TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menghantui sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan. Kobaran api tak hanya mengancam kawasan hutan dan lahan gambut, tetapi juga mulai menebar dampak serius terhadap kesehatan masyarakat.
Di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, petugas masih berjibaku memadamkan kebakaran di lahan gambut. Lokasi tersebut menjadi perhatian karena berada di kawasan strategis yang berdekatan dengan jalan tol, jalur kereta api hingga pipa minyak.
Kondisi lahan gambut yang terbakar cukup dalam membuat proses pemadaman tidak mudah. Akses menuju lokasi yang sulit, sumber air yang semakin menipis, serta perubahan arah angin turut menyulitkan Satgas Penanggulangan Karhutla Sumatera Selatan mengendalikan api.
Ancaman pun tak berhenti pada kobaran api. Asap tebal yang dihasilkan karhutla mulai mengganggu kualitas udara dan kesehatan warga, terutama di wilayah perkotaan.
Dikutip TribunNewsmaker.com dari YouTube KOMPASTV, Rabu (02/09/2026). Di Palembang, Sumatera Selatan, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dilaporkan meningkat tajam ketika kabut asap mulai pekat.
Puskesmas Merdeka mencatat tingginya jumlah pasien ISPA terjadi pada pekan pertama dan kedua Agustus. Meski memasuki pekan ketiga dan keempat jumlah pasien mulai menurun, dampak asap masih dirasakan masyarakat.
Kelompok anak-anak menjadi salah satu yang paling banyak terdampak. Tercatat 124 pasien dari kelompok balita, anak-anak dan remaja menjalani pemeriksaan.
Sementara itu, terdapat 26 pasien dewasa dan 46 pasien lanjut usia yang mengalami keluhan serupa.
Keluhan yang dirasakan warga tidak hanya berupa batuk dan pilek. Sejumlah pasien juga mengeluhkan sakit tenggorokan akibat paparan udara yang tercemar asap karhutla.
Kondisi udara di Palembang bahkan sempat masuk kategori tidak sehat. Indeks kualitas udara dilaporkan mencapai 144 µg/m⊃3;.
Situasi tersebut membuat Pemerintah Kota Palembang mengambil langkah mitigasi. Jam masuk sekolah dimundurkan untuk mengurangi paparan asap terhadap pelajar.
Pemerintah juga mengimbau aparatur sipil negara (ASN) dan masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih buruk.
Sementara itu, ancaman karhutla juga terjadi di Kalimantan Barat. Laporan dari lapangan menunjukkan peningkatan titik panas dengan jumlah yang mencapai lebih dari 7.500 titik.
Kabupaten Ketapang menjadi salah satu wilayah dengan konsentrasi titik panas terbanyak. Kondisi ini menambah kekhawatiran karena asap dari kebakaran dapat menyebar mengikuti arah angin dan mengganggu kualitas udara di wilayah sekitar.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah juga melakukan pembatasan aktivitas di sejumlah kawasan taman nasional. Kebijakan tersebut diambil bukan untuk menghalangi masyarakat menikmati kawasan konservasi, tetapi sebagai langkah keselamatan sekaligus membantu memusatkan tenaga satgas dalam menangani karhutla.
Kementerian Kehutanan menyebut risiko di lapangan sangat tinggi. Proses pemadaman kebakaran, terutama di wilayah yang sulit dijangkau, membutuhkan konsentrasi dan sumber daya besar.
Penanganan karhutla pun menjadi semakin mendesak karena dampaknya berlapis. Api mengancam ekosistem dan fasilitas vital, sementara asapnya dapat mengganggu aktivitas masyarakat hingga memicu persoalan kesehatan.
Dengan kebakaran yang masih terjadi di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan, pengendalian api dan perlindungan masyarakat dari paparan asap menjadi pekerjaan yang harus dilakukan secara bersamaan.
(TribunNewsmaker.com/Eri Ariyanto)