TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menyampaikan permohonan maaf terkait ambruknya Jembatan Gantung Pongpet di Dusun Margajaya, Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Jembatan Gantung Pongpet dibangun melalui sistem padat karya yang melibatkan Kodim 0625/Pangandaran bersama masyarakat.
Maruli menegaskan, pihaknya bertanggung jawab dan saat ini tengah berlangsung investigasi untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut.
"Kami mohon maaf atas kejadian ini. Kami bertanggung jawab dan sekarang sedang proses investigasi," ujar Maruli saat meninjau Jembatan Garuda di Kelurahan Genting Kalianak, Kecamatan Asemrowo, Kota Surabaya, Rabu (2/9/2026) siang.
Menurutnya, Jembatan Gantung Pongpet merupakan jembatan perintis yang dibangun TNI Angkatan Darat untuk membuka akses awal bagi masyarakat di wilayah setempat, lantaran belum memiliki jembatan permanen.
Maruli yang ditunjuk sebagai Kepala Satgas Pembangunan Jembatan menyebut, berdasarkan pengamatan awal, jembatan gantung tersebut diduga ambruk setelah mengalami beban berlebih atau overload.
"Banyaknya warga yang berkumpul di satu titik diduga melampaui kapasitas beban yang dapat ditahan jembatan," terangnya.
Ia menjelaskan, jembatan perintis memiliki batas kemampuan dan kapasitas beban.
Baca juga: Pemprov Jabar Ambil Alih Pembangunan Jembatan Anjlok di Pangandaran
Oleh karena itu, sebelum jembatan digunakan, telah dipasang papan peringatan guna membatasi jumlah orang yang dapat melintas secara bersamaan.
"Ini adalah jembatan perintis, jadi memang ada batas kemampuan dan kapasitasnya. Di depan jembatan juga sudah ada papan peringatan mengenai jumlah orang yang boleh melintas," jelasnya.
Dirinya menambahkan, konstruksi jembatan tersebut telah ditingkatkan kekuatannya sebelum digunakan masyarakat.
"Penguatan juga dilakukan pada bagian tali sling yang disebut mengalami peningkatan kekuatan sekitar 20 hingga 30 persen," imbuhnya.
Meski demikian, Maruli menegaskan, peningkatan kekuatan konstruksi tidak berarti jembatan perintis dapat menahan beban tanpa batas.
"Faktor jumlah orang yang berada di satu titik tetap menjadi perhatian dalam penggunaan jembatan gantung," urainya.
Pembangunan jembatan perintis, lanjut Maruli, dilakukan sebagai solusi sementara untuk membantu akses masyarakat.
Terlebih lagi pembangunan jembatan beton permanen membutuhkan anggaran jauh lebih besar, terutama karena kondisi medan dan tebing di sekitar lokasi.
"Kalau membangun jembatan beton, biayanya jauh lebih besar. Medannya juga berat karena ada tebing, sehingga membutuhkan anggaran yang besar," bebernya.
Pembangunan jembatan perintis dilakukan dengan pola swakelola bersama masyarakat sehingga biaya yang dibutuhkan relatif lebih terjangkau.
Baca juga: Ombudsman RI Soroti Ambruknya Jembatan Pongpet di Pangandaran setelah Diresmikan
Namun, Maruli menegaskan keberadaan jembatan perintis bukan pengganti jembatan permanen.
"Jembatan perintis ini sifatnya solusi awal. Pada akhirnya, jembatan permanen menjadi tanggung jawab pemerintah daerah," katanya.
Saat ini, investigasi masih dilakukan untuk memastikan penyebab ambruknya Jembatan Gantung Pongpet.
Hasil penyelidikan tersebut nantinya akan menjadi bahan evaluasi Satgas Pembangunan Jembatan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
"Aspek keselamatan akan menjadi perhatian dalam evaluasi pembangunan jembatan perintis, termasuk terkait kapasitas dan penggunaannya di lapangan," tandasnya.
Jembatan tersebut terletak di Dusun ini berjarak empat Km dari Kecamatan Parigi, pusat pemerintahan Kabupaten Pangandaran.
Jembatan tersebut mengalami anjlok saat dilintasi rombongan pejabat daerah pada Minggu (30/8/2026) sore.
Bupati Citra yang sedang berada di tengah jembatan hampir menjadi korban.
Untungnya dalam kejadian tersebut tidak ada korban jiwa.
Dandim 0625/Pangandaran Letkol Czi Citra Kurniawan mengatakan, bagian jembatan yang rusak bukan rangka bawah, melainkan tali sling di sisi kanan yang terlepas bersama blok angkurnya.
Citra secara terbuka mengakui insiden tersebut terjadi akibat kelalaian pihaknya dalam mengendalikan jumlah orang yang melintasi jembatan saat peresmian.
Baca juga: Detik-detik Sebelum Jembatan di Pangandaran Anjlok, Kades: Sudah Goyang, Tak Seperti Biasanya
"Untuk penyebabnya itu memang kesalahan kami dari Kodim. Pada saat pelaksanaan peresmian kami tidak mengontrol kapasitas yang melewati jembatan tersebut," ucap Citra.
Citra menyebut suasana peresmian yang diwarnai antusiasme masyarakat menjadi salah satu faktor.
Saat itu, pihak Kodim dan masyarakat tengah larut dalam euforia karena akses menuju salah satu destinasi wisata di Pangandaran kembali terbuka. Padahal, jembatan tersebut sudah memiliki batas kapasitas penggunaan.
Ia menyebut, jembatan gantung itu memiliki kemampuan beban maksimal sekitar 2 ton. Namun, penggunaan saat kondisi normal dibatasi sekitar 60 persen dari kapasitas maksimal tersebut.
"Untuk beban maksimal itu di 2 ton. Jembatan tersebut telah kami hitung, kemudian dia di 60 persennya untuk maksimum digunakan oleh jembatan tersebut," ujarnya.