TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mulai memberikan dampak lintas batas hingga ke Malaysia. Kondisi tersebut tidak hanya membuat kualitas udara menurun, tetapi juga memicu lonjakan kasus penyakit pernapasan.
Sepanjang Agustus 2026, asap karhutla dilaporkan menyelimuti wilayah Sarawak. Kabut asap kemudian meluas hingga Semenanjung Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura.
Dampak paling terlihat terjadi pada peningkatan kasus asma di Malaysia. Dalam sepekan pada 23-29 Agustus 2026, kasus asma tercatat mencapai 1.811 kasus.
Angka tersebut melonjak drastis dibandingkan pekan sebelumnya yang hanya mencatat 219 kasus. Artinya, terjadi peningkatan lebih dari delapan kali lipat.
Tak hanya asma, gangguan kesehatan lain juga mengalami peningkatan. Kasus iritasi mata atau konjungtivitis naik dari 146 kasus menjadi 720 kasus dalam periode yang sama.
Kondisi kabut asap juga dirasakan langsung oleh masyarakat di Malaysia. Salah satunya Karen Michaelan, warga Kuala Lumpur yang menderita asma.
Ia mengaku mengalami mengi dan sesak napas, terutama ketika harus menaiki tangga. Kondisinya bahkan membuat Karen membutuhkan perawatan menggunakan nebulizer secara beruntun.
Dokter juga memberikan dosis steroid lebih tinggi untuk membantu mengendalikan kondisi pasien dan mencegah risiko harus menjalani rawat inap.
Di tengah dampak kabut asap yang meluas ke negara tetangga, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni turut memberikan penjelasan mengenai penyebaran asap karhutla.
Menurut Raja Juli, pergerakan asap sangat bergantung pada arah angin. Ia menyebut asap tidak mengenal batas wilayah maupun negara.
"Arah anginnya kebetulan memang naik ke atas. Kalau seandainya arah anginnya dari sini, ini menurut teman-teman dari LH juga ini kebakaran yang terjadi di sini juga akan masuk ke Indonesia karena memang asap enggak ada KTP-nya," kata Raja Juli.
Meski demikian, pemerintah Indonesia menyatakan akan berupaya maksimal mencegah dampak negatif karhutla terhadap negara tetangga.
"Kita akan berjuang semaksimal mungkin ya kita tidak akan memberikan dampak negatif atau mudarat kepada tetangga kita," ujarnya.
Pemerintah juga berkomitmen memperkuat penanganan karhutla dan bekerja sama dengan negara-negara tetangga untuk mencegah pencemaran udara lintas batas.
Kasus ini kembali menunjukkan bahwa karhutla tidak hanya menjadi persoalan lingkungan di wilayah terdampak, tetapi juga dapat menimbulkan konsekuensi kesehatan hingga melewati batas negara.
(TribunNewsmaker.com/Eri Ariyanto)