Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Novanda Halirat
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Ribuan warga datang dari berbagai penjuru Kota Ambon dan berkumpul di Gereja Imanuel Galala-Hative Kecil (Gatik), sekitar pukul 14.00 WIT, Rabu (2/9/2026).
Hari itu bukan sekadar tentang angka 100 tahun.
Tepat pada 2 September 2026, Jemaat Gatik menandai perjalanan satu abad sejak berdiri 2 September 1926.
Seratus tahun perjalanan iman, pelayanan, persaudaraan, dan kebersamaan yang kini sampai pada satu pesan penting: Api Injil harus terus menyala dan tidak boleh padam.
Api itu dinyalakan oleh generasi terdahulu.
Dijaga oleh generasi hari ini.
Dan harus diteruskan generasi yang akan datang.
Semangat itulah yang terasa dalam rangkaian perayaan satu abad Jemaat Gatik.
Baca juga: Kain Gandong 100 Meter Sambut Basudara Jemaat Gatik dari Belanda hingga Jawa, Tangis Pecah di Galala
Sejak Minggu (30/8/2026), jemaat telah mulai menyambut basudara yang datang dari berbagai tempat.
Mereka bukan hanya datang dari wilayah sekitar Pulau Ambon, tetapi juga dari Jawa, Jakarta, Sulawesi, Papua hingga sejumlah negara seperti Belanda dan Irlandia.
Mereka kembali pulang untuk satu momentum, menjadi saksi perjalanan 100 tahun Jemaat Gatik.
Ketua panitia perayaan 1 abad Jemaat GPM Galala-Hative Kecil (Gatik) adalah John Van Capale, mengartikan kepulangan itu sebagai momentum mempersatukan.
Menurutnya kehadiran basudara dari perantauan itu menandakan kecintaan mereka kepada jemaat Gatik ini.
"Sukacita sekali karena ada kehadiran basudara bukan saja di ambon tapi juga ada dari luar daerah dan luar negeri juga," ungkapnya.
John di perjalanan 1 Abad Jemaat ini menitip pesan bermakna bagi anak muda yaitu menjaga persaudaraan tetap rukun.
Sehari sebelum puncak perayaan tepatnya pada, Selasa (1/9/2026), jemaat berkumpul dalam malam perenungan dan persiapan bersama.
Malam itu menjadi ruang untuk melihat kembali perjalanan panjang yang telah dilewati sekaligus menatap perjalanan yang masih jauh ke depan.
Baca juga: Retribusi Pasar Mardika Naik, 80 Persen Pedagang Keberatan hingga UPTD Soroti Minim Sosialisasi
Sebab satu abad bukan garis akhir.
Justru menjadi awal untuk memastikan Api Injil Tetap menyala.
Hingga akhirnya, Rabu (2/9/2026), suasana puncak perayaan mulai terasa.
Momentum ini ditandai dengan ibadah pengucapan syukur yang dipimpin langsung Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pendeta. Jacklevyn Frits Manuputty.
Prosesi awal dimulai, para pendeta dan pelayan gereja yakni Penatua dan Diaken berkumpul di Gereja Lama yang berada sekitar 100 meter dari Gereja Imanuel.
Sesi jalan ini menandai awal perjalanan jemaat Gatik dari sebuah gereja kecil, yang berdiri dekat bibir pantai.
Dari tempat itu, mereka kemudian berjalan menuju Gereja Imanuel.
Di sisi lain, rombongan cakalele dari basudara gandong Negeri Hative Kecil, yakni Negeri Hitu Messing, datang mengawal Raja Negeri Hative Kecil.
Prosesi berjalan menuju satu titik yakni Gereja Imanuel.
Namun, ada satu momen yang membuat suasana berubah menjadi haru.
Dari dua arah berbeda, Raja Negeri Hative Kecil dan Kepala Desa Galala akhirnya bertemu.
Keduanya berhadapan, berpelukan, Tangis haru pecah.
Sebuah pertemuan yang seolah menjadi gambaran bahwa setelah perjalanan panjang satu abad, persaudaraan itu tetap hidup.
Mereka kemudian disambut langsung Pendeta Jemaat GPM Galala-Hative Kecil, Ny. A. Hanoatubun, sebelum bersama-sama memasuki Gereja Imanuel.
Raja Negeri Hative Kecil, Josias Muriany, menurutnya momentum satu abad sebagai makna memperkuat tali persaudaraan jemaat Galala dan Hative Kecil.
Sekaligus meminimalisir adanya indikasi perkelahian antar kampung.
Karena dasar itulah, warga 100 tahun lalu itu berembuk dan membuat satu jemaat baru dan terbentuklah gereja yang berdiri pada 1926 itu.
Hingga satu abad perayaan hari ini, menjadi bukti persaudaraan tetap terjaga.
Dibuktikan juga dengan adanya dua tempat duduk di dalam gereja untuk Raja Negeri Hative Kecil dan Kepala Desa Galala.
"Manifestasi sekarang, ketika tempat duduk raja dan kepala desa di dalam Gereja, maka masyarakat tahu kita harus hidup rukun," katanya.
Selaras dengan itu, Kepala Desa Galala, Jemima Ariesta Marsela Joris, menyatakan rasa syukurnya, jemaat Gatik yang terus bertumbuh dan bertahan hingga saat ini.
Menurutnya, 100 tahun ini adalah jejak panjang yang dipenuhi duka dan tawa, namun tetap pada komitmen bersama.
Sehingga persekutuan itu tetap rukun dan terjaga serta menjadi sejarah bagi generasi selanjutnya.
"Kami bersyukur, perayaan ini bukan perjalanan singkat," ungkapnya.
Di dalam gereja, ibadah perayaan satu abad berlangsung hingga sekitar pukul 18.30 WIT.
Doa dan puji-pujian menjadi bagian dari ungkapan syukur atas perjalanan 100 tahun Jemaat Gatik.
Namun pesan yang dibawa dari momentum ini jauh lebih panjang daripada perayaan satu hari.
Api Injil yang menyala selama satu abad tidak boleh berhenti pada generasi hari ini.
Api itu harus diteruskan.
Dari orang tua kepada anak.
Dari generasi tua kepada generasi muda.
Dari mereka yang dahulu menerima Injil kepada mereka yang kelak menjadi penjaganya.
"Api Injil harus terus menyala dari generasi ke generasi. Api Injil tidak boleh padam," inilah pesan singkat ketua PGI, Manuputty.
Momentum itu kemudian ditandai dengan peresmian Tugu 1 Abad Jemaat Gatik, sebagai penanda sejarah perjalanan jemaat selama 100 tahun.
Perayaan tersebut turut dihadiri Gubernur Maluku, Wali Kota Ambon, jajaran Forkopimda, serta basudara gandong dari Negeri Hitu Lama dan Hitu Messing.(*)