Inflasi Surabaya Tertinggi Kedua di Jatim, Pemkot Andalkan Ketahanan Pangan
Wiwit Purwanto September 03, 2026 07:32 PM

 

SURYA.CO.ID SURABAYA - Inflasi Kota Surabaya pada Agustus 2026 mencapai 3,62 persen secara year on year (y-on-y), menjadi yang tertinggi kedua di Jawa Timur setelah Kabupaten Sumenep yang mencatat 3,99 persen.

Kenaikan harga terasa di berbagai kebutuhan masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Surabaya secara month to month (m-to-m) tercatat 0,09 persen, sedangkan secara year to date (y-to-d) mencapai 2,04 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya Dr. Arrief Chandra Setiawan mengatakan, inflasi y-on-y terjadi akibat kenaikan harga pada 10 kelompok pengeluaran, sementara satu kelompok mengalami deflasi.

Sejumlah kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi antara lain makanan, minuman dan tembakau sebesar 5,11 persen, transportasi 6,01 persen, kesehatan 3 persen, pendidikan 1,29 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 9,93 persen.

Baca juga: Peternak Ayam Petelur di Malang Keluhkan Harga Pakan Naik, Untung Makin Tipis

Dari sisi komoditas, beberapa penyumbang inflasi y-on-y antara lain emas perhiasan, angkutan udara, daging ayam ras, bensin, daging sapi, minyak goreng, cabai rawit, beras, hingga nasi dengan lauk.

Pemkot Surabaya Fokus Jaga Harga Pangan

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Kota Surabaya Vykka Anggradevi Kusuma menilai kondisi inflasi Surabaya masih dalam batas terkendali.

Terlebih, inflasi year to date Surabaya pada Juli sebelumnya berada di angka 0,09 dan masih berada dalam rentang sasaran yang dipantau pemerintah.

Menurut Vykka, pengendalian harga pangan menjadi salah satu fokus Pemkot Surabaya. Upaya itu dilakukan melalui intervensi distribusi dan subsidi, antara lain dengan menggelar pasar murah serta memperkuat ketersediaan pangan dari tingkat kelompok tani (Poktan).

Salah satu upaya tersebut terlihat dari penjualan hasil budidaya lele oleh kelompok tani. Harga lele di pasaran dapat mencapai Rp26 ribu-Rp27 ribu per kilogram, sedangkan melalui Poktan warga bisa mendapatkannya dengan harga sekitar Rp22 ribu per kilogram.

Baca juga: Kopi Jawa Timur Dibidik Pasar Belanda, 30 Pelaku Usaha Jajaki Kerja Sama Ekspor

Menurut Vykka, selisih harga tersebut cukup signifikan bagi masyarakat, terutama warga yang memiliki keterbatasan daya beli. Manfaatnya juga tidak hanya dirasakan warga yang berbelanja, tetapi turut membantu pelaku usaha kecil.

Pemkot Surabaya terus mendorong produksi pangan lokal melalui Poktan. Selain ikan, warga didorong menanam cabai serta memproduksi telur dan berbagai sayuran secara mandiri.

"Jadi tidak hanya kita secara distribusi membantu dengan subsidi, tapi juga ketersediaan pangan. Ketersediaan pangan ini tidak hanya dengan Bulog, tetapi juga dari Poktan," katanya.

Strategi tersebut diharapkan menjadi bantalan ketika harga komoditas pangan di pasar meningkat. Dengan memperkuat produksi masyarakat, pasokan diharapkan lebih terjaga sekaligus menyediakan alternatif harga yang lebih terjangkau.

Kenaikan Pendidikan Lebih Banyak dari Perguruan Tinggi

Untuk sektor pendidikan, Vykka menyebut kenaikan biaya yang tercatat dalam indikator inflasi lebih banyak berasal dari perguruan tinggi.

Sementara itu, untuk jenjang SD dan SMP yang menjadi kewenangan Pemkot Surabaya, kondisinya dinilai masih aman.

Pemerintah Kota Surabaya terus berupaya menjaga inflasi dengan melibatkan berbagai pihak. Pengendalian harga dan penguatan ketersediaan pangan menjadi bagian dari strategi tersebut.

"Prinsipnya kami terus berupaya untuk menjaga inflasi dengan melibatkan seluruh stakeholder. Sejauh ini, inflasi di Surabaya masih cukup terkendali," tegasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.