Peternak Ayam Petelur di Malang Keluhkan Harga Pakan Naik, Untung Makin Tipis
Pipit Maulidya September 03, 2026 07:32 PM

 

SURYA.co.id, MALANG - Peternak ayam petelur di Kabupaten Malang, Jawa Timur, mengeluhkan tingginya harga pakan yang membuat keuntungan semakin tipis.

Kondisi tersebut dirasakan Wagiman, peternak ayam petelur skala rumahan di Desa Mangunrejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.

Wagiman yang memiliki sekitar 2.800 ekor ayam petelur mengatakan, harga telur saat ini memang sudah lebih baik dibandingkan dua hingga tiga bulan sebelumnya.

Namun, harga tersebut masih belum mencapai angka ideal bagi peternak. Saat ini, ia menjual telur dengan harga Rp21.000 per kilogram kepada sejumlah toko kelontong, toko kue, dan kafe.

"Saya setornya ke toko kelontong, toko kue, cafe juga ada itu seharga Rp 21.000 per kilogram. Idealnya ya Rp 23.000 sampai Rp 24.000 itu baru bisa dapat untung," kata Wagiman ketika dikonfirmasi.

Sebelumnya, harga telur bahkan sempat berada di kisaran Rp17.000 hingga Rp18.000 per kilogram.

Kenaikan harga telur tersebut belum mampu membuat Wagiman mendapatkan keuntungan. Pasalnya, biaya produksi ikut meningkat seiring melonjaknya harga pakan ayam.

Baca juga: Peternak Blitar Kirim 8,7 Ton Telur untuk Korban Gempa NTT, BPBD Jatim Fasilitasi Pengiriman

Harga Pakan Ayam Naik Rp72.000 per Sak

Dalam beberapa bulan terakhir, harga pakan ayam mengalami kenaikan secara bertahap.

Pakan dengan berat 50 kilogram yang sebelumnya dibanderol Rp380.000 per sak, kini mencapai Rp452.000 per sak.

"Sebelumnya harga telur itu stabil, tapi sekarang terus naik sampai Rp452.000 per sak. Itu saya pakai yang bagus," jelasnya.

Kenaikan tersebut membuat selisih antara harga jual telur dan biaya produksi semakin sempit. Bagi peternak skala kecil seperti Wagiman, kondisi ini membuat usaha peternakan sulit menghasilkan keuntungan.

Agar produksi tetap berjalan, ia bahkan terpaksa menggunakan uang tabungan untuk menutup kebutuhan biaya produksi.

Wagiman telah menjalankan usaha peternakan ayam petelur selama sekitar 15 tahun. Kondisi serupa sebelumnya pernah ia alami ketika pandemi Covid-19.

Saat itu, tekanan biaya produksi membuatnya harus menjual tanah untuk mempertahankan usaha peternakannya.

"Bisa dibilang nggak ada untung, yang ada ya kita cuma kerja bakti aja. Tapi ya kita tetap bertahap, dan suatu hari berharap harganya bisa kembali normal," sambungnya.

Cari Pasar Baru hingga Pasok Dapur MBG

Meski keuntungan belum dirasakan, Wagiman memilih tetap mempertahankan usahanya. Ia aktif mencari pasar agar telur hasil produksinya dapat terserap.

Selain toko kelontong dan toko kue, telur produksinya juga dipasarkan ke sejumlah kafe.

Wagiman juga mencoba memperluas pasar dengan mengajukan kerja sama memasok telur ke dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di desanya.

Jika kerja sama tersebut terealisasi, ia mengaku siap memasok sekitar 200 kilogram telur setiap minggu.

Langkah tersebut menjadi salah satu upaya Wagiman untuk menjaga keberlangsungan usaha di tengah tingginya biaya pakan ayam.

Di sisi lain, ia tetap berhati-hati dalam menentukan harga jual. Wagiman tidak berani menaikkan harga terlalu tinggi karena khawatir produknya kalah bersaing dengan telur dari peternak lain.

Terlebih, menurut dia, telur dari peternak besar, termasuk dari Blitar, kini banyak masuk ke wilayah Kabupaten Malang.

"Biasanya dari Blitar jual telur murah karena stok banyak permintaan sepi, akhirnya jual murah aja. Tapi itu kan merusak harga," pungkasnya.

Kondisi tersebut menunjukkan persoalan yang dihadapi peternak ayam petelur tidak hanya berkaitan dengan harga telur, tetapi juga biaya produksi dan persaingan pasar.

Bagi peternak kecil, keseimbangan antara harga pakan, harga jual telur, dan serapan pasar menjadi faktor penting agar usaha tetap bertahan dan tidak sampai gulung tikar. (Lu'lu'ul Isnainiyah/SURYA.co.id)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.