TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA - Pemasaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut lebih efektif dengan menggunakan busa sabun ramah lingkungan dari Jepang.
Sabun bernama Shabondama Soap. Penggunaan busa sabun tersebut telah diterapkan pada karhutla di belakang FMIPA Universitas Palangka Raya, Rabu (2/9/2026) dan terbukti asap karhutla lebih cepat hilang dibanding menggunakan air biasa.
Baca juga: Sherina Ikut Padamkan Api Bareng Mahasiswa, Efek Karhutla Kepung Lahan Praktik FMIPA UPR
Dosen S1 Kehutanan Universitas Palangka Raya (UPR) sekaligus peneliti Centre for International Cooperation in Sustainable Management of Tropical Peatlands (CIMTROP), Kitso Kusin, mengungkapkan, berdasarkan hasil penelituan penggunaan busa pemadam dapat mengurangi kebutuhan air secara signifikan.
Kitso membeberkan, penelitian mengenai penggunaan busa untuk membantu pemadaman kebakaran gambut telah dilakukan bersama peneliti dari Jepang sejak 2012.
Penelitian tersebut, kata Kitso, berawal dari pembicaraan pada 2011 mengenai pemanfaatan produk busa yang sebelumnya dikembangkan di Jepang.
Menurut Kitso, produk tersebut pada awalnya dibuat untuk kebutuhan sabun kecantikan sehingga dinilai tidak berbahaya bagi kulit manusia maupun lingkungan.
Pengembangan pemanfaatannya kemudian diarahkan untuk penanganan kebakaran, termasuk kebakaran pada lahan gambut.
"2011 itu hanya bicara-bicara terkait dengan itu, kemudian 2012 memulai penelitian," kata Kitso.
Pada penelitian awal, para peneliti membuat plot berukuran 10x10 meter. Area tersebut diberi pengaman di sekelilingnya agar api tidak menyebar ke luar lokasi penelitian.
Gambut di dalam plot kemudian dibakar dan dibiarkan selama sekitar 24 jam.
Setelah gambut terbakar, tim melakukan pemadaman menggunakan dua metode, yakni air biasa dan air yang dicampur dengan bahan busa.
Dari pengujian tersebut, terlihat adanya perbedaan kebutuhan air antara kedua metode.
"Lebih banyak air yang digunakan untuk memadamkan kebakaran itu. Sedangkan menggunakan sabun hanya sedikit," ujar Kitso.
Penelitian kemudian dilanjutkan dengan skala yang lebih kecil untuk mengetahui secara lebih spesifik kebutuhan air yang diperlukan dalam proses pemadaman.
Kitso membeberkan, peneliti kemudian membuat kotak berukuran 1,5x1,5 meter sebagai area pengujian.
Hasilnya, untuk memadamkan gambut yang terbakar pada area tersebut menggunakan air biasa dibutuhkan sekitar 19 liter air. Sementara ketika menggunakan bahan busa, kebutuhan air jauh lebih sedikit.
"Dengan menggunakan sabun, hanya memerlukan air 3,7 liter," jelas Kitso.
Dengan perbandingan tersebut, kebutuhan air pada pengujian menggunakan busa turun sekitar 80 persen dibandingkan pemadaman menggunakan air biasa.
Kitso mengatakan, penelitian serupa kembali dilakukan pada 2015 dan hasilnya tidak jauh berbeda.
"Terus berlanjut kemudian 2015 kita lakukan pelatihan lagi dengan hal yang seperti itu sama dan nilainya tidak jauh berbeda," kata dia.
Pengujian kemudian dikembangkan ke skala yang lebih besar pada 2024. Saat itu, para peneliti juga memaparkan penggunaan busa tersebut kepada Pj Wali Kota Palangka Raya, Hera Nugrahayu.
Dalam pengujian tersebut, tim membuat plot berukuran 20x20 meter untuk melihat efektivitas penggunaan busa pada area yang lebih luas.
Menurut Kitso, hasil pengujian dalam skala besar tersebut semakin menunjukkan potensi penggunaan busa sebagai salah satu metode untuk membantu pemadaman karhutla di lahan gambut.
Ia menegaskan, teknologi tersebut memungkinkan untuk digunakan pada skala yang lebih besar.
"Bisa. Dulu bisa, sekarang bisa," ujarnya.
Meski demikian, penggunaan busa ramah lingkungan tersebut masih menghadapi kendala, satu di antaranya persoalan biaya.
Kitso menyebut, bahan busa yang digunakan saat ini masih didatangkan dari Jepang sehingga harganya relatif mahal.
Pihaknya pun tengah mendorong agar bahan tersebut dapat dikembangkan dan diproduksi di Indonesia.
"Kita mau bekerja sama mengundang BRIN, supaya itu bisa dibuat pabriknya di sini dan diproduk di sini," kata Kitso.
Menurutnya, produksi di dalam negeri berpotensi menekan harga karena sejumlah bahan bakunya tersedia di Indonesia.
Dia menjelaskan, bahan baku yang digunakan merupakan jenis tanaman yang mengandung minyak. Sementara produk yang dibuat di Jepang saat ini juga menggunakan bahan baku yang didatangkan dari negara lain, seperti Vietnam dan Thailand.
"Kalau di tempat kita tersedia kan mungkin lebih murah," katanya.
Ia berharap pengembangan teknologi tersebut dapat terus dilakukan sehingga nantinya dapat menjadi salah satu alternatif dalam penanganan kebakaran gambut, terutama ketika kebutuhan air menjadi salah satu persoalan di lapangan.
Terlebih, pemadaman kebakaran gambut membutuhkan air dalam jumlah besar dan prosesnya dapat berlangsung lebih lama karena api bisa menjalar hingga ke lapisan bawah permukaan tanah.
Dengan teknologi busa, kebutuhan air yang lebih sedikit diharapkan dapat membantu mempercepat proses pemadaman sekaligus membuat penggunaan sumber daya air menjadi lebih efisien.
(TRIBUNKALTENG.COM/AHMAD SUPRIANDI)