SURYA.CO.ID, MOJOKERTO - Kalangan pedagang kecil hanya bisa bersikap pasrah merespons rencana penutupan total Jembatan Rolak Songo yang menghubungkan wilayah Kabupaten Mojokerto dengan Kabupaten Sidoarjo.
Akses perlintasan alternatif yang terbilang krusial itu dijadwalkan bakal dihentikan operasionalnya mulai September hingga Desember 2026 demi kelancaran proyek perbaikan struktur bangunan.
Penutupan jalur sibuk itu tak pelak menebar kecemasan mendalam bagi para pelaku usaha kecil yang menggantungkan pendapatan harian dari melintasnya para pengguna jalan.
Salah seorang pelaku usaha mikro di area Rolak Songo, Cholis Dwi Ernawati, menegaskan bahwa dirinya hanya bisa bersiap menerima keputusan perbaikan fasilitas publik itu.
Kendati demikian, mata pencaharian jualan Onde-onde yang ia tekuni kini dibayangi ancaman bangkrut apabila akses jalan vital itu benar-benar ditutup total.
"Saya jualan Onde-onde khas Mojokerto, kita pasrah jembatan Rolak Songo mau ditutup ada perbaikan tanggul yang sudah lama jebol. Tapi kita tidak tahu kapan, tanggal berapa kalau informasinya sampai Desember akhir tahun nanti," ujar Ernawati saat dijumpai di lokasi, Rabu (2/9/2026).
Baca juga: Dinas PUPR Mojokerto Kebut Normalisasi Waduk Cinandang dan Irigasi Watesumpak demi Pertanian
Ia menyampaikan harapan besar agar instansi terkait mampu menuntaskan pengerjaan fisik secepat mungkin supaya iklim usaha kecil tak terpuruk terlalu lama.
Sosok Ernawati merupakan potret rakyat kecil yang menggantungkan asa rizki pada ramai lalulintas kawasan perbatasan Mojokerto dan Sidoarjo itu.
Demi menopang ekonomi keluarga, perempuan berusia 32 tahun itu saban hari harus menempuh jarak 8 hingga 10 kilometer dari kediamannya di Desa Ngingasrembyong, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.
Aktivitas berjualan jajanan tradisional di seberang struktur penyeberangan Rolak Songo itu sudah ia jalani selama tiga tahun terakhir.
"Harapannya untuk pemerintah semoga perbaikan tanggul Rolak Songo nanti bisa cepat selesai, sehingga kami para pedagang bisa berjualan lagi di sini," ungkap perempuan 32 tahun itu.
Ia menilai, tingkat kelangsungan usahanya sangat bergantung pada kepadatan mobilitas warga yang melintasi kawasan perlintasan Rolak Songo.
Kondisi penutupan arus lalu lintas secara otomatis akan memangkas drastis angka penjualan jajanan Onde-onde buatannya.
"Ya pengaruh, kan yang lewat jadinya tidak seberapa banyak seperti biasa. Pendapat kami berkurang juga berkurang," katanya.
Baca juga: Pemkot Mojokerto dan BBWS Rampungkan Perbaikan Tanggul Jebol, Rehabilitasi Berlanjut
Selain masalah kemerosotan omzet, Ernawati menyuarakan kekhawatiran lain terkait lalu lalang armada alat berat di kawasan pengerjaan jalan perbatasan itu.
Pergerakan material fisik dinilai berpotensi mencemari kualitas udara sekitar lewat terpaan debu pekat yang berterbangan.
Kondisi polusi debu itu menjadi kendala serius yang sangat dihindari oleh para penjual produk kuliner demi menjaga kebersihan serta kehigienisan makanan.
"Kalau ada perbaikan kan otomatis banyak debunya, masyakarat sekitar sini banyak yang mengeluh," pungkasnya.
Baca juga: Gus Barra Dorong Anak Muda di Kabupaten Mojokerto Jadi Petani Lewat Modernisasi Alsintan
Sebagai Informasi, Struktur peninggalan bersejarah Rolak Songo berdiri kokoh membelah aliran Sungai Brantas di perbatasan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Sidoarjo.
Infrastruktur fisik yang dibangun pada era kolonial Belanda itu memiliki fungsi utama sebagai penahan arus serta pengatur tata kelola debit air sungai.
Penamaan Rolak Songo sendiri disematkan oleh warga lokal lantaran bendungan itu dilengkapi dengan sembilan buah pintu air berukuran raksasa.
Fasilitas pengairan itu memegang peran yang sangat vital dalam mencegah potensi bencana banjir sekaligus menyokong pasokan irigasi lahan pertanian di wilayah sekitarnya.
Seiring berjalannya waktu, bagian atas struktur bendungan ini difungsikan sebagai jembatan alternatif pelintasan kendaraan roda dua maupun roda empat.
Jalur penyeberangan ini menjadi urat nadi mobilitas warga yang hendak menyeberangi kawasan Sooko di Mojokerto menuju wilayah Tarik di Sidoarjo tanpa perlu memutar jauh.
Kepadatan arus lalu lintas saban hari menjadikan perlintasan ini amat krusial bagi kelancaran aktivitas harian para pekerja, pelajar, hingga pengangkut komoditas.
Ramainya interaksi dan lalu lalang pengguna jalan di kawasan bentangan Rolag Songo secara alami memicu tumbuhnya pusat perekonomian baru di sepanjang tepi jalan.
Puluhan pedagang makanan kecil hingga warung lesehan menjamur di area sekitarnya, menjadikan lokasi itu tempat favorit warga untuk beristirahat.