NATO Sebut Rusia Semakin Ceroboh, Soroti Peningkatan Jumlah Drone dan Rudal yang Lintasi Wilayahnya
Nanda Lusiana Saputri September 02, 2026 11:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menyebut Rusia menjadi "semakin ceroboh."

Pernyataan Mark Rutte merujuk pada peningkatan jumlah drone dan rudal yang melintasi wilayah udara sekutu dan meningkatnya aktivitas yang menargetkan wilayah NATO.

NATO atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara saat ini memiliki 32 negara anggota yang berasal dari wilayah Eropa dan Amerika Utara.

Adapun Ukraina, yang terlibat konflik dengan Rusia, telah mendaftar untuk bergabung NATO, tetapi belum diterima menjadi anggota penuh.

"Rusia semakin bertindak gegabah seiring mereka melanjutkan perang mengerikan melawan Ukraina."

"Kita telah melihat semakin banyak drone dan rudal yang melintasi wilayah udara kita di sepanjang sisi timur, sehingga meningkatkan risiko," kata Mark Rutte dalam konferensi pers bersama Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen di Brussels, Rabu (2/9/2026), dilansir Anadolu Agency.

Rutte mengatakan NATO dan Uni Eropa bekerja "sepanjang waktu" untuk melindungi penduduk mereka dari ancaman yang semakin meningkat.

Dia juga menyebutkan apa yang digambarkannya sebagai aktivitas jahat yang secara langsung menargetkan wilayah NATO, termasuk kebakaran yang diduga terjadi di pabrik-pabrik yang memproduksi peralatan pertahanan untuk Ukraina dan "serangan hibrida" Rusia di Leipzig, Jerman.

"Bahaya yang ditimbulkan Rusia sudah jelas," kata Rutte, menolak anggapan bahwa tindakan Moskow dapat memecah belah sekutu NATO atau melemahkan dukungan mereka untuk Ukraina.

Sementara itu, Rusia telah menolak klaim pembunuhan, sabotase, penyusupan pesawat tak berawak, dan spionase di negara-negara sekutu Ukraina, dan menuduh pemerintah Barat memicu "paranoia anti-Rusia."

Baca juga: BIN Dalami Pola Perekrutan 8 WNI hingga Jadi Tentara Rusia

Putin dan Zelenskyy Saling Mengancam

Serangan udara Rusia pada hari Rabu menewaskan dua warga sipil dan melukai enam lainnya di sebuah kota di Ukraina tengah.

Sementara wilayah Kyiv dan Odesa menanggung dampak terberat dari serangan terbaru Rusia.

Perang udara antara Rusia dan Ukraina semakin intensif seiring konflik memasuki tahun kelima setelah invasi Moskow ke negara tetangganya.

Garis depan di Ukraina timur dan selatan sebagian besar masih buntu, dan upaya AS untuk menegosiasikan penyelesaian belum menghasilkan jalan menuju perdamaian.

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy saling melontarkan ancaman pada Selasa (1/9/2026) malam terkait langkah selanjutnya yang mungkin akan mereka ambil.

Zelenskyy memperingatkan maskapai penerbangan asing bahwa wilayah udara di atas Rusia tidak aman untuk penerbangan karena serangan pesawat tak berawak jarak jauh Ukraina.

Zelenskyy mengatakan "wilayah udara Rusia akan secara efektif tertutup."

PERANG RUSIA UKRAINA - Presiden Rusia Vladimir Putin menjawab pertanyaan dari perwakilan media massa di hari terakhir kunjungannya di Tajikistan, 10 Oktober 2025 (kiri) dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy saat berpidato dalam KTT Internasional Kota dan Daerah ke-4 pada 26 Mei 2026 (kanan).
PERANG RUSIA UKRAINA - Presiden Rusia Vladimir Putin menjawab pertanyaan dari perwakilan media massa di hari terakhir kunjungannya di Tajikistan, 10 Oktober 2025 (kiri) dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy saat berpidato dalam KTT Internasional Kota dan Daerah ke-4 pada 26 Mei 2026 (kanan). (Vladimir Smirnov, TASS/president.gov.ua)

Menteri Transportasi Rusia, Andrey Nikitin, menepis kekhawatiran terkait perjalanan, dengan mengatakan bahwa pihak berwenang terus memperkuat keselamatan penerbangan.

Dalam konferensi pers larut malam di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai di Kyrgyzstan, Putin juga menanggapi laporan bahwa militer Ukraina telah menggunakan drone buatan Inggris untuk menyerang target di dalam Rusia.

Ketika ditanya apakah Rusia akan menyerang fasilitas militer Inggris jika pemerintah Inggris terus memasok persenjataan ke Ukraina, Putin menolak untuk mengesampingkan kemungkinan tersebut.

Sambil tersenyum kecil, ia mengatakan kepada wartawan bahwa itu adalah "rahasia militer."

Baca juga: PM Spanyol Tuduh Jaringan Rusia dan Israel Sebarkan Disinformasi soal Krisis Migran di Ceuta

Di sisi lain, Tiongkok dan Korea Utara telah memberikan dukungan militer kepada Rusia, seperti halnya Iran pada tahun-tahun sebelumnya.

Komentar para pemimpin Rusia dan Ukraina muncul ketika para pejabat Eropa mempertimbangkan tanggapan mereka terhadap apa yang mereka sebut sebagai kampanye sabotase dan gangguan kontinental Moskow yang bertujuan untuk melemahkan dukungan bagi Ukraina.

Jerman pada hari Selasa menyalahkan Rusia atas upaya serangan di Bandara Leipzig/Halle bulan lalu menggunakan drone yang sarat dengan bahan peledak.

Menurut para analis dan pejabat Barat, upaya tentara Rusia untuk menembus lebih dalam ke Ukraina telah kehilangan momentumnya.

Kemajuan Rusia pada bulan Agustus hanyalah "sebagian kecil" dari kemajuan Moskow pada bulan yang sama tahun lalu, kata Institut Studi Perang pada Selasa malam.

Lembaga kajian yang berbasis di Washington tersebut mengatakan bahwa serangan Rusia pada musim semi-musim panas telah gagal menghancurkan pertahanan garis depan Ukraina.

“Kemajuan Rusia tetap lambat dan terbatas,” demikian pernyataan tersebut.

(Tribunnews.com/Nuryanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.