Gesah Pendidikan Bareng Bupati Ipuk, Bahas Beasiswa hingga Masa Depan Anak Disabilitas
Haorrahman September 02, 2026 09:49 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Persoalan pendidikan menjadi fokus utama dalam forum “Gesah Bareng Ambi Bupati” yang kembali digelar di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Banyuwangi, Rabu (2/9/2026).

Forum kali ini membahas sejumlah isu yang langsung bersentuhan dengan masyarakat, mulai akses beasiswa, pengawasan pelajar di luar sekolah pada jam efektif belajar, sarana dan prasarana pendidikan, keamanan sekolah, hingga masa depan anak penyandang disabilitas.

Sekitar 150 peserta hadir dalam forum tersebut. Mereka berasal dari kalangan penggiat pendidikan, pemerhati pendidikan, mahasiswa, pelajar, akademisi, guru, orang tua siswa, serta pemangku kebijakan.

Mereka mendapat kesempatan menyampaikan persoalan sekaligus gagasan secara langsung kepada Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

Ipuk mengatakan, “Gesah Bareng Ambi Bupati” merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mendengarkan persoalan masyarakat secara langsung. 

Masukan yang disampaikan dalam forum tersebut akan menjadi bahan evaluasi dan penyempurnaan program pembangunan.

“PR kita masih banyak. Karena itu, kami senang mendapatkan banyak masukan dan ide dari masyarakat. Apa yang disampaikan di forum ini akan menjadi bahan untuk perbaikan program-program pendidikan ke depan,” kata Ipuk.

Baca juga: Bupati Ipuk Paparkan Inovasi Layanan Kesehatan Banyuwangi di Leimena Conference Kemenkes

Regrouping Sekolah

Salah satu isu yang mencuat adalah rencana regrouping SDN 1 Singonegaran. Ahmad Radiansyah, salah seorang wali murid, menyampaikan kekhawatiran mengenai dampak psikologis yang mungkin dialami anak-anak jika harus berpindah sekolah.

Menanggapi hal tersebut, Ipuk menjelaskan bahwa rencana regrouping masih dalam tahap kajian. Salah satu pertimbangannya berkaitan dengan pengembangan RSUD Blambangan dan ketersediaan tenaga pendidik di Banyuwangi.

Jika regrouping nantinya dilakukan, Pemkab Banyuwangi memastikan siswa dan orang tua memiliki ruang untuk memilih sekolah tujuan.

“Kalau nanti memang ada regrouping, kami akan memberikan ruang kepada siswa dan orang tua memilih sekolah yang akan dituju. Kami juga memastikan ada pendampingan dari guru selama proses adaptasi pindah sekolah. Yang terpenting, siswa tetap nyaman dan aman dalam belajar,” katanya.

Baca juga: Bupati Ipuk juga Disensus, Ajak Warga Turut Menyukseskan Sensus Ekonomi

Persoalan lain disampaikan Catur Bagus, pendidik dari SMPN 1 Singojuruh. Ia menyoroti masih adanya pelajar yang ditemukan berada di luar lingkungan sekolah ketika jam efektif belajar berlangsung.

Menurut dia, keterbatasan tenaga menjadi salah satu kendala dalam melakukan pengawasan. Karena itu, ia mengusulkan penguatan operasi penertiban terpadu melalui Patroli Kasih Sayang.

Patroli tersebut diusulkan melibatkan Satpol PP, Bhabinkamtibmas, dan Babinsa. Catur juga mendorong adanya regulasi atau imbauan kepada pelaku usaha agar tidak melayani pelajar yang berada di luar sekolah saat jam efektif belajar.

Persoalan fasilitas pendidikan juga menjadi bagian dari diskusi. Numira Ida, guru Bahasa Inggris dari MI Al Hikmah, Desa Tampo, Kecamatan Cluring, menyampaikan kondisi sarana belajar di sekolahnya.

“Kursi dan bangku di sekolah kami sudah banyak yang keropos. Mohon mendapat perhatian. Selain itu, kami juga siap mengabdi untuk Banyuwangi dengan keterampilan yang kami miliki,” tuturnya.

Ipuk merespons langsung aspirasi tersebut dan meminta pengecekan terhadap dukungan melalui BOS Daerah.

“Akan kami cek lagi BOS Daerah. Insyaallah untuk sarana prasarananya siap kami bantu,” jawab Ipuk.

Nining, Ketua Paguyuban SDN 5 Tapanrejo, Kecamatan Muncar, menyampaikan persoalan keamanan sekolah. Lokasi sekolah yang jauh dari permukiman membuatnya beberapa kali mengalami pencurian.

Aspirasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan proses belajar mengajar, tetapi juga menyangkut kelayakan fasilitas dan keamanan lingkungan sekolah.

Baca juga: Hadiri Haul Habib Hadi, Bupati Ipuk Minta Doa Kesejahteraan dan Keselamatan Banyuwangi

Disabilitas

Forum juga membahas pendidikan inklusif dan masa depan anak penyandang disabilitas.

Didik, salah seorang orang tua, menceritakan perjalanan pendidikan putrinya yang memiliki keterbatasan. Sejak duduk di bangku SMP, putrinya mendapat bimbingan dari para guru hingga dapat melanjutkan pendidikan di SMAN 1 Glagah.

Namun, ia mempertanyakan peluang kerja bagi anaknya setelah menyelesaikan pendidikan SMA.

Ipuk meminta para orang tua tetap optimistis terhadap masa depan anak-anak penyandang disabilitas. Menurutnya, berbagai peluang pendidikan, termasuk beasiswa, tetap terbuka bagi anak yang memiliki kemampuan dan prestasi.

“Pemkab juga telah membuka ruang afirmasi bagi penyandang disabilitas. Mulai kesempatan mengikuti seleksi CPNS hingga program magang di sejumlah instansi,” katanya.

Ipuk menegaskan, pendidikan merupakan salah satu fondasi penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus menekan angka kemiskinan.

Karena itu, berbagai masukan masyarakat dalam forum “Gesah Bareng Ambi Bupati” akan menjadi bagian dari proses penyusunan dan evaluasi kebijakan pendidikan di Banyuwangi.

Seluruh aspirasi yang muncul telah dicatat untuk ditindaklanjuti perangkat daerah terkait, khususnya Dinas Pendidikan.

“Gesah ini bukan sekadar ngobrol. Kami ingin setiap masukan bisa ditindaklanjuti dan menjadi bagian dari perbaikan layanan pemerintah kepada masyarakat,” tambah Ipuk.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.