BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Belajar dan belajar adalah minat pemuda satu ini. Tak heran secara akademis ia punya banyak gelar bahkan di bidang yang berbeda yaitu Fisika dan Manajemen.
Ia juga punya pengalaman riset interdisipliner, publikasi nasional dan internasional serta pengalaman mengajar di berbagai jenjang pendidikan.
Saat ini, Muhammad Wildi Firahmi sedang menempuh studi Magister Manajemen di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), dengan komitmen untuk mengintegrasikan pengetahuan dan teknologi dalam pengembangan pendidikan dan organısasi.
Lebih lanjut tentang sosok satu ini, berikut petikan wawancaranya.
Bisa diceritakan tentang latar belakang pendidikan Anda?
Awalnya saya menempuh studi sarjana di Pendidikan Fisika ULM. Di sana, saya dilatih berpikir terstruktur, membaca pola, dan menyelesaikan masalah secara logis.
Namun, setahun setelah berjalan, saya menyadari, penguasaan sains perlu dilengkapi dengan kemampuan memahami manusia, organisasi dan tata kelola agar pengetahuan dapat diterjemahkan menjadi dampak nyata.
Dari situlah, saya memutuskan untuk mendalami ilmu Manajemen di Uniska MAB. Singkatnya, Fisika melatih saya memahami bagaimana sebuah sistem bekerja, sementara Manajemen mengajarkan bagaimana menggerakkan manusia di dalamnya. Keduanya saling melengkapi.
Apa bedanya bagi Anda antara mengajar dan meneliti?
Bagi saya, ruang kelas dan riset saling menghidupkan. Mengajar bukan sekadar bercerita di depan papan tulis, melainkan sarana memahami persoalan nyata yang dihadapi siswa dan guru setiap hari.
Persoalan di lapangan itulah yang kemudian saya angkat menjadi topik penelitian. Setelah riset selesai dan menemukan solusi berbasis data, hasilnya tidak saya biarkan berhenti di jurnal saja, melainkan saya bawa ke masyarakat untuk diterapkan.
Apa prinsip Anda dalam belajar?
Prinsip yang selalu saya pegang adalah totalitas, autentisitas, dan manfaat. Prinsip itu saya pegang teguh baik saat memecahkan soal sains di ajang ONMIPA-PT, mendalami nilai Al-Qur’an dalam MTQ, maupun ketika menjalani proses akademik hingga meraih predikat wisudawan terbaik.
Totalitas berarti memberikan ikhtiar terbaik di setiap kesempatan; autentisitas berarti belajar dan berkarya karena mencintai ilmunya, bukan sekadar mengejar juara; sedangkan manfaat adalah memastikan setiap pencapaian pada akhirnya kembali menjadi kebaikan bagi orang banyak.
Apa tantangan terberat Anda rasakan?
Tantangan terberat adalah menjaga energi dan daya tahan diri saat menjalani berbagai tanggung jawab sekaligus.
Ada hari-hari ketika saya harus berpindah peran dalam hitungan jam: pagi dan siang kuliah, sore mengajar siswa, dan malam menulis terkait penelitian/buku.
Ada momen-momen saat tubuh terasa ingin menyerah karena kurang tidur. Kuncinya ada pada disiplin ritme harian melalui pembagian waktu yang tegas.
Bagaimana Anda mengatur kegiatan?
Saya menerapkan prinsip keterhubungan antaraktivitas. Sebuah proses riset yang dirancang matang tidak berdiri sendiri secara terpisah.
Gagasan awalnya bisa dibahas dalam diskusi kelas, pengembangannya dipresentasikan di forum ilmiah, dan intisari praktisnya disusun menjadi bahan ajar atau rekomendasi aplikatif untuk guru dan siswa.
Jadi, kuncinya bukan memperbanyak kesibukan, melainkan menyusun satu alur kerja yang terintegrasi dan tetap taat pada etika keilmuan.
Anda berhasil menerima bantuan pendanaan penelitian, bagaimana ceritanya?
Prosesnya sangat panjang dan kompetitif. Saya bersama dosen yang membimbing proses penelitian, kami harus memastikan metodologinya tepat, dan mempertajam manfaat praktisnya bagi dunia pendidikan.
Lolosnya pendanaan BIMA ini menjadi bentuk kepercayaan besar terhadap kelayakan rencana penelitian yang kami susun.
Ini sekaligus menjadi pengingat dan tanggung jawab bagi kami untuk menyelesaikan penelitian ini dengan sebaik-baiknya.
Apa momen paling berkesan bagi Anda?
Momen paling berkesan adalah saat pertama kali presentasi di hadapan peneliti dari berbagai negara.
Rasa gugup tentu ada, apalagi ketika mendapat pertanyaan kritis seputar konteks riset di Indonesia.
Namun dari dialog tersebut, saya melihat bahwa gagasan yang berangkat dari konteks Kalimantan Selatan dan Indonesia juga dapat menarik perhatian dalam forum akademik internasional.
Kuncinya adalah rasa percaya diri, keterbukaan menerima kritik, dan keberanian untuk bertukar sudut pandang.
Menurut saya, riset sebaiknya tidak berhenti sebagai bahasa akademik yang hanya dipahami oleh sesama peneliti, melainkan harus mampu dikomunikasikan secara lugas, terstruktur dan memiliki panduan aksi yang jelas bagi para praktisi di lapangan.
Bagaimana Anda menilai teknologi AI?
Kecerdasan buatan harus kita posisikan sebagai penguat kapasitas manusia, bukan pengganti peran kita.
Dari pengalaman mendampingi pelatihan literasi AI untuk para guru, tantangan utamanya sebenarnya bukan pada bisa atau tidaknya memakai alat tersebut, melainkan bagaimana menggunakannya secara kritis dan bertanggung jawab.
AI bisa mempercepat pengolahan data atau pembuatan bahan ajar, tetapi integritas ilmiah, pertimbangan etis, empati, dan tanggung jawab atas orisinalitas karya tetap berada di tangan manusia. (Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)
---
Cari Ruang Bertumbuh
PEMUDA satu ini tak hanya mendalami ilmu dunia tapi juga ilmu akhirat. Sebagai muslim ia seorang tahfiz Qur’an dan bahkan memahami isinya hingga menulis karya tulis tentang kita suci umat Islam tersebut.
Muhammad Wildi Firahmi menyampaikan, kita memang tidak selalu bisa memilih dari mana titik awal perjalanan kita dimulai, tetapi kita punya kendali penuh atas seberapa sungguh-sungguh kita melangkah setiap harinya.
"Jangan biarkan keterbatasan fasilitas atau latar belakang menghentikan langkah untuk belajar," ujarnya.
Cari ruang bertumbuh, temukan teman dan orang yang saling menguatkan, dan nikmati setiap prosesnya. "Ketika kita konsisten memberikan yang terbaik, kita mungkin tidak langsung melihat hasilnya hari ini, tetapi kita sedang mempersiapkan diri ketika kesempatan itu tiba," ucapnya. (Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)
Biodata
Nama: Muhammad Wildi Firahmi SPd SM
Profesi: Peneliti dan Pendidik
Pendidikan:
- S1 Pendidikan Fisika ULM 2024
- S1 Manajemen Uniska MAB 2025
- Studi Magister Manajemen di ULM 2025 sampai sekarang
Presentasi Internasional
• 23rd INSYMA -Ho Chi Minh City, Vietnam (2026)
• 2nd ICoAMP Spanyol (2026)
• 3rd ICWSDGs Banjarmasin, T Indonesia (2026)
• 3rd ICBENS Karawang. Indonesia (2026)
• 22nd INSYMA Bangkok, Thailand (2025)
Pengalaman Mengajar
- Social Innovation Center Yayasan Hasnur Centre 2026-sekarang
- Associate Riset dan Publikasi Ruangguru Banjarmasin 2025
- Instruktur Fisika & Sains, SMP/SMA & Olimpiade Sains MAN Genza Education 2024-2026
- Instruktur Fisika & Sains, SMP/SMA SMP & SMA GIBS (Global Islamic Boarding School) 2024
- Guru Fisika Neo Edukasi 2023-2025 Instruktur Matematika & Fisika (SMA), Persiapan UTBK SNBT Freelance 2021-sekarang
- Instruktur Matematika & Fisika SMP/SMA
Penghargaan & Prestasi
• Best Idea Presenter, 23rd INSYMA Internasional (2026)
• Hibah Riset BIMA, Skema Penelitian Tesis Magister - Nasional (2026)
• Lulusan Terbaik, Fakultas Ekonomi, UNISKA MAB - Universitas (2025)
• Juara 1, ONMIPA-PT Fisika Universitas (2023, 2024)
• Juara 1, MTQM Hafalan 10 Juz Al-Qur'an - FKIP ULM (2023)
• Juara 2, MTQM Fahmil Qur'an UNISKA MAB (2025)
• Juara 3, MTQM Karya Tulis Ilmiah Al-Qur'an (KTI) UNISKA MAB (2023)
• Juara Harapan 2, Pilmapres (Mahasiswa Berprestasi) - UNISKA MAB (2024)
• Juara Terbaik Hifdzhil Qur'an 30 Juz- FKIP ULM (2020)
PUBLIKASI
• Sinergi Talenta; Pendekatan Holistik untuk Mengakselerasi Prestasi Akademik dan Nonakademik ULM Press (2026)
• Beyond the Algorithm: The Effect of Information Quality on Repurchase Intention Mediated by Trust in AI- Proceedings of ICBENS 3rd (2026)
• AI, Trust, and Digital Experience: What Drives Online Repurchase Intent? JBS 21(2), 252-272 (2026)
• The Synergistic Role of IQ, EQ, SQ in Improving Employee Performance Proceedings of INS YMA 22nd (2025)
• Spiritual Attitude in Physics Learning: A Quantitative Review- Berkala Ilmiah Pendidikan Fisika (2025)