TRIBUNNEWS.COM - Di sebuah turnamen sepak bola, penghargaan pemain terbaik biasanya menjadi salah satu yang paling dinantikan.
Namun, hal berbeda terjadi di Surakarta Football Championship 2026 yang dimulai pada Rabu (2/9/2026) di Training Ground AT Farmasi, Lapangan Pabelan, Kartasura, Sukoharjo.
Selain memperebutkan kemenangan dan hadiah kompetisi, para peserta justru berpeluang membawa pulang penghargaan sebagai pemain terlucu.
Bukan sekadar penghargaan tambahan.
Pemain yang mampu membuat orang lain tertawa di tengah pertandingan bahkan mendapatkan hadiah khusus dari penyelenggara.
Konsep tersebut seolah menggambarkan identitas Surakarta Football Championship 2026 sejak awal.
Sebuah kompetisi sepak bola yang tetap ingin menghadirkan persaingan, tetapi tidak kehilangan esensi utama dari fun football.
Di lapangan, para pemain tetap berlari mengejar bola, menyusun strategi, dan memasang target kemenangan.
Namun, di balik persaingan tersebut, ada satu pesan yang terus dibawa penyelenggara.
Jangan sampai pertandingan membuat mereka lupa untuk bersenang-senang.
Baca juga: Mengenal Bal-Balan Cilik FC: Komunitas Open Play Fun Football di Solo dengan Ratusan Anggota
"Reward terbesar dari event ini nanti bisa dikatakan pemain terlucu dengan hadiah kurang lebih setengah juta," ujar Ketua Panitia Surakarta Football Championship 2026, Ahmad Khoirul atau yang akrab disapa Mas Ul.
Bahkan, penghargaan serupa juga disiapkan untuk tim dengan penampilan paling unik.
"Termasuk juga tim terlucu, official dengan outfit terkeren dan berbeda daripada yang lainnya," katanya.
Di tengah semakin banyaknya komunitas sepak bola di Solo Raya, Surakarta Football Championship 2026 hadir dengan cara yang berbeda.
Kompetisi ini mencoba mempertemukan para pemain fun football dalam pertandingan 11 lawan 11 dengan atmosfer yang dibuat menyerupai kompetisi resmi.
Ada sistem pertandingan, regulasi pemain, screening peserta, daftar susunan pemain, perangkat pertandingan, tim medis, hingga dokumentasi pertandingan.
Namun, satu hal tetap menjadi pembeda.
Pesertanya bukan pemain profesional.
Surakarta Football Championship 2026 menjadi wadah bagi komunitas fun football di Solo Raya.
Sebanyak 24 tim ambil bagian dalam kompetisi edisi pertama tersebut.
Para pemain datang dari berbagai latar belakang.
Ada karyawan, mantan pemain, hingga mereka yang sejak kecil memiliki mimpi bermain sepak bola, tetapi tidak pernah benar-benar merasakan atmosfer kompetisi profesional.
Mas Ul mengatakan, gagasan menggelar kompetisi tersebut muncul dari semakin banyaknya komunitas fun football di Solo.
Penyelenggara kemudian ingin mempertemukan mereka dalam satu kompetisi.
"Latar belakang terbentuknya ini dari banyaknya menjamurnya komunitas football di Kota Solo," kata Mas Ul.
"Kita mengharapkan adanya rasa yang berbeda dari komunitas di Kota Solo ini. Kita wadahi dengan event ini."
Namun, tujuan utama turnamen tersebut bukan semata-mata mencari siapa tim terbaik.
Penyelenggara ingin menciptakan ruang pertemuan bagi komunitas yang selama ini bermain di kelompoknya masing-masing.
"Tujuan utama dari event ini adalah untuk bersilaturahmi antara satu tim dengan tim lain, antara anggota tim dengan anggota tim yang lainnya."
"Biar saling membaur, biar saling mengenal satu dengan yang lainnya," lanjutnya.
Menurut Mas Ul, selama empat tahun berkecimpung di dunia fun football Solo, kompetisi seperti ini menjadi sesuatu yang baru bagi komunitas setempat.
Terutama untuk format pertandingan 11 lawan 11 yang secara khusus diperuntukkan bagi komunitas fun football.
"Untuk komunitas fun football, setahu saya selama berkecimpung di dunia fun football empat tahun di Kota Solo, ini baru pertama," ujarnya.
Kompetisi serupa memang pernah ada, tetapi biasanya mempertemukan pemain dari berbagai kategori.
Surakarta Football Championship mencoba membuat batasan yang lebih jelas.
Turnamen ini diperuntukkan bagi pemain fun football.
Menjaga identitas turnamen menjadi salah satu tantangan terbesar bagi penyelenggara.
Surakarta Football Championship tidak ingin kompetisi tersebut berubah menjadi ajang yang dikuasai pemain berpengalaman dari sepak bola kompetitif.
Karena itu, proses screening peserta dilakukan sebelum turnamen dimulai.
Pemain yang didaftarkan wajib dicantumkan identitasnya, termasuk nama dan foto, melalui media sosial.
Langkah tersebut memungkinkan peserta dari tim lain ikut melakukan pengawasan.
Menariknya, proses screening tidak hanya dilakukan oleh panitia.
Komunitas peserta juga ikut berperan.
"Yang menyeleksi bukan dari penyelenggara malah, dari teman-teman admin tim atau member-member tim," kata Mas Ul.
"Karena semua pemain yang didaftarkan wajib di-upload di Instagram. Nama dan foto tertera dengan jelas, sehingga tim-tim yang lainnya bisa screening pemain-pemain itu."
Sistem tersebut ternyata benar-benar menghasilkan laporan.
Beberapa pemain bahkan harus digantikan setelah muncul keberatan dari peserta lain.
"Dan laporan yang masuk ternyata masih ada. Akhirnya kemarin terpaksa harus ada beberapa pemain yang digantikan," ujarnya.
Penasihat penyelenggara, Dodi Tatarinanto, mengatakan aturan tersebut dibuat untuk menjaga kompetisi tetap berada di jalur fun football.
Menurut dia, peserta pada dasarnya adalah komunitas yang memang rutin bermain bersama.
Namun, turnamen tersebut ingin menghindari dominasi pemain dengan pengalaman kompetisi tarkam.
"Jadi niatnya kan silaturahmi saja," kata Dodi.
"Soalnya kami ingin pemainnya benar-benar fun football."
Meski demikian, penyelenggara menyadari tidak mudah melakukan pengawasan secara sempurna.
Karena itu, keterlibatan komunitas menjadi bagian penting dalam menjaga regulasi.
Ada pula ketentuan tertentu bagi pemain berusia lebih tua yang pernah memiliki pengalaman bermain kompetitif.
Semuanya dilakukan agar pertandingan tetap memiliki keseimbangan.
Meski membawa nama fun football, penyelenggaraan pertandingan dibuat cukup lengkap.
Pada laga pembuka, suasana kompetisi mulai terasa sejak sebelum pemain memasuki lapangan.
Jersey para pemain disusun dan dipersiapkan.
Daftar peserta diperiksa.
Susunan pemain disiapkan.
Perangkat pertandingan juga hadir untuk memastikan laga berjalan sesuai regulasi.
Ada pula tim medis dan pihak yang bertugas dalam jalannya pertandingan.
Dari sisi pengelolaan, penyelenggara mencoba menghadirkan pengalaman yang berbeda dari sekadar pertandingan komunitas biasa.
Mas Ul menyebut sistem kompetisi dibuat berjenjang.
Peserta harus melewati fase pertandingan untuk melangkah lebih jauh.
"Kita buat sistemnya berjenjang. Bisa dikatakan sedikit profesional dibandingkan fun football yang lainnya," katanya.
Tidak hanya itu, penyelenggara juga menyiapkan live streaming dan tim dokumentasi.
"Termasuk dari fasilitas di lapangan juga kita lengkapi mulai dari live streaming, tim screening, tim editing dan sebagainya," ujar Mas Ul.
Sementara itu, perangkat pertandingan juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan atmosfer kompetisi.
Ada match commissioner yang memantau jalannya pertandingan.
Namun, wasit yang digunakan tetap disesuaikan dengan karakter turnamen.
"Kita masih pakai wasit fun karena memang tajuknya fun football, jadi biar tetap fun-nya dan auranya tetap terbawa," jelas Mas Ul.
Di situlah letak identitas Surakarta Football Championship.
Serius dalam mengelola pertandingan, tetapi tidak ingin kehilangan kesenangan di dalamnya.
Di antara para peserta, turnamen tersebut menjadi kesempatan untuk kembali merasakan mimpi masa kecil.
Salah satunya Roful, pemain sekaligus kapten tim dari Vorenzo.
Sebagai seorang karyawan swasta, sepak bola kini menjadi cara untuk melepas penat dari rutinitas pekerjaan.
Namun, kecintaannya terhadap olahraga tersebut sudah dimulai sejak kecil.
Bahkan, ia pernah bermain hingga level Persis Junior sebelum akhirnya memilih fokus pada kuliah dan pekerjaan.
"Dulu memang sempat ikut sampai Persis Junior saja. Cuma setelah itu masuk kuliah, sudah melupakan profesional, jadi fokus kuliah dan bekerja," ujar Roful.
Kini, di usia 36 tahun, ia tidak lagi memikirkan karier sebagai pesepak bola profesional.
Yang terpenting adalah bermain bersama teman-teman dan tetap bisa bekerja keesokan harinya.
"Sudah umur 36 tahun, jadi masuknya cuma fun-fun saja sama teman-teman. Yang penting paginya bisa kerja aman, sudah cukup," katanya sambil tersenyum.
Namun, bukan berarti mereka tidak memiliki ambisi ketika pertandingan dimulai.
Roful mengakui setiap tim pasti ingin memenangkan pertandingan.
Bagi Vorenzo, turnamen menjadi kesempatan untuk menunjukkan hasil dari latihan yang mereka jalani.
"Targetnya mungkin kami hanya mengimplementasikan apa yang kami latih setiap bulannya," katanya.
"Saya yakin setiap tim di turnamen ini ingin menang semua. Cuma core fair play-nya memang tetap harus digalakkan."
Vorenzo pun tetap ingin bersaing.
"Kami tetap akan fighting," tegasnya.
Semangat kompetitif juga hadir di BBC Solo atau Bal Balan Cilik.
Namun, mereka memiliki cara sendiri untuk menjaga pemain agar tetap mengingat bahwa ini adalah fun football.
Pelatih BBC Solo, Agus Deryanto atau yang akrab disapa Robben, mengatakan komunitasnya rutin bermain setiap pekan.
Latihan dilakukan dengan suasana santai.
Tidak ada program fisik berat atau strategi yang terlalu rumit.
"Kalau latihan setiap minggu itu pasti. Tensi latihan cukup fun," kata Robben.
Menurutnya, prinsip utama yang selalu ditekankan kepada pemain adalah menjaga keselamatan.
Terutama ketika menghadapi duel yang berpotensi menimbulkan cedera.
"Kalau bola 50-50, kita selalu briefing, enggak usah diambil," ujarnya.
"Jadi biar kita sendiri selamat, jadi enggak ada yang saling cedera."
Robben mengatakan perbedaan terbesar antara sepak bola kompetitif dan fun football terletak pada tujuan.
Di level profesional, pemain mengejar hasil, trofi, dan pencapaian.
Sementara di komunitas fun football, ada kehidupan lain yang harus dijalani setelah pertandingan selesai.
"Yang kita junjung tetap satu, fun football," katanya.
"Senang-senang, dapat teman banyak, senang dapat konten banyak, besoknya bisa kerja lagi."
Meski demikian, BBC tetap ingin memberikan pengalaman kompetisi kepada para pemainnya.
"Kompetitif, namun tetap fun football," ujar Robben.
Cerita berbeda datang dari Agung Eto'o, pelatih dari tim Vorenzo.
Agung baru diminta menangani tim beberapa hari sebelum pertandingan dimulai.
Persiapan mereka pun dilakukan secara sederhana.
Tidak ada program latihan fisik khusus.
Tidak ada pola permainan yang rumit.
Para pemain sebagian besar sudah saling mengenal dan terbiasa bermain bersama.
"Persiapan cuma teman-teman ini saya panggil-panggil. Sebagian sudah hafal sama saya," ujar Agung.
Meski begitu, ia tetap membawa satu target yang cukup jelas.
"Target kami enggak muluk-muluk, cuma insya Allah juara satu," katanya sambil tertawa.
Bagi Agung, Surakarta Football Championship menjadi tempat yang tepat bagi pemain yang selama ini hanya bermain fun game.
Ia menilai kompetisi tersebut memberi pengalaman berbeda.
Para pemain bisa merasakan tekanan pertandingan, dukungan penonton, hingga suasana kompetisi.
"Ini cocok untuk fun game dikasih tempat, dikasih liga," ujarnya.
"Buat penyemangat yang dulunya cita-citanya main bola sudah terselesaikan."
Agung sendiri memiliki pengalaman bermain di kompetisi Liga 3 bersama Persebi pada periode 2011 hingga 2016.
Namun, dalam menangani tim fun football, ia tidak ingin membawa pendekatan sepak bola profesional secara berlebihan.
Waktu pertandingan yang singkat membuatnya memilih instruksi sederhana.
"Kalau Liga kan lama, enak pakai strategi. Ini waktunya sedikit," katanya.
"Yang penting main bola dan semua dapat kesempatan main."
Menurutnya, hal terpenting adalah memberikan kesempatan kepada para pemain untuk merasakan atmosfer kompetisi.
"Walaupun itu fun game, tapi atmosfernya sudah kelihatan. Ada kompetisi," ujar Agung.
Mas Ul berharap turnamen tersebut tidak berhenti pada edisi pertama.
Ke depan, penyelenggara ingin terlebih dahulu memastikan kompetisi bisa terus berjalan secara berkelanjutan di Solo Raya.
"Harapan kita yang pertama fokus di Solo dulu. Ini berkesinambungan, ada kelanjutan, tidak hanya satu kali event saja," katanya.
"Setiap tahun sebisa mungkin ada."
Jika berjalan sesuai harapan, tidak menutup kemungkinan konsep tersebut akan berkembang ke daerah lain.
Namun, untuk saat ini, Surakarta Football Championship memiliki satu pekerjaan utama.
Menjadikan kompetisi pertama ini sebagai ruang bagi komunitas fun football untuk saling bertemu.
Bersaing, tetapi tetap berteman.
Mengejar kemenangan, tetapi tidak kehilangan kegembiraan.
Sebab, bagi sebagian peserta, mereka mungkin datang ke lapangan dengan target menjadi juara.
Tetapi ada pula yang datang hanya untuk kembali merasakan satu hal yang dulu pernah menjadi mimpi masa kecil.
Menjadi pemain sepak bola.
Bedanya, ketika peluit panjang berbunyi, mereka tidak perlu memikirkan konferensi pers, bursa transfer, atau kontrak baru.
Mereka cukup pulang, beristirahat, dan kembali menjalani pekerjaan pada keesokan harinya.
Seperti kata Robben, esensi dari semuanya tetap sederhana.
"Yang penting teman-teman happy, dapat pengalaman."
Dan di Surakarta Football Championship, bahkan pemain terbaik pun belum tentu menjadi tokoh utama.
Karena di kompetisi ini, pemain terlucu juga bisa pulang membawa penghargaan.
(Tribunnews.com/Sina)