SURYA.CO.ID BANYUWANGI - Kemacetan di jalur Situbondo-Banyuwangi menuju Pelabuhan Ketapang makin parah hingga membuat puluhan sopir truk besar menggelar aksi di pintu masuk pelabuhan setelah terjebak lebih dari 20 jam pada Kamis sore. Mereka menuntut solusi atas kemacetan.
Wajah lelah terlihat dari para sopir yang berkumpul di pintu masuk pelabuhan sejak sekitar pukul 16.00 WIB. Mereka meninggalkan truk yang masih terjebak antrean dan memilih duduk di depan jalan, sementara akses masuk pelabuhan ditutup portal.
Wiratno, sopir truk yang membawa muatan snack, mengaku terjebak kemacetan sejak Rabu (3/9/2026) pukul 19.00 WIB. Hingga Kamis sore, truk tronton yang dikemudikannya belum juga masuk penampungan.
"Sekarang belum masuk penampungan. Masih di jalan," kata Wiratno, yang juga ikut aksi bersama rekan-rekan sesama sopir.
Baca juga: Macet ke Pelabuhan Ketapang Banyuwangi Mengular 12 Km, ASDP Kerahkan 25 Kapal
Wiratno berangkat dari Solo, Jawa Tengah, dengan tujuan Singaraja, Bali. Sepekan sekali ia melakukan perjalanan untuk mengirim barang. Dalam kondisi normal, perjalanan tersebut biasanya rampung dalam dua hari.
"Kalau sekarang macet begini, ya bisa lebih lama lagi," tutur dia.
Kemacetan panjang itu tak hanya membuat waktu tempuh bertambah, tetapi juga meningkatkan ongkos perjalanan. Wiratno mengaku mendapat bekal Rp 4 juta untuk perjalanan pulang-pergi.
Biasanya, ia masih bisa menyisihkan Rp 1 juta bersih sebagai pendapatan untuk keluarga. Kini, dengan kondisi kemacetan seperti itu, penghasilannya terancam berkurang.
"Kalau sekarang, dapat Rp 800 ribu saja sudah bagus," katanya.
Bagi para sopir, kemacetan juga berarti lebih banyak waktu yang harus dihabiskan di jalan. Banyak di antara mereka yang kurang tidur karena harus menginap di jalan raya.
Baca juga: Aturan Baru ASDP Diberlakukan di Ketapang-Gilimanuk, Keselamatan Jadi Prioritas Utama
Kekhawatiran serupa dirasakan Didik, sopir lain yang ikut dalam aksi. Ia membawa wortel seberat 20 ton dari Medan untuk dikirim ke salah satu pasar di Denpasar, Bali.
Muatan tersebut menggunakan kabin pendingin khusus agar wortel lebih awet. Namun, daya tahan maksimalnya hanya 10 hari, sementara perjalanan yang ditempuh Didik kini sudah memasuki hari keenam.
"Sekarang perjalanan hari keenam. Mudah-mudahan tidak telat. Ini saja pasti dimaki-maki karena telat," katanya.
Di tengah antrean panjang, para sopir berharap ada solusi agar mereka tidak terlalu lama terjebak kemacetan. Mereka juga menyoroti kendaraan truk diesel lain yang ngeblong saat kemacetan berlangsung.
Bagi mereka, kondisi tersebut menambah rasa kesal karena para sopir truk sama-sama menghadapi antrean panjang dan harus menanggung dampak kemacetan.
"Kalau bisa yang adil. Truk kena macet, yang lain jangan asal ngeblong. Kalau bus atau kendaraan pribadi tidak apa-apa, tapi kalau kendaraan muatan lainnya, ayolah bareng-bareng," kata mereka.