Angkutan Udara Jadi Faktor Kunci Inflasi Papua Barat dan Papua Barat Daya
Hans Arnold Kapisa September 03, 2026 12:44 PM

 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI – Papua Barat mengalami deflasi cukup dalam sebesar 1,19 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Agustus 2026.

Penurunan harga terutama dipengaruhi kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil deflasi 0,97 persen.

Sejumlah komoditas yang menekan harga antara lain ikan tuna, angkutan udara, tomat, cabai rawit, dan bensin.

Kepala BPS Papua Barat, Merry, menyampaikan perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) tersebut dalam pemaparan data di Manokwari, Kamis (3/9/2026).

“Di Papua Barat, IHK pada Agustus 2026 berada di angka 113,13,” ujarnya.

Baca juga: SE2026 Papua Barat Capai 30 Persen, BPS Targetkan Pendataan Rampung Akhir Agustus

Meski deflasi bulanan terjadi, Papua Barat masih mencatat inflasi tahunan sebesar 5,27 persen (year-on-year/yoy), lebih rendah dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 5,47 persen.

Inflasi tahun kalender hingga Agustus tercatat 2,16 persen.

Secara tahunan, tekanan inflasi Papua Barat cukup tinggi, terutama dari kelompok transportasi dengan andil 2,25 persen.

Angkutan udara menjadi komoditas yang memberikan tekanan besar, disusul bensin, beras, emas perhiasan, dan sigaret kretek mesin.

“Angkutan udara perlu diperhatikan karena memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan inflasi, terutama ketika permintaan meningkat menjelang hari besar keagamaan,” kata Merry.

Sementara itu, kondisi berbeda terjadi di Papua Barat Daya.

Baca juga: Inflasi Papua Barat April 2026 Naik, Manokwari Tertinggi

Provinsi ini mencatat inflasi bulanan sebesar 0,10 persen dengan IHK 110,91.

Inflasi tahunan mencapai 3,50 persen, sedangkan inflasi tahun kalender 3,06 persen.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan Papua Barat Daya dengan andil 1,22 persen, disusul transportasi 0,86 persen, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,48 persen.

Komoditas pendorong inflasi antara lain angkutan udara, minyak goreng, ikan tuna, bahan bakar rumah tangga, dan daging ayam ras.

Adapun bawang merah, tomat, bawang putih, cabai rawit, dan bumbu masak menahan laju inflasi.

Pergerakan harga di tiga wilayah penghitungan IHK Papua Barat Daya juga bervariasi.

Baca juga: Ikan Segar dan Tarif Listrik Jadi Pemicu Utama Inflasi Januari 2026 di Papua Barat-PBD 

Kota Sorong mencatat inflasi bulanan 0,15 persen dengan inflasi tahunan 4,08 persen.

Kabupaten Sorong mengalami inflasi bulanan 0,04 persen dan inflasi tahunan 2,35 persen.

Sementara Kabupaten Sorong Selatan justru deflasi bulanan 0,34 persen, meski secara tahunan masih inflasi 1,51 persen.

Perbedaan ini menunjukkan kondisi inflasi yang tidak seragam di Tanah Papua.

Papua Barat mencatat deflasi 1,19 persen secara bulanan, sedangkan Papua Barat Daya mengalami inflasi 0,10 persen.

Namun secara tahunan, keduanya tetap mencatat inflasi, masing-masing 5,27 persen di Papua Barat dan 3,50 persen di Papua Barat Daya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.