Bruno Fernandes mengungkap bahwa dirinya pernah bermain sebagai bek tengah dan mengklaim sempat mengungguli rekan setimnya di Manchester United, Benjamin Sesko, dalam sesi latihan.
Berbicara secara eksklusif di Beast Mode Podcast setelah memenangi penghargaan Pemain Terbaik Pilihan Pemain PFA, kapten Manchester United Bruno Fernandes membuka kisah tentang awal karier sepak bolanya yang tidak biasa. Playmaker asal Portugal itu mengungkapkan bahwa ia sebenarnya memulai kariernya dengan bermain sebagai bek tengah, sebelum membagikan cerita lucu dari tempat latihan tentang bagaimana ia menguji batas kecepatan larinya melawan rekan setim Red Devils yang bertenaga, Benjamin Sesko.
Dari akar pertahanan menjadi maestro lini tengah
Premier League modern secara luas dianggap sebagai kompetisi yang paling menuntut secara fisik dalam sepak bola dunia, yang mengharuskan para atlet elite terus mendorong batas kemampuan tubuh mereka. Meski United sangat bergantung pada kreativitas dan kecemerlangan teknik kaptennya, jalan Fernandes untuk menjadi salah satu playmaker terbaik di Eropa justru ditempa dari posisi yang tak terduga.
Sebelum memantapkan diri sebagai kekuatan menyerang yang produktif, Fernandes harus mengandalkan kecerdasan sepak bolanya untuk bertahan menghadapi lawan-lawan yang jauh lebih besar. Pemain internasional Portugal itu selalu memperlihatkan sisi gigih di Old Trafford, sebuah karakter yang berakar langsung dari masa-masa pembentukannya saat menekuni olahraga ini sebagai bek bertubuh kecil.
Baru saja dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Pilihan Pemain PFA, kapten United itu duduk untuk membahas perjalanan unik tersebut. Bergabung dengan mantan penyerang Adebayo Akinfenwa dalam percakapan eksklusif pada edisi spesial Beast Mode Podcast, Fernandes menjelaskan masa-masa awalnya di sepak bola serta keinginannya yang terus ada untuk menguji diri melawan sosok-sosok paling kuat dalam permainan modern.
Fernandes mengungkap asal-usulnya sebagai bek tengah
Saat mengenang perkembangannya, Fernandes menjelaskan bagaimana masa mudanya sebagai pemain junior memaksanya untuk beradaptasi. Ia mengungkap bahwa perjalanannya sesungguhnya dimulai di jantung pertahanan, tempat kecerdasan taktis harus menutupi kekurangan postur fisik.
"Saya memulai karier saya sebagai bek tengah," ungkap Fernandes. "Sebagai yang paling kurus dan paling kecil, itu bagus untuk saya karena saya harus menggunakan otak saya untuk mengungguli penyerang."
Sambil bercanda dengan Akinfenwa yang terkenal sangat kuat secara fisik tentang bagaimana ia akan menghadapinya di lapangan, bintang United itu menambahkan: "Saya tidak akan memberi Anda ruang untuk menahan saya. Saya akan membiarkan Anda menguasai bola, lalu ketika Anda berbalik mungkin saya harus melakukan tekel yang sangat keras untuk merebut bola dari Anda. Jika Anda datang terlalu cepat ke arah saya, itu juga bisa jadi masalah!"
Menguji batasnya melawan Benjamin Sesko
Keinginan untuk menghadapi lawan-lawan yang mengintimidasi itu berasal dari masa kecilnya di Portugal. Fernandes menilai pendekatan tanpa rasa takut itu lahir dari kebiasaannya bermain sepak bola jalanan melawan anak-anak yang jauh lebih tua darinya, dengan mengatakan: "Saat tumbuh besar, pada masa saya, Anda sangat sering bermain di jalanan. Saya selalu menjadi salah satu yang termuda, karena kakak saya lima tahun lebih tua dari saya, jadi saya bermain melawan dia dan teman-temannya. Saya terbiasa dikalahkan, tetapi juga terbiasa mengalahkan orang-orang yang lebih kuat dari saya. Jadi saya tidak pernah takut untuk memasukkan kaki saya atau terlibat dalam duel."
Semangat kompetitif itu masih terlihat jelas di pusat latihan Carrington milik United. Sang kapten membagikan kisah tentang dirinya yang menantang rekan setim Red Devils, Sesko, dalam adu sprint, dan mendorong dirinya hingga mencapai kecepatan puncak terbaik pribadinya, 35.5 km/h.
"Musim lalu dalam latihan saya harus melakukan lari 50 yard bersama Benjamin Sesko," kenang Fernandes. "Saya memulai dua langkah lebih dulu dan dia berada di belakang saya, jadi saya benar-benar memacu diri dan saya memecahkan kecepatan puncak tertinggi saya, yaitu 35.5. Dia mencapai 37 [km/h] sekian pada akhirnya, itulah mengapa dia menangkap saya di akhir, tetapi saya sangat bangga pada diri saya sendiri karena Ben adalah pemain yang sangat kuat secara fisik, dan sangat cepat. Tetapi inilah yang saya sukai dalam latihan, menghadapi orang-orang yang saya tahu lebih baik daripada saya dalam suatu hal agar saya bisa menguji diri saya sendiri."