TRIBUNNEWS.COM, PALANGKA RAYA - Penyanyi dan penulis lagu Indonesia, Sherina Munaf, yang memiliki kepedulian terhadap konservasi orangutan, turun langsung membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Sherina tiba di Palangka Raya pada Senin (31/8/2026) dan langsung melihat kondisi karhutla di lapangan.
Pada Rabu (2/9/2026), Sherina ikut membantu pemadaman bersama relawan dan mahasiswa Universitas Palangka Raya (UPR) di kawasan sekitar 200 meter di belakang gedung Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UPR.
Pengalaman turun langsung membuat Sherina merasakan beratnya upaya memadamkan api di lahan gambut.
“Aku turut ikut pemadaman juga dan ngerasain sendiri betapa lelahnya, betapa kadang merasa powerless-nya, karena memang dipadamkan, nyala lagi,” kata Sherina.
Kehadiran Sherina di lapangan terjadi ketika situasi karhutla di Kalimantan Tengah kembali menjadi perhatian pemerintah.
Berdasarkan data sistem Sipongi Kementerian Kehutanan per 1 September 2026, jumlah titik panas (hotspot) di Kalimantan Tengah meningkat dari 253 menjadi 623 titik.
Kenaikan lebih tajam terjadi di Kalimantan Barat, dari 273 menjadi 859 titik.
Selain dua provinsi tersebut, peningkatan titik panas juga tercatat di Sumatera Selatan dari 20 menjadi 89 titik, Kalimantan Selatan dari 22 menjadi 73 titik, serta Jambi dari nihil menjadi empat titik. Sementara Riau tercatat nihil titik panas.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan peningkatan hotspot tersebut membuat Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah kembali menjadi prioritas utama penanganan karhutla secara nasional.
“Setelah kemarin semua 6 provinsi yang prioritas trennya turun, namun hari ini Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menunjukkan kembali hotspot yang meningkat,” kata Raja Juli Antoni usai meninjau karhutla di Jambi, Rabu (2/9/2026).
Menurut dia, pemerintah akan kembali memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat di dua provinsi tersebut.
Baca Selanjutnya: Sherina ikut padamkan api bareng mahasiswa efek karhutla kepung lahan praktik fmipa upr
Raja Juli Antoni bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dijadwalkan bertolak ke Pontianak untuk menggelar rapat koordinasi taktis bersama Forkopimda Kalimantan Barat.
“Artinya, prioritas utama sekarang ini secara nasional tetap Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah,” ujarnya.
Konsolidasi tersebut diarahkan untuk menekan kembali jumlah hotspot maupun fire spot yang telah diverifikasi di lapangan.
Di tengah kondisi tersebut, Sherina mengatakan kedatangannya ke Palangka Raya bukan sekadar melihat kondisi karhutla.
Ia juga membawa misi untuk membantu para pejuang lapangan melalui pengumpulan donasi dan dukungan logistik.
“Untuk saat ini aku fokuskan kepada pengumpulan donasi untuk membantu teman-teman pejuang lapangan yang luar biasa banget,” kata Sherina di lokasi karhutla di belakang FMIPA UPR.
Sherina mengaku mendapat gambaran langsung mengenai sulitnya memadamkan api, terutama ketika titik yang sudah dipadamkan kembali menyala.
Ia pun mengapresiasi keterlibatan mahasiswa UPR yang turun bersama relawan dan petugas.
“Saya tadi sangat senang bersama para mahasiswa-mahasiswi dari Universitas Palangka Raya. Ini kita posisi lagi di belakang 200 meter dari gedung MIPA, dan semuanya turut di sini untuk ikut memadamkan api,” ujarnya.
Menurut Sherina, keterlibatan masyarakat tetap harus memperhatikan keselamatan dan mengikuti arahan pihak berwenang.
Sherina juga menyoroti dampak karhutla yang tidak hanya dirasakan manusia.
Kebakaran dan asap juga mengancam satwa serta ekosistem yang menjadi habitat berbagai jenis hewan, termasuk orangutan.
“Dan juga kita harus memikirkan semuanya terdampak di sini, dari manusianya, satwanya juga, dan ada banyak satwa yang perlu dilindungi, seperti orangutan contohnya,” kata Sherina.
Kepedulian terhadap orangutan menjadi salah satu alasan Sherina ikut turun melihat kondisi karhutla di Kalimantan.
Ia sebelumnya beberapa kali terlibat bersama Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), termasuk dalam kegiatan pelepasliaran dan kampanye konservasi orangutan.
“Saya ada ikatan juga, ada kepedulian sangat tinggi pada orangutan. Beberapa kali aku sudah diberikan kesempatan oleh BOSF untuk ikut pelepasliaran dan ikut mengkampanyekan kegiatan-kegiatan konservasi,” ujarnya.
Direktur BOSF Jamartin Sihite mengatakan asap karhutla dapat membuat orangutan panik dan keluar dari habitatnya.
Kondisi tersebut dikhawatirkan memicu konflik antara orangutan dan manusia apabila satwa keluar dari kawasan habitatnya untuk mencari tempat yang lebih aman.
“Kita berharap api bisa segera teratasi, supaya itu tidak terjadi konflik,” kata Jamartin.
BOSF juga terus memantau kondisi orangutan yang berada di pusat rehabilitasi. Pemberian vitamin dilakukan untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh satwa terhadap dampak asap.
Pemantauan juga dilakukan terhadap gejala gangguan pernapasan atau ISPA.
“Tapi juga kita pantau, supaya kita tahu berapa yang sudah kena ISPA, apakah ada yang sudah batuk-batuk, apakah dia sudah flu, apakah dia susah napas,” ujar Jamartin.
Hingga saat ini, menurut Jamartin, belum ada orangutan liar yang masuk ke pusat rehabilitasi akibat karhutla.
“Yang dari alam masuk ke pusat rehabilitasi belum ada. Dan semoga tidak ada,” katanya.
Sherina menilai penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan banyak pihak karena dampaknya menyentuh manusia, satwa hingga keberlangsungan ekosistem.
Ia mengingatkan bahwa Kalimantan memiliki keanekaragaman hayati yang penting untuk dijaga.
“Karena biodiversitas Kalimantan itu luar biasa, itu adalah paru-paru kita semua, ekosistem yang sangat perlu dijaga, dan kita nggak ada apa-apanya kalau nggak ada ekosistem ini,” ujar Sherina.
Di sisi lain, pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan karena puncak fenomena iklim El Nino diproyeksikan berlangsung sepanjang September.
Lonjakan hotspot di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menjadi sinyal bahwa penanganan karhutla masih membutuhkan perhatian serius, sementara di lapangan para relawan dan petugas masih berjibaku memadamkan api yang dapat kembali menyala.
Bagi Sherina, melihat langsung kondisi tersebut menjadi alasan untuk ikut mengambil bagian.
“Saya merasa perlu untuk turun dan melihat,” ujarnya.