WARTAKOTALIVECOM, Sidoarjo -- Dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo, Jawa Timur, terus bergulir. Hingga Rabu (2/9/2026), jumlah santri yang dilaporkan terdampak mencapai 566 orang.
Badan Gizi Nasional (BGN) Region Jawa Timur mengambil langkah dengan menghentikan sementara operasional dapur penyedia makanan yang diduga berkaitan dengan insiden tersebut.
Keputusan itu dilakukan setelah muncul laporan mengenai sejumlah santri yang mengalami gangguan kesehatan seusai mengonsumsi makanan program MBG.
Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, dari total 566 santri yang terdampak, sebanyak 478 orang telah dinyatakan membaik.
Sementara itu, delapan santri lainnya masih menjalani perawatan intensif di RSUD Sidoarjo.
Kondisi tersebut membuat penanganan terhadap dugaan keracunan menjadi perhatian serius, terlebih karena jumlah korban yang terdampak mencapai ratusan orang.
BGN kini melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebab kejadian.
Tim dari BGN Pusat telah turun langsung dan melakukan pengujian terhadap sampel makanan yang diduga dikonsumsi para santri.
Sampel tersebut akan diperiksa di laboratorium untuk mengetahui apakah terdapat kandungan atau faktor tertentu dalam makanan yang menyebabkan para santri mengalami gangguan kesehatan.
Penghentian operasional dapur penyedia dilakukan sebagai bagian dari langkah penanganan dan evaluasi setelah insiden tersebut.
BGN juga masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab kejadian secara ilmiah.
Dengan masih adanya santri yang menjalani perawatan intensif, proses pemantauan kondisi korban terus dilakukan.
Pemerintah daerah bersama BGN juga masih melakukan koordinasi terkait penanganan para santri yang terdampak.
Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai penyebab dugaan keracunan sekaligus menjadi dasar evaluasi terhadap penyedia makanan MBG tersebut.
Insiden di Sidoarjo ini kembali menyoroti pentingnya pengawasan dalam penyediaan makanan untuk program MBG, terutama menyangkut kualitas bahan pangan, proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat.
BGN sebelumnya terus mendorong agar pelaksanaan program MBG memenuhi standar keamanan dan kualitas pangan.
Karena itu, hasil investigasi atas kejadian di Sidoarjo menjadi penting untuk memastikan keamanan makanan yang diberikan kepada para santri dan penerima manfaat lainnya.
Hingga kini, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami ratusan santri tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan di laboratorium.
Pemerintah pun masih melakukan pemantauan terhadap kondisi para korban, termasuk delapan santri yang hingga kini masih menjalani perawatan intensif di RSUD Sidoarjo.