, petugas harus tetap waspada.
6 Hari Proses Pemadaman
Sementara itu, Kepala Daops Manggala Agni Bukit Tempurung, Sandy Prabowo, mengatakan penanganan karhutla tersebut kini memasuki hari keenam. Hingga Rabu (2/9/2026) siang, masih ditemukan dua titik yang kembali menyala.
Pada dua hari pertama, tim sempat mengalami kendala sumber air. Namun, kondisi itu kini teratasi setelah tersedia intake air dari kanal yang berbatasan dengan WKS dan dialirkan ke kanal HLG sehingga proses pemadaman dapat dilakukan.
“Hari ini sudah hari keenam. Tadi masih ada dua titik lagi siang ini yang menyala lagi,” kata Sandy.
Ia menyebut pemadaman membutuhkan waktu karena lokasi cukup luas dan berada di lahan gambut dengan kedalaman yang diperkirakan mencapai 3-4 meter. Vegetasi di atasnya juga didominasi akasia liar dan pakis.
Berdasarkan estimasi awal dari perhitungan WKS, luas lahan yang terbakar sekitar 86 hektare.
“Besok pun masih lanjut, karena kami harus meninggalkan lokasi dengan benar-benar tanpa asap,” ujarnya.
5.198 Hotspot Terdeteksi di Jambi Sepanjang 2026, Luas Karhutla Capai 1.776 Hektare
Data yang dihimpun dari Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Provinsi Jambi mencatat sebanyak 5.198 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah Jambi sepanjang Januari hingga 31 Agustus 2026.
Data Satgas Karhutla juga mencatat akumulasi luas lahan terbakar sejak 1 hingga 29 Agustus 2026 mencapai 1.776,56 hektare.
Kabupaten Sarolangun menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi sepanjang 2026, yakni mencapai 1.273 titik. Selanjutnya, Tanjung Jabung Barat sebanyak 948 titik dan Muaro Jambi 847 titik.
Sementara berdasarkan luas lahan terbakar hingga akhir Agustus, Sarolangun menjadi wilayah dengan area terdampak paling luas, yakni 473,64 hektare.
Kemudian Batanghari dengan luas lahan terbakar 374,50 hektare dan Muaro Jambi mencapai 353,38 hektare.
Kondisi kebakaran juga masih ditemukan pada awal September. Pada Selasa (1/9/2026), Satgas Karhutla mencatat 19 titik panas baru hingga pukul 16.00 WIB.
Sebanyak delapan titik berada di Kabupaten Muaro Jambi, termasuk yang terdeteksi di sekitar aktivitas sumur minyak dan PJS. Kemudian Batanghari sebanyak empat titik, Tebo tiga titik, Sarolangun dua titik, dan Tanjung Jabung Barat dua titik.
Kualitas Udara Terganggu
Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah turut berdampak terhadap kualitas udara.
Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) per 1 September 2026 pukul 08.00 WIB menunjukkan parameter PM2,5 menjadi pencemar kritis di sejumlah daerah.
Kabupaten Tebo menjadi wilayah dengan kualitas udara terburuk dengan nilai ISPU mencapai 243 atau masuk kategori sangat tidak sehat.
Kemudian, Kabupaten Muaro Jambi mencatat ISPU 138 yang masuk kategori tidak sehat.
Kondisi serupa juga terjadi di Kota Jambi. Berdasarkan pemantauan Stasiun Paal Lima, ISPU tercatat 137 atau kategori tidak sehat.
Sementara Kabupaten Tanjung Jabung Timur berada pada kategori sedang dengan nilai ISPU 75.
Selain kualitas udara, tingkat kemudahan terbakar pada lapisan atas tanah di sebagian besar wilayah Jambi juga berada pada kategori mudah terbakar hingga sangat mudah terbakar.
Wilayah yang masih relatif aman berada di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh.
10 Orang Jadi Tersangka Karhutla
Penanganan karhutla juga dilakukan melalui penegakan hukum.
Data Satgas Karhutla mencatat terdapat 65 kasus dugaan pelanggaran karhutla di wilayah Jambi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 55 kasus masih dalam tahap penyelidikan dan 10 kasus telah naik ke tahap penyidikan.
Dari perkara tersebut, kepolisian dan tim penegakan hukum telah menetapkan 10 orang sebagai tersangka.
Sebanyak lima perkara telah memasuki tahap I, sedangkan lima perkara lainnya masih dalam proses penyidikan.
Penanganan Karhutla Juga Dilakukan melalui Jalur Udara
Penanganan karhutla juga dilakukan melalui jalur udara.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan pesawat PK-ALA dilakukan dengan menyemai bahan NaCl sebanyak 2.000 kilogram.
Penyemaian dilakukan di sejumlah wilayah, yakni Batanghari, Sarolangun, Merangin, dan Tanjung Jabung Barat.
Selain OMC, dua helikopter water bombing, yakni VN-8414 dan H3214, juga dikerahkan untuk membantu pemadaman dari udara.
Helikopter tersebut melakukan puluhan kali pemboman air dengan total puluhan ribu liter air yang dijatuhkan ke sejumlah area kebakaran di Sarolangun dan Muaro Jambi.
Baca juga: Rakor Bersama Kepala BNPB, Bupati Muaro Jambi Paparkan Enam Permasalahan Karhutla