TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK- Ketua Harian Pusdalops BPBD Kalimantan Barat, Daniel, mengajak seluruh pihak berpartisipasi dalam penyediaan layanan oksigen mobile untuk mendukung penanganan kesehatan petugas yang bertugas di lapangan selama operasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Daniel mengatakan, ketersediaan oksigen saat ini memang sudah tersedia di sejumlah rumah sakit dan puskesmas.
Namun, menurutnya, perlu ada layanan oksigen bergerak yang dapat digunakan secara cepat di lokasi operasi.
“Oksigen saat ini memang tersedia di rumah sakit dan puskesmas. Namun, kita perlu mengupayakan adanya pelayanan oksigen mobile sehingga ketika ada petugas yang mengalami sesak napas di lapangan, bisa langsung mendapatkan penanganan,” ujar Daniel.
Menurutnya, tenaga medis juga telah disiagakan melalui ambulans untuk memberikan pertolongan kepada petugas yang mengalami gangguan kesehatan saat menjalankan tugas.
Namun, Daniel mengakui masih terdapat keterbatasan fasilitas.
Karena itu, kebutuhan dan kemampuan layanan kesehatan di lapangan harus dihitung dan direncanakan secara matang.
“Untuk tenaga medis sebenarnya sudah ada yang disiagakan melalui ambulans. Hanya saja, memang ada keterbatasan fasilitas. Hal ini yang harus dihitung dengan benar,” katanya.
Daniel menilai perlu dilakukan pemetaan terhadap jumlah personel yang diterjunkan dalam operasi karhutla.
Baca juga: Hujan Diprediksi Turun Awal September, Penanganan Karhutla di Kalbar Terus Dimaksimalkan
Hal tersebut penting untuk memperkirakan kebutuhan layanan kesehatan apabila sejumlah petugas mengalami gangguan kesehatan secara bersamaan.
“Kita harus mengetahui berapa jumlah pasukan yang berada di lapangan dan membuat asumsi apabila sebagian dari pasukan tersebut mengalami gangguan kesehatan, apakah bisa ditangani oleh ambulans dan tenaga medis yang tersedia,” jelasnya.
Ia menegaskan, kondisi darurat harus diantisipasi sejak awal dengan perencanaan yang matang.
Jangan sampai ketika terjadi keadaan darurat, fasilitas kesehatan yang tersedia justru tidak mampu memberikan penanganan secara optimal.
“Hal-hal seperti ini harus diprediksi dan dibuat perencanaannya. Jangan sampai ketika terjadi kondisi darurat, fasilitas kesehatan yang tersedia tidak mampu menangani,” pungkasnya.
Berdasarkan penelusuran sumber terbuka, Daniel merupakan salah satu pejabat/koordinator yang aktif menjadi juru bicara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Barat, khususnya dalam penyampaian informasi terkait kebencanaan.
Identitas dan jabatan
Nama: Daniel
Instansi: BPBD Provinsi Kalimantan Barat
Peran: Koordinator Harian Pusdalops BPBD Provinsi Kalbar
Bidang: Informasi, koordinasi dan pelaporan penanganan bencana. (*)